Berita kedatangannya ke Kalbar sudah aku terima sejak aku berangkat ke Ketapang. Pria yang memilih tinggal di Canberra, ibukota Australia ini sudah mengirim pesan sejak ia masih di bumi kangaroo itu.
Aria Jalil. Begitu ia biasa dipanggil. Sosok kebapakan yang merintis hidup dari seorang tukang susu hingga menjadi atase kebudayaan RI di Australia ini memberi banyak pencerahan dan inspirasi. Dalam usia 68 tahun semangatnya bak pemuda usia 20-an.
Aku bertemu Aria saat merayakan Idul Fitri di Kedubes RI di Canberra, ia pula yang mempertemukan aku dengan Ahdiyat Kartamihardja, novelis fenomenal yang mengobok-obok negara ini dengan novel berjudul 'Atheis'.
Dalam lobi dan rayuku waktu itu, Aria akhirnya bersedia menjadi 'freelancer' untuk Harian Borneo Tribune. Koran dari putra-putra daerah Kalbar yang di dalamnya terdapat orang-orang muda dengan semangat baja, dan ...rasa kasih sayang, persaudaraan, yang sulit dilupakan dan tiada duanya.
Atas permintaaan Aria, aku mengurus segala keperluannya untuk bertemu rekan-rekan pers dan mahasiswa yang bersedia berdiskusi dengannya. Kami pun menggelar diskusi di ruang redaksi Borneo Tribune Rabu (16/7) lalu.Semua redaktur Borneo Tribune hadir, Ada Bang Yusriadi, intelektual STAIN yang bergelar doktor dr Univ. kebangsaan Malaysia. Abang satu ini sudah banyak menulis buku.Pemikirannya bernas. Suatu saat aku ingin bisa secemerlang bang Yus.
Ada Bang Nur Iskandar juga tentunya, selaku moderator diskusi. Abang satu ini terkenal dengan sifat sederhana dan 'ngemong' terhadap wartawan. Abang yang selalu mau mendengar dan membantu orang lain.
Ada Bang Tanto Yakobus, yang selalu ceria dan membuat hal-hal sulit jadi terlihat mudah...prinsipny...santaaaaaii....hehehe..Ada Bang muhlis suhaeri. Abang yang selalu memberi pencerahan dan inspirasi. Enak buat curhat, easy going tapi serius. Ada Bang mering, yang asyik diajak ngobrol dan tertawa-tawa sambil timpuk-timpukan pakai buku. Pertemuan kembali dengan mereka menambah rasa 'kangen' teringat awal-awal kisah membangun borneo tribune.
Isi diskusi juga tak kalah bernas. Tak sedikit dosen dan mahasiswa yang beranimo terhadap acara ini. Aria bercerita banya, isi ceritanya...nanti kubagi-bagi deh ilmunya...yang jelas, aku amat terkesan dengan satu dari sekian banyak tulisan Aria yang dikirim ke emailku saat ia menjadi 'freelancer' dari Canberra. Soal filsafat Kodok Ngojay yang banyak jadi sifat orang Indonesia. Tangan menyembah ke atas, kaki menendang yang di bawah. Hehehehehe. Mudah2an kita gak sama yaaacchh...
Thursday, July 17, 2008
empat jam bersama Aria Jalil
Diposting oleh
Safitri Rayuni
di
6:48 AM
0
komentar
Label: media dan jurnalisme
Wednesday, June 18, 2008
Tentang Dekky,
.jpg)
Malam tadi aku bercinta dengan gelap dan sunyi. Kekosongan yang sejenak merambah jiwa. Meneteskan air mata luka. Haru tapi penuh makna. Jam menunjukkan pukul 01.30 WIB. Kokok ayam pertanda dini hari terdengar sayup-sayup ditingkahi gerimis. Aku baru saja pulang, masuk rumah dan menghempaskan pantat di empuknya pembaringan.
Aku melirik rokok di atas meja. Rokok LA putih milik Ronny, kekasih yang kini menjadi suamiku. Rokoknya tertinggal di meja dekat TV. Tergoda untuk mengisap walau hanya sebatang. Kuambil dan kutimang-timang dengan telunjuk dan jari tengah. Lalu kuletakkan lagi di meja. Tak ada korek api, pikirku. Aku membuka-buka laci, tak juga kutemukan. Lelah mencari membuatku malas dan tak jadi mencobanya.
Aku kembali memilih bercinta dengan gelap. Kupadamkan lampu kamar. Membakar lilin aroma terapi dan minyak esensial berbau lavender. Aku telungkup, terlentang, mendesah dan meregangkan kedua tangan di atas seprei motif abstrak ini. Seprei warna cream muda yang sering ketumpahan sperma usai bercinta. Aku mencoba menciptakan kantuk yang tak kunjung menyerang. Ah, jam tidurku sudah lewat tadi. Ke dapur lantas mengambil air hangat dan merendam kakiku di baskom. Masih di kamar yang gelap.
Pulang kerja tadi aku tak langsung pulang. Asyik melihat bagaimana rekan-rekan sesama wartawan yang memeragakan perangkat yang akan dibawa nanti ke daerah. Bagaimana mengirim berita, mengecilkan resolusi foto, menggunakan telkomsel flash, sampai bagaimana strategi kalau semua alat tak berfungsi.
Usai simulasi pun aku tak mau langsung pulang. Di luar hujan sedikit deras. Ngobrol sambil menunggu hujan reda membuat mata mengantuk. Aku juga batuk-batuk karena asap rokok memenuhi seluruh udara di ruangan. Lagi-lagi aku harus menjadi perokok pasif tanpa bisa menikmati bagaimana rasa nikmatnya orang merokok. Pikiran ini kadang menggodaku untuk mencoba mengisap rokok (ah jadi ingat becandanya kawan-kawan soal 'rokok')
Hujan reda, gerimis menjelma. Anak-anak mengajakku gabung nongkrong di warung kopi Gajah Mada. Ngopi bareng Deki, wartawan baru asal Yogya yang terpaksa tak lagi meneruskan karir di sini. Besok ia akan pulang. Tereksekusi hasil tes kesehatan yang membuatnya terpaksa memilih keluar setelah dua bulan mengikuti pendidikan. Tragis, nyeri dan memilukan. Menguras air mata semua yang mendengarnya.
Ayuklah, batinku. Sekali-kali ngopi di sana tak mengapa, walau aku sebenarnya kurang suka nongkrong di warung kopi karena penuh dengan asap rokok. Kami menembus gerimis. Ada enam motor meraung-raung malam itu. Aku, Agung, Hasyim, Daefvi, Danila, Bramasto, Dekky, dan Zamzami. Ririn, Galih dan Iin Sholihin yang rencananya menyusul terpaksa batal karena harus meliput razia Tipiring yang digelar Polda Kalbar. Ririn yang sedari tadi di kelas tak henti menangis hanya menelpon, bicara padaku dan dekky.
Di sana, ada Adi wartawan Trans TV, bersama wartawan TV lainnya, ada Sugeng Mulyono dan Hartono, wartawan kriminal Borneo Tribun, Heri Mustari, wartawan kriminal Equator, dan beberapa wajah yang tak aku kenal.
Kami makan apa saja. Bakwan, goreng pisang, tahu isi, kopi, teh, susu, mie rebus, sambil gojek-gojekan (meminjam istilah Agung). Suasana berbalut tawa itu masih tercekam keharuan di kelas, saat Mr Albert mengumumkan kepulangan Deki. Tapi kisah soal ekspresi idiot Dekky terus membuat kami senyum-senyum, sambil memintanya berpose dengan wajah idiot.
Aku tak bisa menghilangkan kesedihan. Aku menangis dalam hati dan dalam tawa. Hingga sampai di kamar ini, aku tak henti merenungi nasib Dekky. Apa yang terjadi pada kesehatannya. Begitu fatalkah hingga ia tak lagi bisa bergabung mengembangkan karir jurnalistiknya?
Rasa lelah dan jenuh memang sempat menghinggapinya. Juga kami dan lainnya. Tak heran satu dua orang sempat mau mundur karena ketatnya jadwal pelatihan. Begitu juga Dekky. Beberapa hari lalu, saat pengumuman tes kesehatan belum ia ketahui, ia sempat mau pulang kampung. "Tiket Lion Air bisa beli di mana sih Mbak?" tanyanya dengan maksud mencari tiket rute Pontianak-Yogya.
Waktu itu aku bertanya, "Kenapa, kamu sedang menimbang-nimbang untuk resign ya?" tanyaku. "Iya, aku masih menimbang-nimbang Mbak," jawabnya. Beberapa hari berselang setelah itu, aku tak lagi mendengarnya bertanya soal tiket. Sampai saat pengumuman eksekusinya.
Tragisnya, pagi hari sebelum pengumuman itu, Dekky mengubah niatnya. Ia ingin tetap stay dan berjuang bersama kawan-kawan untuk berkarir sebagai jurnalis. Tekadnya itu akan ia buktikan melalui tulisan-tulisannya. Namun tekad itu seketika kandas dalam hitungan jam. Tak ada yang membuat aku sedih sampai menitikkan air mata selain peristiwa itu. Wajahnya yang tabah dan pucat masih terbayang. Bahkan sampai saat aku meringkuk di kamar gelap ini juga hingga tulisan ini aku buat.
Jam 12.00 siang ini ia ke bandara Supadio Pontianak, diantar beberapa rekan, ada yang bermobil dan bermotor. Aku hanya melepas kepergiannya di kantor. Stick drum. Kado itu dipilih dan dibeli kawan Dekky sesama perantau dari Yogya, Agung, dengan uangnya sendiri sebagai kenang-kenangan untuk Dekky. Harganya sekitar Rp 80 ribu, stick drum merk Zildjian.
Drum kata Dekky sudah mendarahdaging dalam jiwanya. Dari menabuh drum ia bertahun-tahun menggantungkan hidup dan harapannya akan musik. Selamat jalan Dekky, semoga kita dipertemukan dalam kondisi yang berbeda, saat kesuksesan menyertaimu.
Diposting oleh
Safitri Rayuni
di
10:11 PM
2
komentar
Label: diary, media dan jurnalisme
Tuesday, June 17, 2008
Media dan gurita bisnis

PENTINGKAN segmentasi menengah atas, karena mereka adalah target market kita.
Kalimat ini seakan menjadi doktrin yang membuatku seketika pusing dan berkunang-kunang. Tiba-tiba ada yang menusuk di ulu hati yang membuat aku mual dan ingin mengeluarkan cairan dalam lambungku. Akhirnya aku ke WC dan muntah sungguhan.
Bukannya anti dengan konsep pemasaran, mau gak mau media sudah harus memikirkan bisnis yang juga nantinya akan mempengaruhi sejahtera or tidaknya ia. Berikut para karyawannya. Cuma, muak aja jika ada diskriminasi kelas dalam masyarakat. Masyarakat mana sih yang sebenarnya mau dilayani dan disuarakan?
Jika media sudah kurang peduli dan sensitif dengan orang-orang menengah bawah ini, ke mana lagi mereka hendak mengadu???Jika kritik terhadap berita tadi kemudian akan memunculkan sikap antipati wartawan untuk meliput berita bertema 'kelangkaan pupuk bersubsidi' misalnya, karena hanya akan jadi bagian kecil dalam halaman Bisnis, karena 'mainannya' hanya kalangan petani belaka, walau impact nya ya buat orang-orang kota juga yang susah makan beras (eh..nasi) kalau petani susah produksi. Uhhhh...betapa berdosanya si pencetus kritik tadi. Apalagi kalau wartawan yang mendengarnya menelan mentah-mentah begitu saja, tanpa mencerna apalagi kritis untuk menidakkannya. Lantas, ke mana lagi petani mengadu? sebab media adalah corong bagi wong cilik (pinjam bahasa penjajah) menyuarakan aspirasinya.
Diposting oleh
Safitri Rayuni
di
8:18 AM
2
komentar
Label: english version, media dan jurnalisme
Monday, January 14, 2008
Media Mengkritik Juga Harus Terbiasa Menerima Kritik
*Dari Diskusi Meliput Tambang dan Bisnis (2)
Safitri Rayuni
Borneo Tribune, Pontianak
Dialog mengalir deras di antara para jurnalis, aktivis lingkungan hidup, tokoh cerdik-cendikia maupun dua narasumber yang piawai di bidangnya: Andreas Harsono (Direktur Pantau Foundation) dan Thadeus Yus (Provintial Coordinator EC Indonesia FLEGT Support Project) di Kalbar.
Meeting room Gajahmada Hotel penuh sesak dengan antusiasme peserta. Pembicaraan meliputi lingkungan darat, laut, udara, serta peran utama manusia.
Wartawan Kompas, Wahyu mengatakan untuk mewujudkan pers yang baik, perlu membuka peluang untuk kritik, khususnya isu lingkungan. “Butuh pemetaan bersama persoalan lingkungan di Kalbar itu apa, misal kabut asap, PETI dan illegal logging, apa yang harus didorong oleh media. Perlu kerangka berpikir bersama mengenai pemberitaan LH di Kalbar,” kata Wahyu beruluk saran.
Peserta lainnya yang oleh moderator Nur Iskandar dicandai sebagai kandidat Walikota karena fotonya menghiasi deret kandidat di Pontianak Post, Zulfydar Zaedar Mochtar juga angkat bicara. Ia yang pernah maju di Pilkada Sambas sebagai Cawabup menilai, ada kontradiktif terhadap tren politik, sosial, hukum. “Lingkungan hidup dinilai isu yang kurang menarik. Saya menduga isu ini ada kontradiktif dengan kepala daerah. Artinya bisa saja kepala daerah terlibat pengrusakan LH. Lalu apa yang harus kita lakukan? Tentunya mesti ada gerakan bersama. Bisa lewat masyarakat adat, gerakan bahasa, karikatur, dan pengambil kebijakan,” katanya.
Aktivis WWF, Yuliantini, menceritakan pembuatan skripsi tentang valuasi ekonomi dan budaya yang mengambil studi sub DAS Sibau dan Mendalam di TNBK, di mana ada rencana untuk konversi sawit di lokasi tersebut ketika dia riset skripsi strata 1. “Masyarakat di sana memanfaatkan air untuk semua aktivitas, dan banyak sekali hal-hal yang kita hitung. Ternyata jika dikonversi hasilnya triliunan rupiah yang akan hilang,” katanya menyinggung harga sosial (social cost) yang harus diderita lingkungan pasca pengelolaan lingkungan hidup.
Bambang Bider, Koordinator Heart of Borneo WWF juga menimpali, lingkungan hidup menyentuh spektrum yang sangat luas. “Sering kita hanya melihat dari persoalan masalah saja, ketika terjadi kabut asap, kita memberitakan kabut asap, tetapi jurnalis kurang membicarakan spektrum yang lebih luas seperti pengalaman dunia luar. Seharusnya jika ingin menjadi wartawan LH tidak cukup hanya sebagai teknisi belaka, tetapi juga pemikir,” ungkap mantan wartawan The Jakarta Post ini.
Andreas Acui Simanjaya menilai basic pengetahuan tentang suatu permasalahan menjadi penting sebelum wartawan menulis suatu masalah. “Jika tidak, akibatnya karya akan kabur dan distrorsinya besar. Pandangan wartawan mengambil angle sangat penting,” ujarnya.
Muhlis Suhaeri dari Harian Borneo Tribune mengungkapkan ada suatu sistem di media yang banyak tidak diketahui publik. “Dalam berbagai pertemuan di Jogja, Bandung dan Jakarta, ada satu yang terpetakan dari permasalahan wartawan daerah dan nasional,” katanya. Ketika wartawan berada di media nasional yang besar, yang memang punya wartawan banyak, punya suatu standar peliputan dengan isu besar tidak akan mengalami kendala. Lain halnya media lokal yang dari segi pendanaan tidak terlalu besar.
Bekerja sama dengan suatu lembaga tentu akan mempengaruhi independensi, dan apakah media juga menyediakan ruang yang lebar untuk melepas wartawan intens melakukan liputan mendalam tanpa mengerjakan liputan lain. Ini disebutkannya sebagai sejumlah kendala kenapa tidak muncul suatu tulisan investigasi yang sebenarnya bisa digarap oleh suatu media.
Andreas Harsono soal masukan para jurnalis mengakui, 1995, ia bekerja untuk The Nation di Bangkok, koran dengan oplah 55 ribu eks per hari. “The Nation juga memiliki keterbatasan dana. Uangnya juga terbatas. Saya tidak mungkin bisa meliput dari Sabang sampai Merauke. Itu pasti sangat berat. Namun redaktur saya mengatakan, di dunia ada tren ‘non profit reporting’. Artinya cukup banyak lembaga di negara maju, seperti Jepang, AS, dan Canada yang menjadi funding bagi wartawan yang mau memberikan bantuan,” katanya.
Muhammad Hairul Anwar, dari Bapedalda Pontianak mengungkapkan sedianya pemerintah bisa memberikan award (penghargaan, red) kepada wartawan yang bersedia menulis dengan baik. Ide ini disambut aplaus. Namun menurut Andreas, akan lebih baik juga media memberi penghargaan kepada pemerintah atau pejabat yang peduli lingkungan hidup. “Berikanlah penghargaan semisal kepada pegawai yang berbuat baik tahun ini,” ujarnya bercanda. “Maksud berbuat baik karena demikian banyaknya ketidakbaikan yang dilakukan dalam sistem lingkungan hidup kita,” urainya.
Di penghujung diskusi, Andreas mengulas akan ada suatu media besar dari Kompas Gramedia Group, pesaing Jawa Pos Group yang akan segera masuk Pontianak. Katanya, sudah menjadi kebiasaan di berbagai provinsi kedua raksasa media ini bertempur hingga neck to neck.
“Setiap perkembangan media selalu mendapat kontribusi, kecintaan, iklan, langganan dari masyarakat, karena media tersebut adalah milik publik. Media mana yang dicintai publik ia akan langgung.”
Andreas kadang merasa jengkel bila pemilik media sok-sokan dengan menafikan kritik untuk dirinya. Padahal kerja media adalah mengkritik. “Sebenarnya media adalah milik publik, dan publiklah yang membesarkan mereka. Anda sah untuk mengkritik media. Saya mohon wartawan itu dikritik, karena wartawan juga manusia. Jangan media saja mengkritik, tapi ketika orang media bermasalah lalu bebas dari kritik. Itu namanya munafik,” tandasnya.
Ia mencontohkan sebuah media di AS yang menurunkan 33 halaman untuk memberitakan CEO-nya yang tidak beres. Setelah laporan independen itu turun, sang CEO pun mundur. “Ini contoh media yang independen dan benar-benar milik publik,” ungkap Andreas seraya menimpali di Indonesia belum ada media yang seperti ini. □
Diposting oleh
Safitri Rayuni
di
7:20 AM
0
komentar
Label: media dan jurnalisme
Tuesday, January 8, 2008
Jurnalisme Bermutu Penggugah Kesadaran Pentingnya LH

*Dari Diskusi Meliput Tambang dan Bisnis
Safitri Rayuni
Borneo Tribune, Pontianak
Isu pemanasan global, deforestasi, social forestry dan disaster bukan hanya persoalan di tingkat elit. Demikian menurut Tadheus Yus, Provintial Coordinator EC Indonesia, membuka pembicaraan pada diskusi Meliput Tambang dan Bisnis, Senin (7/1) kemarin.
“Insan pers menjadi pilar untuk membuka kesadaran publik tentang pentingnya pelestarian lingkungan. Menggugah kesadaran tentang tanggung jawab dalam diri masyarakat, sehingga kritis terhadap persoalan serius dari kerusakan LH yang mengancam mereka,” ungkapnya.
Diskusi yang dirangkai dengan launching buku ‘Covering Oil’ terbitan Yayasan Pantau ini dihadiri puluhan insan pers. Selain Tadheus Yus, menjadi panelis, Andreas Harsono, Direktur Pantau Foundation, dimoderatori Nur Iskandar, Pimred Borneo Tribune.
Tampak hadir diantaranya Kepala Bapedalda Kalbar, Try Budiarto bersama tiga stafnya, Bapedalda Kota Pontianak Muhammad Hairul Anwar, Kepala Kantor Berita Antara Pontianak, Nurul Hayat, Wartawan Kompas Wahyu, Aseanty Pahlevi dan Mella Dani Sari dari Pontianak Post, Kusmalina dari Kapuas Post, aktivis pers kampus Mimbar Untan, Ketua LPS AIR Deman Huri Gustira, Direktur WWF Kalbar Hermayani Putra, dan koordinator Heart of Borneo WWF, Bambang Bider, serta Bacilius Hendy Chandra dari WALHI.
Tampak pula wartawan senior HA Halim Ramli, mantan anggota DPRD Kalbar Andreas Acui Simanjaya, Pemimpin Radio Divasi Zulfydar Zaedar Mochtar dan puluhan peserta lainnya.
Terkait isu lingkungan hidup dan ekonomi, Andreas Harsono memaparkan cerita tersendiri. Tepatnya dua bulan lalu ia bertemu seorang konsultan bisnis yang tinggal di Singapura. Mereka makan siang bersama. Konsultan ini sedang membantu pemerintah Jakarta menjual dua atau tiga BUMN. Si konsultan menolak menyebut BUMN mana saja yang mau dijual tersebut
Namun, si konsultan sebagian besar wilayah target investasi penawarannya berada di Pulau Jawa. “Saya tanya kalau investasi di Pontianak bagaimana?” kata Andreas. “Who wants to go there, tidak ada investor yang mau masuk ke sana, there are great fire and great violence in Pontianak,” jawab si konsultan.
“Cerita tadi mencerminkan apa yang terkait cerita kita hari ini, isu lingkungan hidup dan isu ekonomi,” terang Andreas. Andreas juga menyinggung wartawan ekonomi dan bisnis jarang menghitung green GDP (gross domestic product yang menghitung kerusakan lingkungan). “Buku ini hanya tambahan bacaan kecil bagi wartawan bisnis maupun aktivis LH dan mahasiswa,” ujar Andreas.
Yang menarik satu segmen dari buku ini lanjut Andreas, yakni seorang peraih nobel ekonomi Joseph Stiglitz yang mengeluarkan ungkapan membingungkan para ekonom. Mereka menyebutnya sebagai ‘kutukan minyak atau kutukan sumber daya alam’, di mana negara yang memiliki tambang minyak selama 40 tahun terakhir, bukannya bertambah kaya namun semakin miskin.
Terjadi gap yang semakin tinggi. Dimisalkan Nigeria, penghasil minyak di tahun 1973, pendapatan perkapitanya 302 USD, di tahun 2002 atau 30 tahun kemudian, turun menjadi 254 USD. Contoh lain, Saudi Arabia. Penghasil minyak terbesar tahun 1981 ini memiliki income per kapita 28.600 USD/kapita. Enam tahun lalu turun jadi 2.800 USD per kapita.
Mengapa? Menurut buku ini ada 4 hal yang mempengaruhi, yaitu ketidakstabilan harga sumberdaya alam, minyak, berlian dan sebagainya. Jika harga minyak tidak stabil, terjadi ketidakdisiplinan terhadap anggaran negara dan sering diubah-ubah.
“Ada suatu penyakit yang disebut Dutch Disease (penyakit Belanda), di mana mata uang lokal nilai tukarnya makin hari turun,” ujar Andreas seraya meyakini bahwa semakin bermutu jurnalisme, semakin bermutu pula informasi yang diperoleh warga. “Makin bermutu koran-koran makin bermutu keputusan yang diambil oleh masyarakat. Makin kacau mereka, makin besar apinya,” tukasnya.
Penyakit ketiga perlunya keahlian-keahlian khusus. Sedangkan penyakit yang keempat pengelolaan pajak. Keahlian khusus menyebabkan tenaga kerja banyak yang menganggur digantikan mesin, sedangkan pajak kecil, banyak kebocoran pula.
Hendy Chandra, dari WALHI Kalbar, pada forum ini mengamini hal tersebut. “Sesuai dengan konteks hak atas lingkungan hidup adalah hak asasi atas manusia, pers sebagai pilar perubahan merupakan sesuatu yang penting mempengaruhi warga,” katanya.
Ia menilai di Kalbar lebih didominasi fungsi ekonomi, ketimbang sosial dan ekologi dalam pengelolaan SDA. “Tren kerusakan LH di Kalbar yang amat patut disimak adalah tren konversi hutan untuk perkebunan monokultur, akibatnya bencana kabut asap, ada praktik illegal logging, PETI yang semakin hari semakin marak,” katanya.
Sementara Hermayani Putra, dari WWF menilai isu religiusitas, refleksi dari krisis teologi. Kesalehan individual seseorang, tidak terefleksikan dalam kesalehan lingkungan. “Para pelaku kejahatan LH adalah orang-orang yang rajin mendonasi kesejahteraan mereka terhadap lembaga keagamaan. Donasi pun diterima dengan tangan terbuka. Pesan untuk media, bagaimana mengkritisi praktik ini, sehingga publik tidak lagi terjebak pada pemerintahan yang manipulatif, oleh individu-individu yang dibesarkan pula oleh media,” katanya.
Point dari itu semua menurutnya adalah bagaimana membangun media, NGO, mahasiswa dan tokoh masyarakat untuk bersinergi, agar terbangun agenda politik terhadap masa depan Kalbar. “Saya berharap media-media yang mengklaim besar di Kalbar tidak mengintroduksi budaya kekerasan, karena sampai sekarang saya belum berlangganan media-media lokal khawatir bahasa dalam media tersebut terbawa ke rumah dan mempengaruhi anak-anak saya,” pungkasnya.
Deman Huri Gustira dari LPS AIR mengatakan, kita sepakat bahwa dalam membangun perubahan suatu daerah, media berperan penting. Di lain pihak media akan menghancurkan sebuah daerah ketika informasi yang disampaikan berbeda dari yang terjadi di lapangan.
“Bahwa sesungguhnya nilai secara positivisme, cover both side, global warming dan lain sebagainya sangat menyesatkan dan tidak sesuai fakta, hak-hak masyarakat sangat jarang diberitakan dan dimarginalisasikan sebagai sumber dokumen data dan sebagainya, ini berdampak pada keputusan pemerintah yang lagi tren,” ungkapnya.
Wartawan tiga zaman, HA Halim Ramli mendukung peningkatan mutu SDM wartawan. Untuk liputan lingkungan hidup katanya dibutuhkan integritas dan disiplin ilmu yang khusus. Upaya seperti diskusi liputan lingkungan hidup sangat membantu. “Para ahli juga perlu mengisi ruang opini yang disediakan setiap media,” sarannya untuk pakar mengisi kekurangan pengetahuan wartawan atas isu-isu lingkungan atau penulisan yang kurang mendalam.
Wartawan Kompas, Wahyu mengatakan untuk mewujudkan pers yang baik, perlu membuka peluang untuk kritik, khususnya isu lingkungan. “Butuh pemetaan bersama persoalan lingkungan di Kalbar itu apa, misal kabut asap, PETI dan illegal logging, apa yang harus didorong oleh media. Perlu kerangka berpikir bersama mengenai pemberitaan LH di Kalbar,” kata dia.
Zulfydar menilai, ada kontradiktif terhadap tren politik, sosial, hukum. Lingkungan hidup dinilai kurang menarik. “Saya menduga isu ini ada kontradiktif dengan kepala daerah. Apa yang harus kita lakukan? Membuka pikiran untuk berbeda. Ada gerakan bersama, bisa lewat masyarakat adat, gerakan bahasa, misal bahasa daerah yang menarik buat anak-anak, karikatur, dan pengambil kebijakan,” katanya.
Aktivis WWF, Yuliantini, menceritakan pembuatan skripsi tentang Valuasi Ekonomi dan Budaya yang mengambil studi sub DAS Sibau dan Mendalam di TNBK, di mana ada rencana untuk konversi sawit di lokasi tersebut. “Masyarakat di sana memanfaatkan air untuk semua aktivitas, dan banyak sekali hal-hal yang kita hitung. Ternyata jika dikonversi maka triliunan yang akan hilang,” katanya menyinggung social cost yang harus diderita pasca pengelolaan lingkungan hidup.
Bambang Bider, Koordinator Heart of Borneo WWF juga menimpali. Menurutnya lingkungan hidup menyentuh spektrum yang sangat luas. “Sering kita hanya melihat dari persoalan masalah saja, ketika terjadi kabut asap, kita memberitakan kabut asap, tetapi ketika akan membicarakan spektrum yang lebih luas seperti pengalaman dunia luar, jika ingin menjadi wartawan LH tidak cukup teknisi tetapi juga pemikir,” ungkap mantan wartawan The Jakarta Post ini.
Andreas Acui Simanjaya menilai basic pengetahuan tentang suatu permasalahan menjadi penting sebelum wartawan menulis suatu masalah. “Jika tidak akibatnya kabur dan distrorsinya besar. Pandangan wartawan mengambil angle sangat penting,” ujarnya.
Muhlis Suhaeri dari Harian Borneo Tribune mengungkapkan ada suatu sistem di media sendiri yang banyak tidak diketahui publik. “Dalam berbagai pertemuan di Jogja, Bandung dan Jakarta, ada satu yang terpetakan dari permasalahan wartawan daerah dan nasional,” katanya. Ketika wartawan berada di media nasional yang besar, yang memang punya wartawan banyak, punya suatu standar peliputan dengan isu besar tidak akan mengalami kendala. Lain halnya media lokal yang dari segi pendanaan tidak terlalu besar.
Bekerja sama dengan suatu lembaga tentu akan mempengaruhi independensi, dan apakah media juga menyediakan ruang yang lebar untuk melepas wartawan intens melakukan liputan mendalam tanpa mengerjakan liputan lain. Ini disebutkannya sebagai sejumlah kendala kenapa tidak muncul suatu tulisan investigasi yang sebenarnya bisa digarap oleh suatu media.
Dijawab Andreas, pada tahun 1995, ia yang bekerja untuk The Nation di Bangkok, koran dengan oplah 55 ribu eks per hari, juga memiliki keterbatasan dana. “Uangnya juga terbatas, tidak mungkin saya meliput dari Sabang sampai Merauke. Sangat berat. Namun redaktur saya mengatakan, di dunia ada tren ‘non profit reporting’. Artinya cukup banyak lembaga di negara maju, seperti Jepang, AS, dan Canada yang menjadi funding bagi wartawan yang mau memberikan bantuan,” katanya.
Muhammad Hairul Anwar, dari Bapedalda Pontianak mengungkapkan sedianya pemerintah bisa memberikan award (penghargaan, red) kepada wartawan yang bersedia menulis dengan baik. Ide ini disambut aplaus. Namun menurut Andreas, akan lebih baik juga media memberi penghargaan kepada pemerintah atau pejabat yang peduli lingkungan hidup.
Di penghujung diskusi, Andreas mengulas akan ada suatu media besar dari Kompas Gramedia Group, pesaing Jawa Pos Group yang akan segera masuk Pontianak.
Setiap perkembangan media selalu mendapat kontribusi, kecintaan, iklan, langganan dari masyarakat, karena media tersebut adalah milik publik. “Sehingga kadang merasa jengkel bila pemilik media sok-sokan. Karena sebenarnya media adalah milik publik, dan publiklah yang membesarkan mereka. Anda sah untuk mengkritik media. Saya mohon wartawan itu dikritik, karena wartawan juga manusia,” tandasnya. □
Diposting oleh
Safitri Rayuni
di
12:07 AM
2
komentar
Label: lingkungan, media dan jurnalisme
Thursday, September 20, 2007
Professional Visits para ALA Fellow di Australia-5
Radio SBS, Dua Jurnalis Kuasai 15 Bahasa
Safitri Rayuni
Borneo Tribune, Melbourne
Setelah melakukan workshop Personal Development selama satu minggu di Kota Sunburry, para Australian Leaderships Awards (ALA) Fellow untuk Economic Reporting Affairs kembali ke apartemen Quest di Lygon Street, Carlton, Melbourne. Selama dua minggu di Carlton, Asia Pasific Journalism Centre (APJC) menyediakan satu minggu (17-22 September) untuk program professional visits ke berbagai lembaga.
Studio radio dan TV Internasional Special Broadcasting Service (SBS) di Melbourne Victoria yang kami kunjungi ini besarnya sama dengan SBS di Sydney. Gedung dengan empat lantai ini memiliki enam studio. Tak jauh dari SBS, terdapat gedung radio dan TV ABC Australia, yang juga akan kami kunjungi.
Pertama tiba di halaman gedung, monitor besar di dinding yang tinggi akan menyambut kita di gedung ini. Banyak warga Melbourne menghabiskan sore hari di halaman gedung yang terbuka untuk publik ini, mereka duduk untuk menyaksikan tayangan di monitor atau hanya sekadar mengobrol atau bertemu teman dan lainnya.
Di lantai 2, kami diajak masuk ke studio 6 dan melihat bagaimana berita diakses dari berbagai penjuru dunia. Bagaimana berita itu diedit untuk langsung disiarkan dan sebagainya, termasuk bagaimana menggunakan perangkat-perangkat canggih di sana.
“Kampanye informasi, direkam di computer, retail advertising, 34 simultan instrument,” kata seorang teknisi. SBS menghabiskan 250 dollar AUD untuk membeli satu kaset perekam yang besar setiap harinya. “Dengan kualitas kaset yang berbeda dan suara yang jernih, itulah keunggulan SBS disbanding yang lainnya,” katanya.
Ada 6 frekuensi analog saat ini, dan jika dibagi legi di 10 tempat maka dikhawatirkan dapat menurunkan kualitas atau mutu siaran SBS, “Karena itu saat ini SBS sedang ada eksperimen untuk memperbaiki hal tersebut,” ujarnya.
Siaran radio dan TV SBS disiarkan dalam 68 bahasa. Lazimnya setiap dua jurnalis harus menguasai 15 bahasa. Pertanyaannya, bagaimana SBS menemukan orang dengan talenta seperti ini?
Bella Kusumah Kasim, Executive Producer untuk Program Bahasa Indonesia mengatakan kebanyakan para jurnalis itu datang sendiri ke SBS untuk bekerja di sana. Setiap jurnalis dibayar berdasarkan kemampuan reportase dan bahasa yang ia kuasai. “SBS juga memiliki banyak koresponden di berbagai negara,” katanya.
SBS menyiarkan berbagai berita, termasuk dua berita yang dianggap terpenting di Australia, yakni Sport dan Bisnis. “Hampir semua warga Ausi tertarik dengan olah raga dan bisnis,” kata Bela. Usia SBS saat ini dikatakannya sudah memasuki 30 tahun, dan dari riset yang dilakukan SBS, sebanyak 23 persen dari penduduk Australia mempercayakan SBS sebagai saluran berita mereka.
Dalam peringatan 30 tahun radio SBS belum lama ini, Perdana Menteri John Howard mengatakan SBS sangat berperan dalam mempromosikan Australia di mata dunia. “Australia memiliki banyak keunikan yang ingin diketahui dunia internasional, sebagai seorang Australia, kita juga telah berkomitmen untuk selalu mengedepankan toleransi, kejujuran, dan kebanggaan terhadap tradisi demokrasi kita,” katanya.
Pemimpin SBS, Carla Zampatti mengatakan, kurun waktu 30 tahun adalah waktu yang tidak singkat untuk mengembangkan sebuah organisasi. “Kita sudah semestinya bangga terhadap kontribusi yang diberikan SBS radio untuk kebangsaan Australia dalam mewujudkan persatuan dalam berbagai perbedaan yang ada,” katanya.
Sebagai orang Indonesia yang lama hidup di Australia, Bela Kusumah mengaku sudah 20 tahun bekerja untuk SBS. Mulai menjadi koresponden untuk SBS di Indonesia, ia merintis karir hingga dipanggil ke SBS Melbourne. Pria perpaduan Sunda dan Batak ini mengaku betah bekerja di SBS karena terdiri dari banyak kebudayaan. “Sangat menarik di sini adalah iklim kerja yang multi kultur,” katanya memperkenalkan sejumlah rekan dari Indonesia, Jerman dan Portugal.
Dari Indonesia ada Sri Dean, yang bertugas mengedit dan menyiarkan berita dalam bahasa Indonesia. Sri dan Bela sangat ramah. Mereka berjanji menelpon kami yang dari Indonesia untuk berbuka puasa dan berlebaran bersama dengannya. Sayangnya saat lebaran nanti mungkin kami sudah berada di Sydney. □
Diposting oleh
Safitri Rayuni
di
2:46 AM
2
komentar
Label: media dan jurnalisme
Professional Visits para ALA Fellow di Australia-3
The Age Serius Mengelola Media Online
Safitri Rayuni
Borneo Tribune, Melbourne
Setelah melakukan workshop Personal Development selama satu minggu di Kota Sunburry, para Australian Leaderships Awards (ALA) Fellow untuk Economic Reporting Affairs kembali ke apartemen Quest di Lygon Street, Carlton, Melbourne. Selama dua minggu di Carlton, Asia Pasific Journalism Centre (APJC) menyediakan satu minggu (17-22 September) untuk program professional visits ke berbagai lembaga.
Dalam kunjungan ke The Age, kami tidak hanya menyaksikan rapat perencanaan mereka, namun mengintip dapur media online milik harian yang berdiri sejak 1854 ini. Simon Johanson, editor The Age Online, bersedia membagi ceritanya dengan kami.
Secara manajemen, The Age adalah koran yang memiliki satu induk perusahaan dengan The Sydney Morning Herald.
Redaktur Pelaksana The Age mengatakan ibarat tenda yang talinya satu, seperti itulah dulu The Age. Tidak begitu kuat. “Tetapi kini tenda The Age telah memiliki dua tali, orang bisa mengakses berita The Age di mana-mana di seluruh penjuru Australia, terlebih setelah The Age menerbitkan edisi online,” katanya.
Pengelolaan media online atau media internet digarap seserius mungkin seperti edisi cetak. “Kami tidak pernah mau membeli stasiun TV, sebab saat ini kemudahan mengakses berita menjelma via internet. Sehingga lebih baik masuk ke dunia internet daripada stasiun TV,” katanya.
Meski diakses gratis oleh para netter, media online bukannya tidak menjanjikan. Pendapatan iklan dari media online ini menurut Simon Johanson, terbilang cukup besar. “Sesuatu yang sifatnya gratis seperti ini tidak selalu membahayakan organisasi, media online buktinya,” kata Simon.
Media online The Age memiliki 26 jurnalis. “Yang paling penting untuk online adalah breaking news, karena respon pembaca sangat cepat. Mereka akan langsung klik dan bisa memberikan feedback tentang berita apa dan macam apa yang mereka mau via online,” terang Simon.
Karena itu, hubungan antara para editor dan wartawan online dengan para pembaca medianya sangat erat. Interaksi dilakukan sangat cepat. Saat ini The Age Online memiliki 400 ribu audiens tetap perhari. Angka rata-rata adalah 4,6 juta audiens perbulan se-Australia. “Pembaca tetap The Age Online sama dengan seperempat jumlah penduduk di Victoria,” katanya.
Pemberitaan di media online dibuat agak berbeda dari edisi cetak The Age. Media online cenderung membuat berita-berita pendek dan up to date. Wartawan biasanya mengirim berita tidak dari kantor, bisa melalui telpon, sms atau email dari tempat lain. “Web The Age diperbarui sebanyak 6 kali di pagi hari dan 6 kali di sore hari,” ujarnya.
Setiap hari, para editor dan wartawan mulai bekerja pada pukul 07.00 pagi, dan selesai pada pukul 07.00 malam. Situs The Age dapat diakses di http://www.theage.com.au/. Meja kerja para editor online berada di tengah-tengah ruangan redaksi The Age. Di sekelilingnya ada meja kerja kru redaksi ekonomi, sport, seni, pendidikan dan lainnya. Kami juga diajak masuk ke studio di mana gambar dan suara diedit untuk ditayangkan sebagai sajian audio visual via internet.
Studio ini terpisah satu lantai dari kru redaksi dan hanya ditangani satu orang ahli, yang juga merangkap sebagai pengisi suara atau komentator terhadap suatu peristiwa pada rekaman video tersebut. Benar-benar seorang yang multi talented.
Suasana kerja di studio ini dibuat sedemikian santai. Poster-poster dan foto kreatif ditempel sebagai ilustrasi menarik untuk dilihat. Di dalamnya juga ada tempat tidur, meja makan, kamar mandi dan alat fitness. “Beberapa kawan suka menumpang gym di sini kalau sudah terlalu penat,” katanya.
Sebagai seorang editor yang membawahi 26 jurnalis bersama beberapa asisten editor, diakui Simon tidak mudah.
“Diperlukan kesabaran yang luar biasa, bukan kepintaran manajemen saja, karena itu kami berusaha menciptakan suasana kerja yang enak dan santai, penuh kreatifitas, canda dan tidak terlalu serius,” katanya mengakhiri. □
Diposting oleh
Safitri Rayuni
di
2:31 AM
0
komentar
Label: media dan jurnalisme
Professional Visits para ALA Fellow di Australia-2
Menyaksikan Rapat Perencanaan Harian The Age
Safitri Rayuni
Borneo Tribune, Melbourne
Setelah melakukan workshop Personal Development selama satu minggu di Kota Sunburry, para Australian Leaderships Awards (ALA) Fellow untuk Economic Reporting Affairs kembali ke apartemen Quest di Lygon Street, Carlton, Melbourne. Selama dua minggu di Carlton, APJC menyediakan satu minggu (17-22 September) untuk program professional visits ke berbagai lembaga.
Senin (17/9) pagi itu jam 09.45 kami sudah duduk di ruang rapat perencanaan Harian The Age. Satu persatu redaktur datang dan duduk di kursi masing-masing. Rapat berlangsung seperti biasa, dan kami duduk di sana menyaksikan bagaimana The Age, koran berbahasa inggris tertua ini merencanakan liputannya.
Sebelum membuat rencana liputan, mereka lebih dulu membicarakan edisi cetak hari itu. Rapat dipimpin redaktur pelaksana. Para editor yang berasal dari berbagai negara, seperti Irlandia, Amerika dan Prancis ini duduk mengelilingi meja dengan rapi.
Ada screen besar di tengah ruangan, juga keyboard di meja rapat untuk memutar beberapa video dan gambar pada edisi Online The Age. HL di online dan di edisi cetak tidak sama. Penyajiannya pun berbeda. Edisi online The Age hari itu mengangkat HL tentang seorang gadis kecil berusia tiga tahun yang sengaja ditinggal sendiri oleh ayahnya di bandara Melbourne. Perbuatan sang ayah terekam dengan jelas oleh kamera CCTV bandara. Rekaman video ini ditayangkan online.
Pada edisi cetak, ada tiga berita mengisi halaman depan. Yakni headline kecelakaan pesawat di Bangkok, Thailand, yang menewaskan 88 jiwa. Dua warga Australia tewas dalam kecelakaan ini, satu lain dan 42 jiwa lainnya tertolong.
Seken HL nya adalah tentang pemilihan perdana menteri baru Australia, yang berjudul ‘Howard Would Lose Seat’. Berita ke tiga di bagian bawah halaman tentang korupsi di tubuh kepolisian yang melibatkan 40 orang pejabat di dalamnya. Berita korupsi di kepolisian ini sempat menjadi HL pada edisi Jumat sebelumnya.
Di dalam rapat itu dilibatkan dua wartawan senior dan dua wartawan liputan investigasi. Untuk kecelakaan pesawat, mereka mengaku belum memperoleh konfirmasi dari pihak perusahaan penerbangan One-Two-Go Airliner, dikarenakan awak penerbangan ini marah-marah akan pertanyaan yang diajukan oleh wartawan.
Sejumlah editor juga dimintai laporan HL di masing-masing halaman pada hari itu. The Age menebitkan tiga sisipan koran berukuran kecil dengan 16 halaman pada hari itu, yakni pendidikan, bisnis, dan olahraga.
Editor halaman opini, juga memberikan laporannya. HL halaman 11 itu berjudul ‘We’re ethical, aren’t we?’ yang ditulis Leon Gettler. “Isu ini menarik dan penting bagi warga Australia, karena persoalan etika menjadi persoalan serius yang dibahas berbagai kalangan,” kata si editor.
Sementara halaman bisnis hari itu ditangani oleh editor sementara (plt), karena editor aslinya sedang mengambil cuti tahunan. Halaman ini mengangkat tentang bidang infrastruktur yang membutuhkan 8 miliar AUD untuk menyamai asset milik Negara-negara maju Eropa.
Halaman 3 koran ini juga mengangkat tentang Sungai Yarra yang tercemar limbah racun berbahaya pada musim panas tahun ini, dengan narasumber Professor Hart. Banyak hal yang mereka bahas dalam rapat ini. Banyak isu dan wacana terlontar yang tidak semuanya dimengerti dengan jelas oleh para ALA fellow, sebab beberapa persoalan dibahas tidak begitu detil.
Untuk liputan korupsi di kepolisian, rapat ini memutuskan untuk mengutus satu wartawan investigasi untuk masuk di tubuh kepolisian, memantau perkembangan yang terjadi di sana. Wartawan investigasi yang terpilih adalah wartawan senior, Nick McKenzie yang sudah menulis berita ini dalam beberapa edisi. Hari itu Nick tidak di tempat, karena sedang dalam penugasan.
Usai rapat, para editor bubar, dan mengejar deadline cetak pada pukul 07.00 malam. “Kami pulang pada pukul 08.00 malam tiap harinya,” kata Nicolle, editor seni dan budaya.
The Age memiliki dua divisi, yakni divisi cetak dan online. “Kami memutuskan untuk tidak mengelola TV, sebab tahun nanti TV sudah akan dikalahkan oleh internet, yang menayangkan berita sekaligus video gambar secara online. Bisnis TV akan mati perlahan-lahan,” kata redpel The Age.□
Diposting oleh
Safitri Rayuni
di
2:27 AM
0
komentar
Label: media dan jurnalisme
Wednesday, September 19, 2007
Professional Visits para ALA Fellow di Australia-1
Makan Siang Bersama Anggota Parlemen Victoria
Safitri Rayuni
Borneo Tribune, Melbourne
Setelah melakukan workshop Personal Development selama satu minggu di Kota Sunburry, para Australian Leaderships Awards (ALA) Fellow untuk Economic Reporting Affairs kembali ke apartemen Quest di Lygon Street, Carlton, Melbourne. Selama dua minggu di Carlton, APJC menyediakan satu minggu (17-22 September) untuk program professional visits ke berbagai lembaga.
Kunjungan hari pertama adalah ke Harian The Age dan Dewan Perwakilan Rakyat atau Parlemen Victoria. Gedung kuno ini terletak di Spring Street 157, Melbourne. Anak tangga gedung parlemen ini mungkin jumlahnya mencapai ratusan, cukup membuat lelah ketika sampai di teras gedung.
Rencananya akan ada jamuan makan siang bersama beberapa anggota dewan di sana. Sebelum masuk ke dalam gedung, layaknya di bandara, kami harus di-scan terlebih dahulu, termasuk melepaskan berbagai atribut logam, seperti jam tangan dan ikat pinggang, sebelum melewati pintu scanning.
Setelah lolos, kami diberi tag paper V berwarna merah (warna hijau untuk pengunjung wisata dan warna merah untuk tamu parlemen). Sebelum masuk ke pintu utama, kami diberi pengarahan. Meski bebas diakses publik, di dalam gedung ini kami tidak diperkenankan untuk memotret atau merekam pembicaraan menggunakan recorder, tanpa seizin kepala ruangan.
Naik ke lantai 2, kami disambut sejumlah anggota parlemen dari berbagai partai. Mereka telah menunggu kami lengkap dengan satu set meja makan bundar yang besar, lengkap dengan peralatan makan dan minum.
Bob Stensholt, anggota parlemen untuk Burwood dan beberapa lainnya segera mengajak kami duduk. Makan siang dimulai, diselingi perbincangan dan lainnya. Sebagian besar jurnalis di ALA Fellow menggunakan kesempatan ini untuk sedikit wawancara secara informal.
Duduk di samping saya, Kim Wells, anggota parlemen untuk Scoresby. Kepada saya Kim mengaku pernah ke Gunung Kinabalu dan beberapa kota di Sumatera. Dengan antusias ia membuat beberapa peta pulau-pulau Indonesia di belakang kartu namanya. Setelah bercerita tentang Indonesia, giliran saya bertanya padanya tentang Victoria.
Secara umum kata Kim di Victoria, dengan populasi masyarakat sekitar 4,6 juta jiwa, memerlukan 38 ribu suara untuk bisa duduk di parlemen. “Di parlemen ini ada 88 kursi, dan Victoria memerlukan suara terbanyak dibanding negara bagian yang lain,” katanya.
Dikatakannya sebelumnya ada 6 negara bagian di Australia, Victoria salah satunya. “Kini ada 8 negara bagian, dan sejak 1901 semua negara-negara bagian ini berkomitmen untuk bersatu dengan Australia, diantaranya seperti Australian Capital Territory Canberra, Sydney, Tasmania, NewSouth Wales, ” katanya.
Negara-negara ini tergabung dalam Australia, namun mereka kata Kim diperbolehkan dan punya hak untuk berpisah dari negara Australia. “Dalam sejarah pernah satu kali terjadi, salah satu negara bagian barat Australia, mengancam untuk berpisah dari Australia dan bergabung ke New Zealand karena merasa tidak terima atas perlakuan tidak adil dari pemerintahan Australia. Dan ini baru pertama terjadi,” urainya.
Sementara Bob Stensholt mengatakan pada 25 nopember 2006 lalu parlemen ini memperingati ulang tahunnya yang ke-150. Undang-undang Konstitusi Victoria diproklamasikan pada 23 November 1855. “Hanya berselang sepuluh bulan kemudian, dua majelis dari parlemen berdiri di Jalan Spring ini, pemilihan berlangsung baik dan para anggota menjalani sumpah,” katanya.
Pada 25 november 1856 DPR baru Victoria terbuka kembali.
Momentum ini kata Bob adalah peluang besar bagi semua warga Victoria untuk memberikan warna bagi sejarah di parlemennya.
Ada banyak partai yang masuk, diantaranya Partai Labor, Partai Liberal, Greens dan Partai National. “Ini adalah wujud cita-cita masyarakat untuk melanjutkan bentuk demokrasi di Victoria yang baru terwujud sejak 1856,” ujarnya. Usai makan siang, kami diajak berkeliling. Tidak semua anggota parlemen turut serta. Kami hanya dipandu Hon Robert Smith, Ketua Dewan Legislatif. Ia menjelaskan tentang beberapa ruangan di sini.
Menariknya, saat kami berkeliling gedung, banyak pelajar yang juga sedang melihat-lihat gedung ini, dipandu oleh guru atau guide mereka. Parlemen ini ternyata juga membuka diri untuk tujuan wisata sejarah bagi publik.
Para pelajar dan masyarakat umum boleh mengunjungi gedung ini untuk masuk dan melihat-lihat cerita dan sejarah di dalamnya. Gedung ini boleh dikunjungi setiap pukul 10 – 11 siang, atau pada pukul 02.00 hingga 03.45 sore hari.
Kami masuk ke majelis atau ruang sidang hijau. Kamera lagi-lagi tidak diperbolehkan di sini. Ada foto ketua ruangan yang memegang gada emas sebesar lengan. “Pada zaman dahulu gada ini digunakan untuk memperingatkan para anggota sidang bila mereka terlalu berisik,” jelas Hon.
Gada dipukulkan ke benda semacam gong besar agar peserta sidang lebih tenang. “Gada ini simbol kekuasaan dan kebesaran pemimpin sidang,” katanya.
Di ruang sidang ini lah para anggota parlemen berdebat merumuskan kebijakan. “Ratu tidak boleh masuk ke dalam ruangan ini,” katanya. Di ruang sidang yang besar dan memuat seluruh anggota parlemen ini, terdapat satu kursi untuk ketua, satu kursi untuk kepala ruangan, satu kursi untuk pemandu jalannya sidang (protokoler).
Di tengah-tengah terdapat berbagai buku semacam kitab peraturan undang-undang milik negara. “Ruangan ini boleh memuat semua anggota parlemen dari berbagai kalangan, mulai grass root hingga kalangan dari sistem di british parlemen. Jika perdebatan di ruangan ini selesai, hasilnya masih akan didebatkan lagi ke ruangan sidang merah,” terangnya.
Di ruang sidang merah, hasil dari sidang sebelumnya boleh ditolak atau direkomendasikan untuk beberapa item penambahan. Di ruangan ini ratu (Queens Elizabeth) diperbolehkan untuk masuk.
“Di bawah ruangan ini juga ada penjara bagi para anggota sidang yang membuat gaduh,” kata Hon. Siapapun yang bersalah, kepala ruangan boleh membawa orang tersebut ke penjara bawah untuk dihukum dalam batas waktu tertentu.
Saat ini Hon lah bertanggungjawab dan berwenang untuk melakukan itu. “Sejauh ini sudah beberapa orang yang ditertibkan di sana,” ujarnya.
Gedung ini memiliki security yang sangat kuat. “Jurnalis yang bersikap salah dalam ruang sidang semisal menghina persidangan ini juga bias didenda dan diambil untuk masuk penjara,” lanjutnya.
Ruang ke tiga dan terakhir yang kami kunjungi adalah perpustakaan parlemen. Hampir 80 persen buku-buku di sini adalah buku politik. Ruangan dengan arsitektur klasik ini ditunjang dengan sistem komputerisasi di empat penjuru. Di tengah ada semacam meja baca bagi para anggota perlemen.
“Kami berusaha menyediakan segala jenis buku di sini, meski kebanyakan adalah buku politik. Jika buku yang dicari para anggota parlemen tidak ada, kami akan segera memesannya dan mendapatkannya dalam beberapa hari,” ujarnya.
Perpustakaan parlemen sudah berdiri sejak 14 November 1851. perpustakaan ini didirikan oleh dewan legislative yang pertama. Konstruksi bangunan pertama dibangun pada tahun 1858-1860. Perpustakaan ini berlokasi di tengah, di antara dua majelis persidangan, dan menjadi ruang pusat sosial parlemen, terkadang untuk rapat dan tempat berinteraksi sosial bagi para anggota parlemen.
“Ketua dan para anggota parlemen menemui gubernur di perpustakaan ini satu hari setelah mereka mengucapkan sumpah,” jelas Hon. Arsitektur perpustakaan ini dirancang oleh Peter Kerr, ketua komisi perancangan Perpustakaan Parlemen Victoria.
Kerr menghabiskan waktu bertahun-tahun (antara 1848-1852) di ruang kantor Sir Charless Barry, arsitek Gedung Parlemen di bagian barat Inggris.
Desain perpustakaan ini bukan satu-satunya fokus pekerjaan Kerr. Ia juga mengurus tiga ruang utama. Yakni majelis utama, serta dua ruang lain yang lebih kecil yang tergabung di dalam perpustakaan ini.
“Semula ruangan ini didesain untuk para anggota parlemen yang juga ingin merokok sambil membaca buku, tepatnya pada tahun 1861. Namun sejak 1886, larangan merokok di perpustakaan pun diberlakukan,” katanya.
Di dalam ruangan ini terdapat meja utama untuk membaca buku. Meja ini didesain oleh Peter Kerr dan dibuat berdasarkan kombinasi kayu hitam, yang diambil dari Dandenong Ranges, Victoria dan Kayu Cedar.
Perpustakaan ini juga memiliki berbagai koleksi dokumentasi kuno. Diantaranya surat kabar pertama Victoria, yang ditulis tangan oleh John Pascoe Fawkner’s. Ada lebih dari 70 ribu koleksi buku, termasuk buku karir dan fiksi di sini, sehingga para anggota parlemen dapat melakukan relaksasi dengan membaca buku yang beragam di ruang ini, setelah mereka bekerja seharian. “Gedung parlemen sendiri sudah dibangun sejak 150 tahun lalu dengan arsitektur yang kokoh dan bagus. Pemerintah menghabiskan banyak uang untuk gedung ini,” pungkas Hon. □
Diposting oleh
Safitri Rayuni
di
10:51 PM
0
komentar
Label: media dan jurnalisme
Monday, September 10, 2007
Personal Energy, Kekuatan Seorang Reporter
Safitri Rayuni
Borneo Tribune, Melbourne
We have stated that this ‘War against Corruption’ has no end to it…ours will be the longest war ever fought in any small democrazy.
Ungkapan ini milik Oseah Philemon, editor Post Courier, Port Moresby, Papua New Ginea. Ia menambahkan, “My view is that the ‘war’ on corruption and all the good (journalism) courses we run..will achieve very little unless we focus on these personal skills,” katanya.
Agaknya Oseah tidak berlebihan untuk itu. Sebab hal terpenting dari kemampuan personal seorang reporter tentu sangat menentukan keseriusan pemberitaan yang ia buat. Contoh kecil yang saya buat dalam notes saya, bagaimana seorang reporter peduli akan persoalan korupsi (yang menjadi momok di setiap negara), dan menuliskannya dengan baik, menyajikan data dan fakta yang lengkap, serius, akurat, dengan semangat dan vitalitas tinggi, apabila ia tidak memiliki personal interest terhadap persoalan itu. Sebab ketertarikan akan menimbulkan energi yang luar biasa kuatnya bagi seseorang.
Melihat betapa pentingnya energi personal ini, saya jadi merenung. Mengapa saya dan enam orang peserta dari negara yang berbeda, berada di sini pagi ini? Tepatnya Senin (10/9) pagi, di lantai II Carlton Library, perpustakaan terlengkap di 667 Rathdowne Street, North Carlton.
Ada Frans, saya dan Herman dari Indonesia, Mouzinho, dari Timor Leste, Sandra, Bibian, dan Eric dari PNG, dan Cherele dari Samoa Selandia Baru.
Kami datang tidak untuk membuka literatur dan mencari data tentang apa saja di perpustakaan ini. Kami datang untuk meng-explore personality kami. Agaknya program yang dibuat Asia Pasific Journalism Centre (APJC) ini bagi saya sebagai salah satu aktualisasi dari ungkapan Oseah untuk fokus pada skills personal, dimulai dari energi personal.
Ya. Selama enam minggu di Australia, kami akan mendapat dua workshop serius terkait personality. Leadership dan Economic Reporting. “Kalian tidak selamanya menginap di Quest on Lygon, Street Carlton (meski ini adalah tempat pulang resmi selama enam minggu-ed), namun kalian juga akan menjelajah di empat tempat, di Melbourne, Sunbury, Canberra, dan Sydney,” terang Direktur Program APJC, John Wallace. “Kita akan berada di Sunbury selama empat hari, mulai pukul 4 sore ini. Saya harap perjalanan nanti menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi kalian semua,” timpal Alexandra Kenedy, projecy officer APJC. Mereka menamai minggu pertama sebagai Personal Development Program. Di luar jendela perpustakaan, tampak kesibukan Melbourne mulai terlihat. Kami pun tak kalah sibuknya menatap potret personal masing-masing melalui The Johari Window (Luft 1984).
Suzi Woodhouse, instruktur pelatihan pagi ini memberikan banyak gambaran baru bagi saya. Dengan The Johari Window, ia mengajak kami melihat empat kuadran personal pribadi. Seperti ‘what others know about me, dan what others don’t know about me’. Ada area blind spot juga orang tidak tahu bahkan kita pribadi juga tidak mengetahuinya. Kuadran ini banyak saya temui di berbagai pelatihan. Mulanya agak terkesan biasa.
Tetapi ternyata begitu beda. Tidak seperti pelatihan motivasi dan kepemimpinan yang pernah saya ikuti, ini sangat berbeda. Beda, karena setiap peserta memiliki sikap terbuka dan lugas mengutarakan ide dan sikapnya. Tak ada yang pasif dan malu-malu. Kritik terlontar dengan penuh etika dan kesadaran bagi yang menerimanya. Budaya keterbukaan mengutarakan pendapat, perasaan dan menghargai perbedaan, terasa damai dan menyejukkan. Iklim seperti ini amat saya rindukan. Agaknya suasana seperti ini sehat bagi iklim emosional sebuah komunitas.
Tidak sedikit jurnalis senior yang ikut di sini. Saya mungkin tergolong paling muda. Sebab umumnya mereka memiliki pengalaman jurnalistik di atas lima tahun lamanya. Walau begitu, setiap individu memberikan respek yang sama terhadap berbagai usia. Saya jadi ingat iklan sebuah rokok (Sampoerna A Mild) di TV: “Belum Tua Belum Boleh Bicara”, dan saya tertawa sendiri.
Bibian, teman sekamar saya bertanya, “What its that funny girl?” , “Oh its okay..so many things pass away in my head, I wondering you wear something like me,” jawabku menggodanya. “What is it,” ia penasaran. “Adaaa deeehh,” ia makin penasaran. Kami tertawa.
Serius tapi santai. Kami juga diajak memikirkan dunia. Kami diminta membuat daftar nilai yang patut dianut seseorang terhadap berbagai persoalan yang ada di dunia ini. Untuk menjunjung tinggi equalitas, persamaan dalam memperoleh kesempatan bagi semua kalangan, keindahan dan kelestarian lingkungan di bumi, dan kebebasan dari perang dan konflik. (www.safitrirayuni.blogspot.com)
Diposting oleh
Safitri Rayuni
di
7:28 AM
1 komentar
Label: media dan jurnalisme
Tuesday, September 4, 2007
Makalah workshop LAPMI
Telaah Singkat Teknik dan Penulisan Berita
Safitri Rayuni, SP
Disampaikan sebagai materi Pelatihan Jurnalistik Lembaga Pers Mahasiswa Islam Himpunan Mahasiswa Islam (LAPMI HMI) Cabang Pontianak, Sabtu (1 September 2007).
Di dalam kitab Vademekum Wartawan (1997), masalah terakhir dalam reportase dasar, yaitu BAGAIMANA MENULIS BERITA. Inilah bagian yang paling tak mungkin dibicarakan secara sistematis seperti bagian-bagian lain. Meskipun demikian, akan diberikan sekadar pokok-pokoknya.
Setiap orang dengan keunikannya memiliki teknik berbeda dalam penulisan. Latar belakang pendidikan, guru tempat menimba ilmu, juga pengalaman akan membentuk semua itu. Satu hal, Anda adalah orang merdeka yang boleh menyuarakan apa saja dalam tulisan Anda.
Meski ada pakem-pakem dan etika menulis yang membatasi Anda sebagai individu, penulis dan bagian dari komunitas sosial (baca Sembilan Elemen Jurnalisme, Bill Kovach)
Secara alami, setiap orang memiliki naluri bercerita, baik lisan atau tulisan.
Berbagai peristiwa yang dialami setiap hari bisa menjadi suatu tulisan menarik.
Umumnya, penulis dan wartawan (rekan-rekan dan kenalan saya) punya buku harian (diary). Kebiasaan menulis buku harian ini sangat baik untuk seorang penulis, di samping kebiasaan baca tulis yang ditanamkan orang tua sejak kita kecil.
Lima tugas seorang reporter tentu sudah dibahas pada sesi sebelumnya (teknik reportase dan wawancara). Lima tahap ini merupakan rangkaian organis yang jadi kaidah pekerjaan seorang reporter.
Bagaimana menentukan LEAD atau INTRO?
LEAD atau INTRO adalah bagian awal dari berita.
Satu alineanya sebaiknya tidak lebih dari 35 kata (30 kata dalam bahasa Inggris) di dalam lead inilah tercakup secara singkay keenam unsur berita. (5W + 1 H)
Hubungan antara LEAD dan SUDUT BERITA memaksa reporter untuk memikirkan LEAD sejak masih di lapangan.
Bahkan penentuan LEAD di lapangan akan sangat membantu mengarahkan pengumpulan bahan.
Nah, untuk memperkaya pengertian tentang memastikan sudut berita dan memastikan sudut berita dan menentukan lead, silakan Anda baca koran hari ini. Carilah mana yang menurut Anda cocok ditulis dari sudut PEG dan dengan LEAD PEG dan mana yang tidak.
16 macam LEAD: (Anda boleh melakukan penambahan, sesuai inovasi)
1. Lead pasak (peg)—penyebab peristiwa menjadi pembuka berita
2. Lead kontras (sisi-sisi kontras dari suatu peristiwa utama dengan keadaan sekitarnya)
3. Lead pertanyaan (Cari sebab mendasar yang bisa diajukan sebagai pertanyaan untuk memulai suatu berita)
4. Lead deskriptif (menggambarkan peristiwa seperti secara deskriptif, detil dan runut)
5. Lead Stakato (cari sudut berita yang dijadikan lead, gunakan salah satu sampel)
6. Lead Ledakan (sensasi dari suatu peristiwa diangkat di awal berita)
7. Lead Figuratif (Membingkai peristiwa dengan bahasa ungkapan, eks: bagai siang memeluk malam, begitulah perkawinan Firman (28) dan Fiola (82)……dst
8. Lead Epigram (gunakan banyak ungkapan, atau rumusan yang khas dan terkenal di dalam kehidupan masyarakat)
9. Lead Literer (Menjadikan karya sastra atau legenda yang dikenal rakyat untuk memulai mengantarkan peristiwa)
10. Lead Parodi (Sudut humor ditonjolkan dalam mengangkat berita di awal cerita)
11. Lead kutipan (dimulai dengan kutipan yang menarik)
12. Lead dialog/percakapan (dimulai dengan adegan percakapan)
13. Lead kumulatif (tiap kalimat atau alinea secara ketat membawa pembaca ke arah rasa ingin tahu yang makin besar sampai pada kesimpulan puncak, menyajikan berita secara berurut, membawa pembaca sampai pada antiklimaks peristiwa)
14. Lead suspensi (klimaks peristiwa tertunda hingga titik akhir)
15. Lead urutan (idem ditto)
16. Lead sapaan (eks: Rizki sayang, di dalam … atau pembaca, mungkin Anda)….dst
Setelah menentukan LEAD, kita perlu menginventarisasi jenis-jenis keterangan yang telah dikumpulkan di lapangan, yaitu JALAN CERITA dari PERISTIWA yang hendak Anda laporkan. Hasil inilah yang perlu dibongkar pasang sampai terasa pas dengan JALAN CERITA yang ditemukan. Itulah pula yang jadi sub judul dari berita.
Diposting oleh
Safitri Rayuni
di
5:19 AM
0
komentar
Label: media dan jurnalisme
Monday, April 17, 2006
United Kingdom Melirik Dunia Islam
Catatan Ikhsanudin ke Inggris Raya (1)
Oleh: Safitri Rayuni-,- Inggris, sejak adanya peristiwa WTC di AS (9/11/2001) semakin berupaya untuk berakrab-akrab ria dengan dunia Islam. Begitu kata Drs Ikhsanudin M.Hum, Purek I Universitas Muhammadiyah Pontianak membuka kisah lawatannya ke Inggris Raya selama 19 hari menghadiri kegiatan Engaging with Muslim World.
Engaging with Muslim World yang digelar pemerintah Inggris menurut Ikhsanudin semula dilakukan untuk mempresentasikan eksistensi negeri Inggris yang semakin banyak memiliki penduduk muslim. Namun pada akhirnya, terfokus pada kepentingan diplomasi luar negeri Mr Tony Blair.
Indonesia, negeri yang berpenduduk muslim terbesar di dunia menjadi salah satu tujuan engaging atau jalinan kerjasama. “Partner utama untuk keperluan tersebut di Indonesia tentu saja organisasi Islam terbesar, yakni Muhammadiyah dan NU,” kata Ikhsan.
Dengan Muhammadiyah, kedutaan besar Inggris di Jakarta sangat sering berkomunikasi. Salah satu program yang dihasilkan adalah lawatan para Pimpinan Wilayah Muhammadiyah, dan para rektor Universitas Muhammadiyah ke Inggris Raya atau United Kingdom (UK).
Kegiatan ini secara operasional diserahkan kepada Abdul Mu’ti selaku Ketua Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah. Mu’ti kata Ikhsan sekarang terlihat menjadi salah satu ‘konsultan’ bagi British Council, selaku pelaksana program. Ikhsan sendiri berangkat mewakili rektorat UMP, sebab diperkirakan pada saat keberangkatan ke Inggris, Rektor UMP sedang sedang menunaikan ibadah haji di tanah Mekkah. Ikhsan pun mengikuti berbagai kegiatan persiapan sejak awal keberangkatan melawat hingga tiba di tempat tujuan.
Sebelumnya, para delegasi Muhammadiyah ini melakukan briefing awal di tiga tempat. di Universitas Muhammadiyah (UM) Makasar, UM Mataram dan UM Yogyakarta. Terakhir, briefing di Jakarta pada 25 November 2005 lalu. Briefing ini berfungsi menjaring gagasan-gagasan dan kebutuhan para delegasi mengenai apa yang mereka akan pelajari di UK. Tak hanya itu, briefing juga berfungsi untuk pemberitahuan mengenai dokumen dan perlengkapan yang harus disiapkan oleh para delegasi. *
Diposting oleh
Safitri Rayuni
di
5:32 AM
0
komentar
Label: media dan jurnalisme
