Makan Siang Bersama Anggota Parlemen Victoria
Safitri Rayuni
Borneo Tribune, Melbourne
Setelah melakukan workshop Personal Development selama satu minggu di Kota Sunburry, para Australian Leaderships Awards (ALA) Fellow untuk Economic Reporting Affairs kembali ke apartemen Quest di Lygon Street, Carlton, Melbourne. Selama dua minggu di Carlton, APJC menyediakan satu minggu (17-22 September) untuk program professional visits ke berbagai lembaga.
Kunjungan hari pertama adalah ke Harian The Age dan Dewan Perwakilan Rakyat atau Parlemen Victoria. Gedung kuno ini terletak di Spring Street 157, Melbourne. Anak tangga gedung parlemen ini mungkin jumlahnya mencapai ratusan, cukup membuat lelah ketika sampai di teras gedung.
Rencananya akan ada jamuan makan siang bersama beberapa anggota dewan di sana. Sebelum masuk ke dalam gedung, layaknya di bandara, kami harus di-scan terlebih dahulu, termasuk melepaskan berbagai atribut logam, seperti jam tangan dan ikat pinggang, sebelum melewati pintu scanning.
Setelah lolos, kami diberi tag paper V berwarna merah (warna hijau untuk pengunjung wisata dan warna merah untuk tamu parlemen). Sebelum masuk ke pintu utama, kami diberi pengarahan. Meski bebas diakses publik, di dalam gedung ini kami tidak diperkenankan untuk memotret atau merekam pembicaraan menggunakan recorder, tanpa seizin kepala ruangan.
Naik ke lantai 2, kami disambut sejumlah anggota parlemen dari berbagai partai. Mereka telah menunggu kami lengkap dengan satu set meja makan bundar yang besar, lengkap dengan peralatan makan dan minum.
Bob Stensholt, anggota parlemen untuk Burwood dan beberapa lainnya segera mengajak kami duduk. Makan siang dimulai, diselingi perbincangan dan lainnya. Sebagian besar jurnalis di ALA Fellow menggunakan kesempatan ini untuk sedikit wawancara secara informal.
Duduk di samping saya, Kim Wells, anggota parlemen untuk Scoresby. Kepada saya Kim mengaku pernah ke Gunung Kinabalu dan beberapa kota di Sumatera. Dengan antusias ia membuat beberapa peta pulau-pulau Indonesia di belakang kartu namanya. Setelah bercerita tentang Indonesia, giliran saya bertanya padanya tentang Victoria.
Secara umum kata Kim di Victoria, dengan populasi masyarakat sekitar 4,6 juta jiwa, memerlukan 38 ribu suara untuk bisa duduk di parlemen. “Di parlemen ini ada 88 kursi, dan Victoria memerlukan suara terbanyak dibanding negara bagian yang lain,” katanya.
Dikatakannya sebelumnya ada 6 negara bagian di Australia, Victoria salah satunya. “Kini ada 8 negara bagian, dan sejak 1901 semua negara-negara bagian ini berkomitmen untuk bersatu dengan Australia, diantaranya seperti Australian Capital Territory Canberra, Sydney, Tasmania, NewSouth Wales, ” katanya.
Negara-negara ini tergabung dalam Australia, namun mereka kata Kim diperbolehkan dan punya hak untuk berpisah dari negara Australia. “Dalam sejarah pernah satu kali terjadi, salah satu negara bagian barat Australia, mengancam untuk berpisah dari Australia dan bergabung ke New Zealand karena merasa tidak terima atas perlakuan tidak adil dari pemerintahan Australia. Dan ini baru pertama terjadi,” urainya.
Sementara Bob Stensholt mengatakan pada 25 nopember 2006 lalu parlemen ini memperingati ulang tahunnya yang ke-150. Undang-undang Konstitusi Victoria diproklamasikan pada 23 November 1855. “Hanya berselang sepuluh bulan kemudian, dua majelis dari parlemen berdiri di Jalan Spring ini, pemilihan berlangsung baik dan para anggota menjalani sumpah,” katanya.
Pada 25 november 1856 DPR baru Victoria terbuka kembali.
Momentum ini kata Bob adalah peluang besar bagi semua warga Victoria untuk memberikan warna bagi sejarah di parlemennya.
Ada banyak partai yang masuk, diantaranya Partai Labor, Partai Liberal, Greens dan Partai National. “Ini adalah wujud cita-cita masyarakat untuk melanjutkan bentuk demokrasi di Victoria yang baru terwujud sejak 1856,” ujarnya. Usai makan siang, kami diajak berkeliling. Tidak semua anggota parlemen turut serta. Kami hanya dipandu Hon Robert Smith, Ketua Dewan Legislatif. Ia menjelaskan tentang beberapa ruangan di sini.
Menariknya, saat kami berkeliling gedung, banyak pelajar yang juga sedang melihat-lihat gedung ini, dipandu oleh guru atau guide mereka. Parlemen ini ternyata juga membuka diri untuk tujuan wisata sejarah bagi publik.
Para pelajar dan masyarakat umum boleh mengunjungi gedung ini untuk masuk dan melihat-lihat cerita dan sejarah di dalamnya. Gedung ini boleh dikunjungi setiap pukul 10 – 11 siang, atau pada pukul 02.00 hingga 03.45 sore hari.
Kami masuk ke majelis atau ruang sidang hijau. Kamera lagi-lagi tidak diperbolehkan di sini. Ada foto ketua ruangan yang memegang gada emas sebesar lengan. “Pada zaman dahulu gada ini digunakan untuk memperingatkan para anggota sidang bila mereka terlalu berisik,” jelas Hon.
Gada dipukulkan ke benda semacam gong besar agar peserta sidang lebih tenang. “Gada ini simbol kekuasaan dan kebesaran pemimpin sidang,” katanya.
Di ruang sidang ini lah para anggota parlemen berdebat merumuskan kebijakan. “Ratu tidak boleh masuk ke dalam ruangan ini,” katanya. Di ruang sidang yang besar dan memuat seluruh anggota parlemen ini, terdapat satu kursi untuk ketua, satu kursi untuk kepala ruangan, satu kursi untuk pemandu jalannya sidang (protokoler).
Di tengah-tengah terdapat berbagai buku semacam kitab peraturan undang-undang milik negara. “Ruangan ini boleh memuat semua anggota parlemen dari berbagai kalangan, mulai grass root hingga kalangan dari sistem di british parlemen. Jika perdebatan di ruangan ini selesai, hasilnya masih akan didebatkan lagi ke ruangan sidang merah,” terangnya.
Di ruang sidang merah, hasil dari sidang sebelumnya boleh ditolak atau direkomendasikan untuk beberapa item penambahan. Di ruangan ini ratu (Queens Elizabeth) diperbolehkan untuk masuk.
“Di bawah ruangan ini juga ada penjara bagi para anggota sidang yang membuat gaduh,” kata Hon. Siapapun yang bersalah, kepala ruangan boleh membawa orang tersebut ke penjara bawah untuk dihukum dalam batas waktu tertentu.
Saat ini Hon lah bertanggungjawab dan berwenang untuk melakukan itu. “Sejauh ini sudah beberapa orang yang ditertibkan di sana,” ujarnya.
Gedung ini memiliki security yang sangat kuat. “Jurnalis yang bersikap salah dalam ruang sidang semisal menghina persidangan ini juga bias didenda dan diambil untuk masuk penjara,” lanjutnya.
Ruang ke tiga dan terakhir yang kami kunjungi adalah perpustakaan parlemen. Hampir 80 persen buku-buku di sini adalah buku politik. Ruangan dengan arsitektur klasik ini ditunjang dengan sistem komputerisasi di empat penjuru. Di tengah ada semacam meja baca bagi para anggota perlemen.
“Kami berusaha menyediakan segala jenis buku di sini, meski kebanyakan adalah buku politik. Jika buku yang dicari para anggota parlemen tidak ada, kami akan segera memesannya dan mendapatkannya dalam beberapa hari,” ujarnya.
Perpustakaan parlemen sudah berdiri sejak 14 November 1851. perpustakaan ini didirikan oleh dewan legislative yang pertama. Konstruksi bangunan pertama dibangun pada tahun 1858-1860. Perpustakaan ini berlokasi di tengah, di antara dua majelis persidangan, dan menjadi ruang pusat sosial parlemen, terkadang untuk rapat dan tempat berinteraksi sosial bagi para anggota parlemen.
“Ketua dan para anggota parlemen menemui gubernur di perpustakaan ini satu hari setelah mereka mengucapkan sumpah,” jelas Hon. Arsitektur perpustakaan ini dirancang oleh Peter Kerr, ketua komisi perancangan Perpustakaan Parlemen Victoria.
Kerr menghabiskan waktu bertahun-tahun (antara 1848-1852) di ruang kantor Sir Charless Barry, arsitek Gedung Parlemen di bagian barat Inggris.
Desain perpustakaan ini bukan satu-satunya fokus pekerjaan Kerr. Ia juga mengurus tiga ruang utama. Yakni majelis utama, serta dua ruang lain yang lebih kecil yang tergabung di dalam perpustakaan ini.
“Semula ruangan ini didesain untuk para anggota parlemen yang juga ingin merokok sambil membaca buku, tepatnya pada tahun 1861. Namun sejak 1886, larangan merokok di perpustakaan pun diberlakukan,” katanya.
Di dalam ruangan ini terdapat meja utama untuk membaca buku. Meja ini didesain oleh Peter Kerr dan dibuat berdasarkan kombinasi kayu hitam, yang diambil dari Dandenong Ranges, Victoria dan Kayu Cedar.
Perpustakaan ini juga memiliki berbagai koleksi dokumentasi kuno. Diantaranya surat kabar pertama Victoria, yang ditulis tangan oleh John Pascoe Fawkner’s. Ada lebih dari 70 ribu koleksi buku, termasuk buku karir dan fiksi di sini, sehingga para anggota parlemen dapat melakukan relaksasi dengan membaca buku yang beragam di ruang ini, setelah mereka bekerja seharian. “Gedung parlemen sendiri sudah dibangun sejak 150 tahun lalu dengan arsitektur yang kokoh dan bagus. Pemerintah menghabiskan banyak uang untuk gedung ini,” pungkas Hon. □
Wednesday, September 19, 2007
Professional Visits para ALA Fellow di Australia-1
Diposting oleh
Safitri Rayuni
di
10:51 PM
0
komentar
Label: media dan jurnalisme
Monday, September 10, 2007
Personal Energy, Kekuatan Seorang Reporter
Safitri Rayuni
Borneo Tribune, Melbourne
We have stated that this ‘War against Corruption’ has no end to it…ours will be the longest war ever fought in any small democrazy.
Ungkapan ini milik Oseah Philemon, editor Post Courier, Port Moresby, Papua New Ginea. Ia menambahkan, “My view is that the ‘war’ on corruption and all the good (journalism) courses we run..will achieve very little unless we focus on these personal skills,” katanya.
Agaknya Oseah tidak berlebihan untuk itu. Sebab hal terpenting dari kemampuan personal seorang reporter tentu sangat menentukan keseriusan pemberitaan yang ia buat. Contoh kecil yang saya buat dalam notes saya, bagaimana seorang reporter peduli akan persoalan korupsi (yang menjadi momok di setiap negara), dan menuliskannya dengan baik, menyajikan data dan fakta yang lengkap, serius, akurat, dengan semangat dan vitalitas tinggi, apabila ia tidak memiliki personal interest terhadap persoalan itu. Sebab ketertarikan akan menimbulkan energi yang luar biasa kuatnya bagi seseorang.
Melihat betapa pentingnya energi personal ini, saya jadi merenung. Mengapa saya dan enam orang peserta dari negara yang berbeda, berada di sini pagi ini? Tepatnya Senin (10/9) pagi, di lantai II Carlton Library, perpustakaan terlengkap di 667 Rathdowne Street, North Carlton.
Ada Frans, saya dan Herman dari Indonesia, Mouzinho, dari Timor Leste, Sandra, Bibian, dan Eric dari PNG, dan Cherele dari Samoa Selandia Baru.
Kami datang tidak untuk membuka literatur dan mencari data tentang apa saja di perpustakaan ini. Kami datang untuk meng-explore personality kami. Agaknya program yang dibuat Asia Pasific Journalism Centre (APJC) ini bagi saya sebagai salah satu aktualisasi dari ungkapan Oseah untuk fokus pada skills personal, dimulai dari energi personal.
Ya. Selama enam minggu di Australia, kami akan mendapat dua workshop serius terkait personality. Leadership dan Economic Reporting. “Kalian tidak selamanya menginap di Quest on Lygon, Street Carlton (meski ini adalah tempat pulang resmi selama enam minggu-ed), namun kalian juga akan menjelajah di empat tempat, di Melbourne, Sunbury, Canberra, dan Sydney,” terang Direktur Program APJC, John Wallace. “Kita akan berada di Sunbury selama empat hari, mulai pukul 4 sore ini. Saya harap perjalanan nanti menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi kalian semua,” timpal Alexandra Kenedy, projecy officer APJC. Mereka menamai minggu pertama sebagai Personal Development Program. Di luar jendela perpustakaan, tampak kesibukan Melbourne mulai terlihat. Kami pun tak kalah sibuknya menatap potret personal masing-masing melalui The Johari Window (Luft 1984).
Suzi Woodhouse, instruktur pelatihan pagi ini memberikan banyak gambaran baru bagi saya. Dengan The Johari Window, ia mengajak kami melihat empat kuadran personal pribadi. Seperti ‘what others know about me, dan what others don’t know about me’. Ada area blind spot juga orang tidak tahu bahkan kita pribadi juga tidak mengetahuinya. Kuadran ini banyak saya temui di berbagai pelatihan. Mulanya agak terkesan biasa.
Tetapi ternyata begitu beda. Tidak seperti pelatihan motivasi dan kepemimpinan yang pernah saya ikuti, ini sangat berbeda. Beda, karena setiap peserta memiliki sikap terbuka dan lugas mengutarakan ide dan sikapnya. Tak ada yang pasif dan malu-malu. Kritik terlontar dengan penuh etika dan kesadaran bagi yang menerimanya. Budaya keterbukaan mengutarakan pendapat, perasaan dan menghargai perbedaan, terasa damai dan menyejukkan. Iklim seperti ini amat saya rindukan. Agaknya suasana seperti ini sehat bagi iklim emosional sebuah komunitas.
Tidak sedikit jurnalis senior yang ikut di sini. Saya mungkin tergolong paling muda. Sebab umumnya mereka memiliki pengalaman jurnalistik di atas lima tahun lamanya. Walau begitu, setiap individu memberikan respek yang sama terhadap berbagai usia. Saya jadi ingat iklan sebuah rokok (Sampoerna A Mild) di TV: “Belum Tua Belum Boleh Bicara”, dan saya tertawa sendiri.
Bibian, teman sekamar saya bertanya, “What its that funny girl?” , “Oh its okay..so many things pass away in my head, I wondering you wear something like me,” jawabku menggodanya. “What is it,” ia penasaran. “Adaaa deeehh,” ia makin penasaran. Kami tertawa.
Serius tapi santai. Kami juga diajak memikirkan dunia. Kami diminta membuat daftar nilai yang patut dianut seseorang terhadap berbagai persoalan yang ada di dunia ini. Untuk menjunjung tinggi equalitas, persamaan dalam memperoleh kesempatan bagi semua kalangan, keindahan dan kelestarian lingkungan di bumi, dan kebebasan dari perang dan konflik. (www.safitrirayuni.blogspot.com)
Diposting oleh
Safitri Rayuni
di
7:28 AM
1 komentar
Label: media dan jurnalisme
Hari Minggu yang Hening dan Kangguru yang Malang
Safitri Rayuni
Borneo Tribune, Melbourne
Jika di hari libur, Sabtu dan Minggu, kebanyakan orang memilih berjalan-jalan di pusat kota, tidak demikian dengan kebanyakan warga Melbourne, Victoria, kota terbesar kedua di Australia.
Orang-orang lebih memilih di rumah atau beribadah di gereja pada dua hari off day (sabtu dan minggu) ini. "Kamu lihat, sedikit sekali terlihat warga yang berbelanja di mal-mal dan factory outlet (FO) pada hari ini, kebanyakan di rumah atau di gereja," kata Alexandra Kennedy kepada saya, dalam perjalanan dari airport menuju kediaman John Wallace, pagi Minggu (09/09) itu. Tangannya menunjuk satu gereja paling besar di sini. "This is an oldest and big one," ujarnya, aku mengangguk dan terpana melihat begitu banyak warga kota beribadah di gereja ini. "So many people there!" seruku surprise.
Matanya menatap lurus ke jalan, sambil menyetir, Alex yang ramping dan cantik tampak sangat 'macho' di mata saya. Ia terus bercerita. "Nah itu lihat, kebanyakan orang Asia yang berjalan di hari ini," katanya dalam aksen Australia. Ia menunjuk beberapa FO dan supermarket. Alex adalah sekretaris John Wallace, Direktur Program untuk Asia Pasific Journalism Centre (APJC) di Australia.
Cuaca hangat pagi itu, kami tiba pukul 07.45 am atau 04.30 WIB di Indonesia. Perjalanan yang melelahkan, sekitar enam jam dari Bali. Namun begitu tiba, dan mendengar banyak kisah dari Alex, hilang segala penat saya. "Jikapun ada yang memilih ke luar kota, umumnya mereka mengikuti program sekolah bagi anak-anak, dan program studi banding dari universitas," lanjutnya.
Bahkan, kata dia, sebagian besar mahasiswa hanya off day di hari Minggu.
"Sabtu padat dengan kelas dan kuliah, walau sebagian besar memilih outdoor class," ujarnya. "Apakah di hari Sabtu ada perbedaan materi pelajaran dibanding hari lainnya?" tanya saya. "Tentu, dosen di sini sangat peduli akan hal itu. Banyak hal yang dipermudah dan disesuaikan dengan aspirasi mahasiswa, kebanyakan dosen sangat demokratis, namun tetap disiplin terhadap aturan yang berlaku secara umum," terangnya.
Kami masih terus melaju melewati pusat kota. Di depan kami, mobil John juga melaju kencang. John membawa dua teman saya dari Indonesia, Herman Lengam dari Radio Manokwari, Papua dan Frans Angal dari Flores Post.
Sebelumnya, di perjalanan sebelum tiba di pusat kota, mobil kami sempat terhenti. Sejumlah polisi berseragam biru tampak berdiri di badan jalan. Beberapa orang berseragam coklat tampak sedang mengangkat tubuh, tepatnya (maaf, bangkai) binatang dari sana. Kasihan, tampaknya tergilas kendaraan besar.
"Apa itu Alex, apa itu anjing?," tanyaku. Ia tampak berpikir sejenak, berhenti dan melongokkan kepala. "I dont know exactly, its like a kangaroos," katanya setengah yakin. Sebab melihat bentuk yang sudah tidak beraturan itu, sosok berbulu abu-abu dan besar ini tidak terlihat begitu jelas. Namun satu ekor panjang menjuntai begitu tandu diangkat. Aku yakin, itu kangguru.
Ia mencoba menjelaskan bahwa terkadang ada beberapa kangguru yang melintasi jalan pinggir Kota Melbourne. "How it can be here?" tanyaku penasaran. Kata Alex, masih ada populasi kangguru yang hidup secara alami di sebagian kecil hutan di Australia. Mereka mampu melintasi negara dan bertahan hidup cukup lama. Namun, ada beberapa kangguru yang tersasar dari kelompoknya, melintasi jalan raya dan tertabrak kendaraan besar.
"Kangguru dinilai berbahaya oleh sebagian orang, karena kakinya yang panjang dapat menjangkau jarak sekian meter bila menendang," terang Alex. Terlebih bila jalanan sepi, apabila kangguru melintas, pengendara melarikan kendaraannya dengan sedikit kencang, karena ketakutan. Tak jarang terjadi katanya, kangguru yang melintas tertabrak mobil besar atau truk.
"How poor they are," kataku prihatin. "How about koala,Alex?," tanyaku. "Oooh, its a nice and sweet one," katanya. Alex mengaku jatuh cinta pada sosok koala yang kata dia terkadang bisa ditemui di taman-taman kota dan di kebun binatang di Melbourne. "Di kebun binatang, mereka hidup bersama lebih dari 300 jenis spesies liar di sana," terangnya.
Pukul 09.00 am. Kami tiba di Amees Street Carlton North nomor 90, Victoria. Rumah John dan juga Kantor APJC. Bangunan rumah hunian pribadi di sini tidak begitu besar dan tinggi seperti rumah di Pontianak. Kalaupun bertingkat, desain dan halaman dibuat sangat minimalis. Bangunan besar hanya untuk apartemen dan toko.
John memiliki taman di belakang rumahnya. Banyak tanaman tropis di sana, seperti pakis, nanas dan sedikit kaktus. Karena pernah ke Jakarta beberapa lama, John agak fasih berbahasa Indonesia. Kami minum teh dan sarapan dengan roti pagi itu. John tampak antusias dan tak sabar bercerita tentang surat kabar di Victoria. Ia menujukkan beberapa eksemplar surat kabar kepada kami. Cerita tentang surat kabar di sini akan ada pada bab selanjutnya. Juga tentang perjalanan ke Kampus Victoria di Sunbury, perjalanan satu jam dari Melbourne. Kalau dunia tidak kiamat (mengutip ungkapan yang sering dilontarkan Bung Nur Is) dan internet tidak macet tentunya. (www.safitrirayuni.blogspot.com)
Diposting oleh
Safitri Rayuni
di
1:55 AM
0
komentar
Label: diary
Tuesday, September 4, 2007
Makalah workshop LAPMI
Telaah Singkat Teknik dan Penulisan Berita
Safitri Rayuni, SP
Disampaikan sebagai materi Pelatihan Jurnalistik Lembaga Pers Mahasiswa Islam Himpunan Mahasiswa Islam (LAPMI HMI) Cabang Pontianak, Sabtu (1 September 2007).
Di dalam kitab Vademekum Wartawan (1997), masalah terakhir dalam reportase dasar, yaitu BAGAIMANA MENULIS BERITA. Inilah bagian yang paling tak mungkin dibicarakan secara sistematis seperti bagian-bagian lain. Meskipun demikian, akan diberikan sekadar pokok-pokoknya.
Setiap orang dengan keunikannya memiliki teknik berbeda dalam penulisan. Latar belakang pendidikan, guru tempat menimba ilmu, juga pengalaman akan membentuk semua itu. Satu hal, Anda adalah orang merdeka yang boleh menyuarakan apa saja dalam tulisan Anda.
Meski ada pakem-pakem dan etika menulis yang membatasi Anda sebagai individu, penulis dan bagian dari komunitas sosial (baca Sembilan Elemen Jurnalisme, Bill Kovach)
Secara alami, setiap orang memiliki naluri bercerita, baik lisan atau tulisan.
Berbagai peristiwa yang dialami setiap hari bisa menjadi suatu tulisan menarik.
Umumnya, penulis dan wartawan (rekan-rekan dan kenalan saya) punya buku harian (diary). Kebiasaan menulis buku harian ini sangat baik untuk seorang penulis, di samping kebiasaan baca tulis yang ditanamkan orang tua sejak kita kecil.
Lima tugas seorang reporter tentu sudah dibahas pada sesi sebelumnya (teknik reportase dan wawancara). Lima tahap ini merupakan rangkaian organis yang jadi kaidah pekerjaan seorang reporter.
Bagaimana menentukan LEAD atau INTRO?
LEAD atau INTRO adalah bagian awal dari berita.
Satu alineanya sebaiknya tidak lebih dari 35 kata (30 kata dalam bahasa Inggris) di dalam lead inilah tercakup secara singkay keenam unsur berita. (5W + 1 H)
Hubungan antara LEAD dan SUDUT BERITA memaksa reporter untuk memikirkan LEAD sejak masih di lapangan.
Bahkan penentuan LEAD di lapangan akan sangat membantu mengarahkan pengumpulan bahan.
Nah, untuk memperkaya pengertian tentang memastikan sudut berita dan memastikan sudut berita dan menentukan lead, silakan Anda baca koran hari ini. Carilah mana yang menurut Anda cocok ditulis dari sudut PEG dan dengan LEAD PEG dan mana yang tidak.
16 macam LEAD: (Anda boleh melakukan penambahan, sesuai inovasi)
1. Lead pasak (peg)—penyebab peristiwa menjadi pembuka berita
2. Lead kontras (sisi-sisi kontras dari suatu peristiwa utama dengan keadaan sekitarnya)
3. Lead pertanyaan (Cari sebab mendasar yang bisa diajukan sebagai pertanyaan untuk memulai suatu berita)
4. Lead deskriptif (menggambarkan peristiwa seperti secara deskriptif, detil dan runut)
5. Lead Stakato (cari sudut berita yang dijadikan lead, gunakan salah satu sampel)
6. Lead Ledakan (sensasi dari suatu peristiwa diangkat di awal berita)
7. Lead Figuratif (Membingkai peristiwa dengan bahasa ungkapan, eks: bagai siang memeluk malam, begitulah perkawinan Firman (28) dan Fiola (82)……dst
8. Lead Epigram (gunakan banyak ungkapan, atau rumusan yang khas dan terkenal di dalam kehidupan masyarakat)
9. Lead Literer (Menjadikan karya sastra atau legenda yang dikenal rakyat untuk memulai mengantarkan peristiwa)
10. Lead Parodi (Sudut humor ditonjolkan dalam mengangkat berita di awal cerita)
11. Lead kutipan (dimulai dengan kutipan yang menarik)
12. Lead dialog/percakapan (dimulai dengan adegan percakapan)
13. Lead kumulatif (tiap kalimat atau alinea secara ketat membawa pembaca ke arah rasa ingin tahu yang makin besar sampai pada kesimpulan puncak, menyajikan berita secara berurut, membawa pembaca sampai pada antiklimaks peristiwa)
14. Lead suspensi (klimaks peristiwa tertunda hingga titik akhir)
15. Lead urutan (idem ditto)
16. Lead sapaan (eks: Rizki sayang, di dalam … atau pembaca, mungkin Anda)….dst
Setelah menentukan LEAD, kita perlu menginventarisasi jenis-jenis keterangan yang telah dikumpulkan di lapangan, yaitu JALAN CERITA dari PERISTIWA yang hendak Anda laporkan. Hasil inilah yang perlu dibongkar pasang sampai terasa pas dengan JALAN CERITA yang ditemukan. Itulah pula yang jadi sub judul dari berita.
Diposting oleh
Safitri Rayuni
di
5:19 AM
0
komentar
Label: media dan jurnalisme
Saturday, September 1, 2007
sekelebat asa dalam sepetak tanya
masih lima hari, itu pun aku masih menanti-nanti
kapan kebersamaan yang sisa lima hari ini bisa kurengkuh bersamamu
sebelum akhirnya aku terbang ber mil-mil jauhnya dari sini
menurut jadwal
enam minggu lamanya
tapi usia manusia
siapa jua lah yang tahu
setidaknya aku ingin
sedikit mendramatisir suasana batin ini
kekasihku
bahwa aku
ingin sungguh-sungguh menghayati
waktu-waktu aku di samping mu
memandang matamu
dari dekat
dan kau kubiarkan memandang
wajah ini
wajah yang cukup sering membuatmu
bertanya-tanya
sedalam apa arti cinta ini dapat kumaknai
wajah yang mungkin saja usianya tak kan lama
kembali.....ketika kita bicara usia
air mata kita selalu berurai
entah kita...ataukah aku?
tapi kesedihan dan haru
tak selalu bisa dibahasakan dengan air mata
tawa yang menghias di wajah
terkadang jua tangis yang menggelegak
bergemuruh seperti anak sungai menyapa muara
tidurlah sejenak kekasihku
dalam buai hangat ujung dadaku
Diposting oleh
Safitri Rayuni
di
6:47 AM
1 komentar
Label: diary
Tuesday, August 21, 2007
Dialog Ringan Membedah Nasionalisme Kita
* ‘Lontong Merdeka dan Jagung Bakar’ di Borneo त्रिबुने
Safitri Rayuni
Borneo Tribune, Pontianak
Kenapa lontong? Tanya saya ketika menu ini dijadikan sebagai menu utama sekaligus judul acara diskusi 17-an di Borneo Tribune malam Jumat lalu. Mungkin selain praktis disajikan, lontong dengan santan yang berlemak, legit dan manis dianggap cukup mewakili keberagaman dus kekentalan rasa kebersamaan yang ingin diwujudkan di sini.
Begitupula wacana dan lontaran yang disampaikan sejumlah pembicara yang hadir di Borneo Tribune benar-benar mewujudkan kenyataan yang terbayang tersebut. Kaya warna dan rasa. Manis, berlemak dan legit seperti lontong sayur dan jagung bakar malam itu.
Beri Pencerahan dan Pencerdasan
Seorang Halim Ramli misalnya. Tokoh budayawan milik Kalbar yang terkenal dengan goresan emasnya membuat maskot Kalbar “enggang gading” mengatakan betapa media massa memiliki peran nasionalisme. Ia teramat penting mendidik generasi mendatang.
Jurnalisme penting. Teramat penting. Satu-satunya yang bisa diandalkan.
Tampilan wajah, gambar hingga pilihan kata-kata harus sangat diperhatikan dalam jurnalisme. “Jurnalisme melawan kebodohan, ketertindasan, keterpinggiran! Kita di Kalbar ini tergolong tidak mampu karena terpinggirkan oleh kehendak-kehendak Pusat. Ada istilah numpang ketawa pun jadilah,” katanya.
Halim yang rambutnya kini berwarna perak ini melihat kebebasan berekspresi sudah cukup bagus dan harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. “Bukan untuk menjadi vulgar dan bebas sebebas-bebasnya. Sekarang kita sendiri yang mengatur diri kita, agar menjadi sebuah media yang elegan,” katanya.
Dulu, katanya, kalau seperti dirinya menulis “Mat Belatong” pasti sudah ditangkap rezim Orde Lama. Sekarang sudah mewah dengan kebebasan. Tentu kebebasan yang dilatari tanggung jawab moral membangun masyarakat.
Di awal era reformasi, bermunculan banyak media dengan teramat mudah. “Kran kebebasan ini membuat banyak orang dengan mudah menerbitkan media yang tujuannya juga beragam, dengan motif yang tak jarang untuk menghantam sana-sini,” katanya. Tulisan-tulisan seperti ini menurutnya lebih pantas untuk masuk ke ‘keranjang sampah’.
Borneo Tribune menurutnya harus memegang teguh prinsip awal untuk memberikan pencerahan dan pencerdasan. “Perlu dipegang teguh prinsip awal. Mudah-mudahan dengan hadirnya Borneo Tribune ada perbandingan dan warna baru di Kalbar,” katanya seraya mengecam liputan klenik, mistik yang dibesar-besarkan hingga foto vulgar nan berdarah-darah yang membuat gerah dan tidak mendidik.
Masih Terjajah
Seorang Ketua RT yang mewakili tokoh masyarakat setempat, Suprianto mengatakan saat ini kita tidak hidup di alam kemerdekaan, namun masih berada di alam penjajahan. “Sebab kemerdekaan dalam arti luas adalah merdeka dalam kehidupan berpolitik, ekonomi, dan sebagainya,” ungkapnya
Kemerdekaan kata Suprianto belum menyentuh rakyat kecil. Ia menyinggung soal penertiban illegal logging yang di satu sisi membuat masyarakat kelaparan.
Mantan pegawai BUMN yang kini membuat usaha sendiri berupa kompor minyak tanah dua tungku yang irit bahan bakar menilai pemerintah tak memberikan solusi kepada masyarakat. “Selama ini pemberitaan media lebih banyak kepada akibat, bukan sebab. Padahal kalau ada pekerjaan lain masyarakat tak mau bekerja di hutan sebab salah sedikit taruhannya nyawa. Resiko jadi pelaku illegal logging itu berat sekali. Pemerintah harus mencarikan solusi lapangan kerja,” kata alumnus Pertanian Untan ini.
Anggota DPRD Provinsi DPRD Provinsi, Michael Yan Sriwidodo, SE, MM berbagi cerita masa kecil di mana kondisi kemerdekaan era tahun 70-an hingga 80-an, juga kondisi saat ini dan pers yang kebablasan. “Kalau dulu kita sangat takut dengan aparat baik polisi maupun ABRI (TNI). Kalau mereka ada di jalan dan kita di luar maka orang-orang tua akan bilang masuk! Masuk!,” ungkap pria yang juga salah satu tokoh masyarakat Tionghoa ini.
Advokat Dwi Syafriyanti, SH menyoroti soal hukum yang tumpang-tindih dan membuat kebingungan para praktisi hukum. Ia mengaku gelisah dengan beberapa perubahan dan amandemen UUD 1945, bahkan khawatir Pancasila pun akan hilang.
Pengamat media yang mantan Direktur LPS-AIR, Faisal Reza, ST banyak mengupas soal tampilan dan rubrikasi Borneo Tribune. “Saat membaca Tribune pertama kali yang saya cari adalah Skumba. Sebab ini menjadi semacam inspirasi dan mengundang tawa. Pikiran kita selama ini media membawa ketegangan, namun dengan membaca cerita-cerita lucu seperti itu jadi berpikir ada sisi lain kehidupan yang harus ditertawakan termasuk mentertawakan diri kita sendiri,” ujar mantan aktivis mahasiswa ini.
Dikatakan, selama ini kalau membaca koran yang ditemukan pasti 5W + 1H. Namun jika ingin mendapatkan Why-mengapa-maka ia membaca Borneo Tribune. Kehadirannya diharapkan bisa memberikan warna lain bagi jurnalistik.
Faisal mengkritisi tampilan Borneo Tribune yang berani memasang gambar besar dan tulisan sedikit namun panjang bahkan ada ruang kosong. ”Mungkin selama ini mindset kita koran dengan berita yang padat, jadi belum terbiasa. Padahal Harian Tempo atau Tempo juga enak dibaca dengan tata wajahseperti itu,” kata dia sambil tersenyum.
Kepala Humas Pemprov Kalbar Drs Hamdan Harun, M.Si yang malam sangat sibuk terkaitagenda acara Agustusan Pemprov namun berusaha hadir prima menyoroti persoalan nasionalisme di Borneo Tribune. Ia kecewa dengan demo di kantor gubernur yang sampai ingin membakar dan menurunkan bendera beberapa waktu silam menyoal nasionalisme ini. ”Padahal bendera itu bukan hanya sepotong kain, namun ada makna penting bahwa puluhan ribu jiwa melayang untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan.”
Pakar hukum tata negara, Turiman Faturrachman Nur, SH, M.Hum melihat persoalan bangsa saat ini bukan hanya capacity building namun juga national and character building yang harus terus dibangun. “Untuk membangun bangsa ini mulai dari sendiri,” saran dia.
Turiman berfilsafat dengan 4 alif. Alif ditunjukkannya dengan sejengkal jari. Ia sejengkal di muka artinya mengukur diri dengan orang lain. Sejengkal ke kuping kiri dan kanan, yang artinya mau mendengar. Lalu alif satu lagi dari mulut ke hati.
Institutional Development Specialist NMC-NUSSP Ripana Puntarasa turut hadir ke malam refleksi kemerdekaan di Borneo Tribune. Ia mengaitkan kemerdekaan dan gagalnya pameran photography yang akan digelar Lukas B Wijanarko di Ayani Mega Mall. “Sesungguhnyaa hari ini ada peristiwa jurnalistik untuk pameran foto yang gagal diselenggarakan. Entah karena miss management atau apa, namun saya melihat ada arogansi di balik semua ini,” papar Ripana.
Ia melihat ada wilayah yang belum merdeka di dunia jurnalistik kita. Padahal jurnalistik adalah salah satu kunci perubahan. Media pencerdasan adalah jurnalistik. Ripana banyak menyoroti persoalan sosial dan kemasyarakatan dengan sudut pandang jurnalistik.
Semakin malam diskusi semakin hangat. Bahkan diskusi informal dilanjutkan di beranda belakang Borneo Tribune. Bermacam topik mulai dari hal sederhana hingga njelimet kembali muncul hingga pukul 00.30 WIB malam. □
Diposting oleh
Safitri Rayuni
di
5:20 AM
0
komentar
Label: diary
Sunday, August 19, 2007
‘Lontong Merdeka dan Jagung Bakar’ di Borneo Tribune
Begitupula wacana dan lontaran yang disampaikan sejumlah pembicara yang hadir di Borneo Tribune benar-benar mewujudkan kenyataan yang terbayang tersebut. Kaya warna dan rasa. Manis, berlemak dan legit seperti lontong sayur dan jagung bakar malam itu.
Beri Pencerahan dan Pencerdasan
Seorang Halim Ramli misalnya. Tokoh budayawan milik Kalbar yang terkenal dengan goresan emasnya membuat maskot Kalbar “enggang gading” mengatakan betapa media massa memiliki peran nasionalisme. Ia teramat penting mendidik generasi mendatang.
Jurnalisme penting. Teramat penting. Satu-satunya yang bisa diandalkan.
Tampilan wajah, gambar hingga pilihan kata-kata harus sangat diperhatikan dalam jurnalisme. “Jurnalisme melawan kebodohan, ketertindasan, keterpinggiran! Kita di Kalbar ini tergolong tidak mampu karena terpinggirkan oleh kehendak-kehendak Pusat. Ada istilah numpang ketawa pun jadilah,” katanya.
Halim yang rambutnya kini berwarna perak ini melihat kebebasan berekspresi sudah cukup bagus dan harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. “Bukan untuk menjadi vulgar dan bebas sebebas-bebasnya. Sekarang kita sendiri yang mengatur diri kita, agar menjadi sebuah media yang elegan,” katanya.
Dulu, katanya, kalau seperti dirinya menulis “Mat Belatong” pasti sudah ditangkap rezim Orde Lama. Sekarang sudah mewah dengan kebebasan. Tentu kebebasan yang dilatari tanggung jawab moral membangun masyarakat.
Di awal era reformasi, bermunculan banyak media dengan teramat mudah. “Kran kebebasan ini membuat banyak orang dengan mudah menerbitkan media yang tujuannya juga beragam, dengan motif yang tak jarang untuk menghantam sana-sini,” katanya. Tulisan-tulisan seperti ini menurutnya lebih pantas untuk masuk ke ‘keranjang sampah’.
Borneo Tribune menurutnya harus memegang teguh prinsip awal untuk memberikan pencerahan dan pencerdasan. “Perlu dipegang teguh prinsip awal. Mudah-mudahan dengan hadirnya Borneo Tribune ada perbandingan dan warna baru di Kalbar,” katanya seraya mengecam liputan klenik, mistik yang dibesar-besarkan hingga foto vulgar nan berdarah-darah yang membuat gerah dan tidak mendidik.
Masih Terjajah
Seorang Ketua RT yang mewakili tokoh masyarakat setempat, Suprianto mengatakan saat ini kita tidak hidup di alam kemerdekaan, namun masih berada di alam penjajahan. “Sebab kemerdekaan dalam arti luas adalah merdeka dalam kehidupan berpolitik, ekonomi, dan sebagainya,” ungkapnya
Kemerdekaan kata Suprianto belum menyentuh rakyat kecil. Ia menyinggung soal penertiban illegal logging yang di satu sisi membuat masyarakat kelaparan.
Mantan pegawai BUMN yang kini membuat usaha sendiri berupa kompor minyak tanah dua tungku yang irit bahan bakar menilai pemerintah tak memberikan solusi kepada masyarakat. “Selama ini pemberitaan media lebih banyak kepada akibat, bukan sebab. Padahal kalau ada pekerjaan lain masyarakat tak mau bekerja di hutan sebab salah sedikit taruhannya nyawa. Resiko jadi pelaku illegal logging itu berat sekali. Pemerintah harus mencarikan solusi lapangan kerja,” kata alumnus Pertanian Untan ini.
Anggota DPRD Provinsi DPRD Provinsi, Michael Yan Sriwidodo, SE, MM berbagi cerita masa kecil di mana kondisi kemerdekaan era tahun 70-an hingga 80-an, juga kondisi saat ini dan pers yang kebablasan. “Kalau dulu kita sangat takut dengan aparat baik polisi maupun ABRI (TNI). Kalau mereka ada di jalan dan kita di luar maka orang-orang tua akan bilang masuk! Masuk!,” ungkap pria yang juga salah satu tokoh masyarakat Tionghoa ini.
Advokat Dwi Syafriyanti, SH menyoroti soal hukum yang tumpang-tindih dan membuat kebingungan para praktisi hukum. Ia mengaku gelisah dengan beberapa perubahan dan amandemen UUD 1945, bahkan khawatir Pancasila pun akan hilang.
Pengamat media yang mantan Direktur LPS-AIR, Faisal Reza, ST banyak mengupas soal tampilan dan rubrikasi Borneo Tribune. “Saat membaca Tribune pertama kali yang saya cari adalah Skumba. Sebab ini menjadi semacam inspirasi dan mengundang tawa. Pikiran kita selama ini media membawa ketegangan, namun dengan membaca cerita-cerita lucu seperti itu jadi berpikir ada sisi lain kehidupan yang harus ditertawakan termasuk mentertawakan diri kita sendiri,” ujar mantan aktivis mahasiswa ini.
Dikatakan, selama ini kalau membaca koran yang ditemukan pasti 5W + 1H. Namun jika ingin mendapatkan Why-mengapa-maka ia membaca Borneo Tribune. Kehadirannya diharapkan bisa memberikan warna lain bagi jurnalistik.
Faisal mengkritisi tampilan Borneo Tribune yang berani memasang gambar besar dan tulisan sedikit namun panjang bahkan ada ruang kosong. ”Mungkin selama ini mindset kita koran dengan berita yang padat, jadi belum terbiasa. Padahal Harian Tempo atau Tempo juga enak dibaca dengan tata wajahseperti itu,” kata dia sambil tersenyum.
Kepala Humas Pemprov Kalbar Drs Hamdan Harun, M.Si yang malam sangat sibuk terkaitagenda acara Agustusan Pemprov namun berusaha hadir prima menyoroti persoalan nasionalisme di Borneo Tribune. Ia kecewa dengan demo di kantor gubernur yang sampai ingin membakar dan menurunkan bendera beberapa waktu silam menyoal nasionalisme ini. ”Padahal bendera itu bukan hanya sepotong kain, namun ada makna penting bahwa puluhan ribu jiwa melayang untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan.”
Pakar hukum tata negara, Turiman Faturrachman Nur, SH, M.Hum melihat persoalan bangsa saat ini bukan hanya capacity building namun juga national and character building yang harus terus dibangun. “Untuk membangun bangsa ini mulai dari sendiri,” saran dia.
Turiman berfilsafat dengan 4 alif. Alif ditunjukkannya dengan sejengkal jari. Ia sejengkal di muka artinya mengukur diri dengan orang lain. Sejengkal ke kuping kiri dan kanan, yang artinya mau mendengar. Lalu alif satu lagi dari mulut ke hati.
Institutional Development Specialist NMC-NUSSP Ripana Puntarasa turut hadir ke malam refleksi kemerdekaan di Borneo Tribune. Ia mengaitkan kemerdekaan dan gagalnya pameran photography yang akan digelar Lukas B Wijanarko di Ayani Mega Mall. “Sesungguhnyaa hari ini ada peristiwa jurnalistik untuk pameran foto yang gagal diselenggarakan. Entah karena miss management atau apa, namun saya melihat ada arogansi di balik semua ini,” papar Ripana.
Ia melihat ada wilayah yang belum merdeka di dunia jurnalistik kita. Padahal jurnalistik adalah salah satu kunci perubahan. Media pencerdasan adalah jurnalistik. Ripana banyak menyoroti persoalan sosial dan kemasyarakatan dengan sudut pandang jurnalistik.
Semakin malam diskusi semakin hangat. Bahkan diskusi informal dilanjutkan di beranda belakang Borneo Tribune. Bermacam topik mulai dari hal sederhana hingga njelimet kembali muncul hingga pukul 00.30 WIB malam. □
Diposting oleh
Safitri Rayuni
di
9:23 PM
0
komentar
Label: diary
Friday, June 22, 2007
Banjir Akibat Ketidakpatuhan pada RTRWK
Safitri Rayuni dan Asriyadi A Mering
Borneo Tribune, Pontianak
Banjir dan air pasang yang melanda Kota Pontianak dan sekitarnya diakibatkan ketidakkonsistenan pemerintah terhadap Rencana Tata Ruang dan Wilayah Kota (RTRWK). Hal ini ditegaskan Nova Dorma Sirait, Kasubbid Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup, Bappeda Kalbar, Kamis (21/6) kemarin.
Pernyataan ini dilontarkan dalam forum Semiloka di Rektorat Untan, dengan tema Pembangunan Berkelanjutan dan Valuasi Lingkungan Provinsi Kalbar. Nova menjawab keluhan seorang dosen FKIP Untan, yang menyoal terjadinya banjir akibat rusaknya lingkungan.
Menurut Nova, alat yang digunakan dalam pengelolaan lingkungan hidup khususnya di perkotaan adalah penataan ruang yang diatur di dalam RTRWK. Dari RTRWK ini bisa diketahui mana lahan yang dilindungi dan yang bisa dimanfaatkan. “Ketidakpatuhan terhadap RTRWK inilah yang merusak lingkungan, termasuk kerusakan di udara, tanah, banjir, kekeringan dan intrusi air laut,” terangnya.
Dicontohkan Nova, kawasan Siantan dan seterusnya yang merupakan kawasan lindung atau konservasi, namun dimanfaatkan untuk pengembangan pemukiman dan pertokoan.
Konsisten tidaknya pemerintah, kata Novi, telah ditegaskan dalam Undang-undang nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang. “Bagi pejabat yang menyalahi RTRWK daerahnya dan memberi izin pemanfaatan kawasan lindung atau daerah resapan air dikenakan sanksi pidana. Tindakan tegas aparat menjadi pembahasan dalam satu bulan terakhir,” paparnya.
Di tempat yang sama, Ketua Pusat Penelitian Kehati dan Masyarakat Lahan Basah (PPKMLB) Untan, Dr Gusti Zakaria Anshari mengatakan banjir yang terjadi akibat perubahan cuaca atau iklim. Gusti mengaitkannya dengan gejala La Nina yang muncul di berbagai kawasan, termasuk Indonesia.
“Curah hujan di Kalbar bisa dibilang cukup tinggi, ditambah volume milimeternya yang juga besar menjadi salah satu penyebabnya,” kata Gusti.
Ditambah lagi dengan daya serap lahan yang berurang akibat habisnya hutan, kerusakan gambut dan pendangkalan sungai memperparah situasi tersebut.
Pemerintah menurutnya harus konsisten dengan kaidah tata ruang yang telah dibuat bersama. Pergantian kepemimpinan, kata Gusti, janganlah menjadi penghalang untuk meneruskan program konservasi lingkungan hidup. “Peta daerah resapan air juga belum sepenuhnya kita dapatkan sehingga diperlukan keterbukaan kepada publik. Penegakan hukum juga harus berjalan sebagaimana mestinya,” tandas Gusti.
Di tempat yang sama Kepala Bapedalda Provinsi Kalbar, Ir Tri Budiarto menambahkan, selain eksistensi tata ruang kota, tipologi Kota Pontianak yang merupakan kawasan delta dan terdiri dari endapan lumpur juga menjadi faktor potensi banjir. Letaknya yang sangat rendah menyebabkan beberapa kawasan mudah terendam bila karakteristik hujannya seperti sekarang ini.
Namun demikian dia mengingatkan bahwa apa yang terjadi saat ini jangan dianggap sebagai fenomena alam semata-mata. Karena walaupun kejadiannya sama, tetapi luasan dan dampak yang ditimbulkan lebih besar dari biasanya. Dia menegaskan kalau mindset masyarakat sudah harus diubah dengan tidak lagi menganggap banjir maupun bencana yang terjadi adalah takdir Tuhan. Tetapi sangat dipengaruhi oleh deforestasi yang kian parah, konversi lahan hutan menjadi non hutan, kebakaran hutan dan emisi.
Sementara itu Rektor Universitas Tanjungpura, Dr H Chairil Effendi saat pembukaan semiloka menegaskan bahwa pembangunan berwawasan lingkungan tidak lagi cukup hanya sekadar sebagai sebuah paradigma maupun ideologi, melainkan menjadi ‘agama baru’ demi keselamatan seluruh manusia dan planet bumi ini. □
Diposting oleh
Safitri Rayuni
di
4:33 AM
2
komentar
Label: lingkungan
Thursday, May 17, 2007
Bayi Pertama Kami....
Selasa..15 Meiiii
Semua resah menanti. ketika proses editing selesai, bagian desain wajah selesai....malam sudah menjelang pagi.
Niat awal pulang diurungkan...terjegal rasa penasaran yang mendesak ingin melihat bayi pertama kami lahir...
pembukaan I, pembukaan II, III dan akhirnya...oeee..oeee..ooeee...satu demi satu edisi perdana promo sebanyak 1000 eksemplar nongol dari bibir mesin....
bak pasangan muda yang baru diberi anak, ekspresi gembira menatap wajah sang bayi pun terlihat jelas...tak sia-sia awak redaksi dan pra cetak nginap bareng di kantor tadi malam...........oeeee.......
Welcome to the world Borneo Tribune............
Sekilas tentang Borneo Tribune
Kalimantan sebagaimana terungkap dari literatur-literatur ilmiah dikenal penduduk dunia sebagai pulau terbesar ketiga setelah Green Land dan Papua. Pulau ini mengandung kekayaan yang luar biasa, baik dipandang dari aspek sumber daya alam, sumber daya manusia, maupun kekayaan kulturalnya.
Karena kekayaan Kalimantan yang begitu besar berbagai persoalan juga terdapat di sini. Mulai dari eksploitasi sumber daya alam yang terkait politik, ekonomi, pertahanan-keamanan hingga konflik antaretnis.
Media massa sesungguhnya mempunyai peranan besar menjembatani berbagai kepentingan di Kalimantan, sehingga yang mencuat adalah manfaat bersama dengan kesejahteraan bersama, bahkan untuk kemajuan bersama. Harian Borneo Tribune lahir sebagai watchdog atas kontrol sosial sehingga setiap individu di Bumi Kalimantan dapat berperan serta dalam pembangunan secara aktif.
Setiap warga juga karena pencerdasan yang dilakukan Harian Borneo Tribune dapat mengambil keputusan-keputusan yang cerdas atas masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupannya sehari-hari; arif, bijaksana serta demokratis.
Harian Borneo Tribune lahir sebagai jawaban atas kebutuhan masyarakat Kalimantan pada umumnya dan Kalimantan Barat pada khususnya atas suguhan informasi yang berkualitas. Tidak hanya berkualitas pada sajian isi, namun juga wajah maupun edisi website. Model pendekatan koran ini kepada pembacanya adalah menjunjung tinggi idealisme, keberagaman dan kebersamaan melalui jurnalisme struktural.
Asal Usul
Borneo diambil dari nama besar pulau ketiga terbesar di dunia setelah Green Land dan Papua yang berarti Brunai atau Antidesma Neurocarpum (satu tumbuhan perdu berbentuk lurus menunjuk ke langit dengan struktur kayu yang keras). Di sini terdapat makna simbolis dan filosofis bahwa kehidupan punya cita-cita yang tinggi, religi, dan tegas.
Borneo Tribune diharapkan menjadi satu media besar yang menjadi pentas kehidupan masyarakat untuk saling belajar satu sama lain sehingga tercapai misi media yakni informatif, edukatif, menghibur sekaligus menjadi alat kontrol sosial yang tegas dan lurus sebagaimana visinya: idealisme, keberagaman dan kebersamaan.
Logo
Harian Borneo Tribune menggunakan logo Enggang Gading (Rhinoplax vigil atau buceros) yang menjadi perlambang religi dan mitologi di tengah masyarakat asli Kalimantan. Enggang hidup di hutan belantara nan lebat dengan daya survival yang tinggi. Karakter Enggang setia, sabar dan menjunjung tinggi cinta-kasih. Oleh karena itu pula di dada Enggang sebagai logo Borneo Tribune melekat lambang love (cinta).
Diposting oleh
Safitri Rayuni
di
6:45 AM
0
komentar
Label: diary
Tuesday, May 8, 2007
Razia (tak) 'Simpatik'
Pontianak, Rabu 2 Mei 2007
Matahari pagi itu terik menyengat. Gerahnya membuat tubuh serasa belum mandi. Namun begitu, aku dan tunanganku, Ronny, tetap harus bergegas menuju bandara Supadio. Sebab, usai sarapan bubur di Paris I, ia ditelpon teman-temannya yang sudah tiba lebih dulu di bandara. Dengan sepeda motorku, kami berpacu dengan waktu. Jam 09.30 saat itu, pesawat yang ditumpanginya take off satu jam lagi.
Belum jauh memasuki Jalan A Yani II, jalan panjang menuju bandara, tampak sebuah keramaian. Barisan polisi lalu lintas melakukan razia simpatik (setidaknya judul itu yang aku baca dalam surat teguran yang kemudian aku terima). Sadar Ronny tak membawa SIM, kami lantas bertukar posisi memegang kemudi. Dalam sekejap aku pindah ke depan.
Namun razia yang dilakukan menurutku jauh dari sikap simpatik. Ketika mendekat, seorang polisi (kalau tak salah namanya Hengki) tiba-tiba membentak. "Masuk!!Masuk!!Cepat!Mana surat-suratnya?" tanyanya padaku. Belum juga selesai aku mengobok-obok isi dompet, ia bertanya pada Ronny. "Gak punya sim ya?" belum Ronny menjawab polisi itu kembali bertanya. "Apa hah? gak punya sim ya?"
Diposting oleh
Safitri Rayuni
di
8:45 PM
0
komentar
Label: diary
