Safitri Rayuni dan Asriyadi A Mering
Borneo Tribune, Pontianak
Banjir dan air pasang yang melanda Kota Pontianak dan sekitarnya diakibatkan ketidakkonsistenan pemerintah terhadap Rencana Tata Ruang dan Wilayah Kota (RTRWK). Hal ini ditegaskan Nova Dorma Sirait, Kasubbid Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup, Bappeda Kalbar, Kamis (21/6) kemarin.
Pernyataan ini dilontarkan dalam forum Semiloka di Rektorat Untan, dengan tema Pembangunan Berkelanjutan dan Valuasi Lingkungan Provinsi Kalbar. Nova menjawab keluhan seorang dosen FKIP Untan, yang menyoal terjadinya banjir akibat rusaknya lingkungan.
Menurut Nova, alat yang digunakan dalam pengelolaan lingkungan hidup khususnya di perkotaan adalah penataan ruang yang diatur di dalam RTRWK. Dari RTRWK ini bisa diketahui mana lahan yang dilindungi dan yang bisa dimanfaatkan. “Ketidakpatuhan terhadap RTRWK inilah yang merusak lingkungan, termasuk kerusakan di udara, tanah, banjir, kekeringan dan intrusi air laut,” terangnya.
Dicontohkan Nova, kawasan Siantan dan seterusnya yang merupakan kawasan lindung atau konservasi, namun dimanfaatkan untuk pengembangan pemukiman dan pertokoan.
Konsisten tidaknya pemerintah, kata Novi, telah ditegaskan dalam Undang-undang nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang. “Bagi pejabat yang menyalahi RTRWK daerahnya dan memberi izin pemanfaatan kawasan lindung atau daerah resapan air dikenakan sanksi pidana. Tindakan tegas aparat menjadi pembahasan dalam satu bulan terakhir,” paparnya.
Di tempat yang sama, Ketua Pusat Penelitian Kehati dan Masyarakat Lahan Basah (PPKMLB) Untan, Dr Gusti Zakaria Anshari mengatakan banjir yang terjadi akibat perubahan cuaca atau iklim. Gusti mengaitkannya dengan gejala La Nina yang muncul di berbagai kawasan, termasuk Indonesia.
“Curah hujan di Kalbar bisa dibilang cukup tinggi, ditambah volume milimeternya yang juga besar menjadi salah satu penyebabnya,” kata Gusti.
Ditambah lagi dengan daya serap lahan yang berurang akibat habisnya hutan, kerusakan gambut dan pendangkalan sungai memperparah situasi tersebut.
Pemerintah menurutnya harus konsisten dengan kaidah tata ruang yang telah dibuat bersama. Pergantian kepemimpinan, kata Gusti, janganlah menjadi penghalang untuk meneruskan program konservasi lingkungan hidup. “Peta daerah resapan air juga belum sepenuhnya kita dapatkan sehingga diperlukan keterbukaan kepada publik. Penegakan hukum juga harus berjalan sebagaimana mestinya,” tandas Gusti.
Di tempat yang sama Kepala Bapedalda Provinsi Kalbar, Ir Tri Budiarto menambahkan, selain eksistensi tata ruang kota, tipologi Kota Pontianak yang merupakan kawasan delta dan terdiri dari endapan lumpur juga menjadi faktor potensi banjir. Letaknya yang sangat rendah menyebabkan beberapa kawasan mudah terendam bila karakteristik hujannya seperti sekarang ini.
Namun demikian dia mengingatkan bahwa apa yang terjadi saat ini jangan dianggap sebagai fenomena alam semata-mata. Karena walaupun kejadiannya sama, tetapi luasan dan dampak yang ditimbulkan lebih besar dari biasanya. Dia menegaskan kalau mindset masyarakat sudah harus diubah dengan tidak lagi menganggap banjir maupun bencana yang terjadi adalah takdir Tuhan. Tetapi sangat dipengaruhi oleh deforestasi yang kian parah, konversi lahan hutan menjadi non hutan, kebakaran hutan dan emisi.
Sementara itu Rektor Universitas Tanjungpura, Dr H Chairil Effendi saat pembukaan semiloka menegaskan bahwa pembangunan berwawasan lingkungan tidak lagi cukup hanya sekadar sebagai sebuah paradigma maupun ideologi, melainkan menjadi ‘agama baru’ demi keselamatan seluruh manusia dan planet bumi ini. □
Friday, June 22, 2007
Banjir Akibat Ketidakpatuhan pada RTRWK
Diposting oleh
Safitri Rayuni
di
4:33 AM
2
komentar
Label: lingkungan
Thursday, May 17, 2007
Bayi Pertama Kami....
Selasa..15 Meiiii
Semua resah menanti. ketika proses editing selesai, bagian desain wajah selesai....malam sudah menjelang pagi.
Niat awal pulang diurungkan...terjegal rasa penasaran yang mendesak ingin melihat bayi pertama kami lahir...
pembukaan I, pembukaan II, III dan akhirnya...oeee..oeee..ooeee...satu demi satu edisi perdana promo sebanyak 1000 eksemplar nongol dari bibir mesin....
bak pasangan muda yang baru diberi anak, ekspresi gembira menatap wajah sang bayi pun terlihat jelas...tak sia-sia awak redaksi dan pra cetak nginap bareng di kantor tadi malam...........oeeee.......
Welcome to the world Borneo Tribune............
Sekilas tentang Borneo Tribune
Kalimantan sebagaimana terungkap dari literatur-literatur ilmiah dikenal penduduk dunia sebagai pulau terbesar ketiga setelah Green Land dan Papua. Pulau ini mengandung kekayaan yang luar biasa, baik dipandang dari aspek sumber daya alam, sumber daya manusia, maupun kekayaan kulturalnya.
Karena kekayaan Kalimantan yang begitu besar berbagai persoalan juga terdapat di sini. Mulai dari eksploitasi sumber daya alam yang terkait politik, ekonomi, pertahanan-keamanan hingga konflik antaretnis.
Media massa sesungguhnya mempunyai peranan besar menjembatani berbagai kepentingan di Kalimantan, sehingga yang mencuat adalah manfaat bersama dengan kesejahteraan bersama, bahkan untuk kemajuan bersama. Harian Borneo Tribune lahir sebagai watchdog atas kontrol sosial sehingga setiap individu di Bumi Kalimantan dapat berperan serta dalam pembangunan secara aktif.
Setiap warga juga karena pencerdasan yang dilakukan Harian Borneo Tribune dapat mengambil keputusan-keputusan yang cerdas atas masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupannya sehari-hari; arif, bijaksana serta demokratis.
Harian Borneo Tribune lahir sebagai jawaban atas kebutuhan masyarakat Kalimantan pada umumnya dan Kalimantan Barat pada khususnya atas suguhan informasi yang berkualitas. Tidak hanya berkualitas pada sajian isi, namun juga wajah maupun edisi website. Model pendekatan koran ini kepada pembacanya adalah menjunjung tinggi idealisme, keberagaman dan kebersamaan melalui jurnalisme struktural.
Asal Usul
Borneo diambil dari nama besar pulau ketiga terbesar di dunia setelah Green Land dan Papua yang berarti Brunai atau Antidesma Neurocarpum (satu tumbuhan perdu berbentuk lurus menunjuk ke langit dengan struktur kayu yang keras). Di sini terdapat makna simbolis dan filosofis bahwa kehidupan punya cita-cita yang tinggi, religi, dan tegas.
Borneo Tribune diharapkan menjadi satu media besar yang menjadi pentas kehidupan masyarakat untuk saling belajar satu sama lain sehingga tercapai misi media yakni informatif, edukatif, menghibur sekaligus menjadi alat kontrol sosial yang tegas dan lurus sebagaimana visinya: idealisme, keberagaman dan kebersamaan.
Logo
Harian Borneo Tribune menggunakan logo Enggang Gading (Rhinoplax vigil atau buceros) yang menjadi perlambang religi dan mitologi di tengah masyarakat asli Kalimantan. Enggang hidup di hutan belantara nan lebat dengan daya survival yang tinggi. Karakter Enggang setia, sabar dan menjunjung tinggi cinta-kasih. Oleh karena itu pula di dada Enggang sebagai logo Borneo Tribune melekat lambang love (cinta).
Diposting oleh
Safitri Rayuni
di
6:45 AM
0
komentar
Label: diary
Tuesday, May 8, 2007
Razia (tak) 'Simpatik'
Pontianak, Rabu 2 Mei 2007
Matahari pagi itu terik menyengat. Gerahnya membuat tubuh serasa belum mandi. Namun begitu, aku dan tunanganku, Ronny, tetap harus bergegas menuju bandara Supadio. Sebab, usai sarapan bubur di Paris I, ia ditelpon teman-temannya yang sudah tiba lebih dulu di bandara. Dengan sepeda motorku, kami berpacu dengan waktu. Jam 09.30 saat itu, pesawat yang ditumpanginya take off satu jam lagi.
Belum jauh memasuki Jalan A Yani II, jalan panjang menuju bandara, tampak sebuah keramaian. Barisan polisi lalu lintas melakukan razia simpatik (setidaknya judul itu yang aku baca dalam surat teguran yang kemudian aku terima). Sadar Ronny tak membawa SIM, kami lantas bertukar posisi memegang kemudi. Dalam sekejap aku pindah ke depan.
Namun razia yang dilakukan menurutku jauh dari sikap simpatik. Ketika mendekat, seorang polisi (kalau tak salah namanya Hengki) tiba-tiba membentak. "Masuk!!Masuk!!Cepat!Mana surat-suratnya?" tanyanya padaku. Belum juga selesai aku mengobok-obok isi dompet, ia bertanya pada Ronny. "Gak punya sim ya?" belum Ronny menjawab polisi itu kembali bertanya. "Apa hah? gak punya sim ya?"
Diposting oleh
Safitri Rayuni
di
8:45 PM
0
komentar
Label: diary
Thursday, April 19, 2007
Senja
Andai bisa kulukis senja di atas kanvas mungkin ku tak harus menghabiskan banyak kata tuk menggambarkan keindahanmu..tak kuhabiskan banyak waktu mencerna makna mu lewat novel-novel seno gumira...kau senjaku...jingga bahagia.......sebahagia sukap ketika mencurinya selebar kartu pos, untuk dikirimkan pada sang kekasih, Alina....meski Sukap pada akhirnya harus rela menelusuri terowongan bawah tanah lantaran diburon polisi...karena bagi ku tak cukup itu semua...setelah aku menyaksikan sendiri keindahan jinggamu.......diujung pantai itu, bersama seorang kekasih.
Senja..karena mu aku berani memutuskan untuk menikah...yang kata banyak orang entah kenapa aku berubah...
Seandainya saja kutemukan lagi senja itu, senja paling indah dalam hidupku, tentu bersama seseorang di sampingku, bersama-sama menikmati senja di masa senja............
dedicated to my dear...terima kasih telah menghadirkan senja terindah itu
Diposting oleh
Safitri Rayuni
di
8:24 PM
0
komentar
Label: diary
The First
Friday, 20/04/2007
Hidup yang tak direnungi,
tak layak dijalani (pepatah Yunani kuno)
Keterasingan mungkin melahirkan dunia baru bagi kita....dunia perenungan yang dalam, hingga melahirkan embrio kata-kata yang serba tak beraturan...berceceran tergesa gelisah ingin muntah...
oo-ee-ii --aa, semua vokal, menyesak teriak berontak ingin keluar menjadi kata-kata lalu kalimat...
Keterasingan melahirkan tulisan, menoreh sejarah dalam hitam putih tinta
tetap ada, saat kita tiada......
Diposting oleh
Safitri Rayuni
di
7:36 PM
0
komentar
Label: diary
Sunday, February 11, 2007
Fenomenal, Bayi Kambing Mirip Manusia
Safitri Rayuni
Borneo Tribune, Pontianak
Pagi yang hening di Jalan Sutoyo mendadak buyar dengan kerumunan warga RT 02 RW 17. PNS yang sedang bekerja di lingkungan perkantoran sekitarnya pun ikut dalam kerumunan itu.
Kilatan blitz dari kamera digital dan handphone terasa menyilaukan. Sesosok objek berbulu hitam menyerupai bayi manusia ada di tengahnya.
Bulat dan berbulu. Ada lingkaran putih di tengah seperti batas pinggang, dengan kepala menjulur lidah pendek, berkelamin laki-laki, dengan potongan tubuh menyerupai manusia.
“Hiiii! Amit-amit jabang bayi!” seru seorang ibu berpakaian seragam PNS tengah bergidik ngeri. Ia mengusap-usap perutnya. Di sekelilingnya, warga mengalami perasaan yang tak jauh beda. Mereka berdecak, menggeleng-gelengkan kepala. Ada yang bergidik ngeri, ada pula yang menatap tak berkedip karena heran. Warga yang sudah lama berada di TKP, sibuk mengabadikan objek langka itu dengan kameranya.
Lahir jam 07.00 WIB, Jumat (2/11) kemarin, kambing milik Abdullah (55) ini lantas jadi bahan pembicaraan. Kerumunan di bawah pohon, tepatnya di kanan pagar Kantor Diknas Kota Pontianak itu mengundang perhatian warga lain yang sedang melintas.
Abdullah juga ikut dalam kerumunan itu. Ia tak henti-hentinya menjawab pertanyaan warga. Pria yang tinggal di belakang SMU Immanuel, di Jalan Sutoyo ini juga mengaku kaget atas kejadian itu. “Kambing ini memang saya lepas dari kemarin sore, dan semalaman tidak dimasukkan ke kandang. Eh taunya pagi ini sudah melahirkan di sini,” katanya menunjuk tepi parit tempat induk kambing miliknya itu. Di sekitarnya, dua ekor anak kambing lahir normal dan hidup, sementara bayi kambing aneh ini mati tak lama setelah lahir.
Dikatakannya, Kamis (1/11) sore semula ia hendak mencari rumput bagi kambing yang sedang bunting besar ini. “Tetapi niat itu saya urungkan, karena cuaca mendung tebal, seperti akan hujan. Jadi kambing ini saya biarkan merumput di halaman ini,” terangnya.
Dibiarkan merumput semalaman, Abdullah merasa perlu menjemput pulang kambing yang ditambatkannya tak jauh dari rumah itu. Betapa terkejutnya ia melihat kejadian unik dan ajaib ini, dan berharap tidak ada sesuatu yang buruk akan terjadi. “Saya tidak pernah melihat kejadian aneh seperti ini, meskipun beberapa tahun lalu kambing saya pernah melahirkan anak kambing dengan kepala tiga dan juga mati,” jelasnya. □
Diposting oleh
Safitri Rayuni
di
11:18 AM
0
komentar
Label: diary
Sunday, December 17, 2006
Jepang dan Eropa Perketat Syarat Mutu Produk Perikanan Kalbar
Oleh : Safitri Rayuni
Bisnis Indonesia
PONTIANAK- Jepang dan sejumlah negara-negara di Eropa, sebagai negara tujuan ekspor terbesar hasil perikanan Kalbar, baru-baru ini memperketat persyaratan mutu produk perikanan Kalbar. Hal ini disampaikan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Barat, Budi Hariyanto dalam Pelatihan Program Management Mutu Terpadu (PMMT) Hasil Perikanan, selama lima hari di Hotel Merpati Pontianak, jumat (24/11).
“Mereka melakukan pengujian antibiotik di setiap border kontrol mereka, oleh karena itu kerjasama antara petugas pengendali, pembina mutu dan pelaku usaha dengan Lembaga Pengendali dan Pembina Mutu Hasil Perikanan (LPPMHP) harus dibangun secara efektif,” imbaunya.
Kerjasama ini menurutnya penting, agar produk perikanan Kalbar baik untuk pasar luar maupun dalam negeri benar-benar bebas dari zat antibiotik, cemaran bakteri pathogen dan residu bahan kimia lainnya yang berbahaya bagi kesehatan manusia.
Ia berharap petugas yang menangani pengendalian dan pembinaan mutu hasil perikanan bersama LPPMHP, benar-benar menjadi katup pengaman bagi produk perikanan, baik sebagai konsumsi dalam negeri maupun untuk ekspor. Komoditi perikanan Kalbar menurut Budi telah memberi kontribusi Pendapatan asli daerah (PAD) dan devisa yang signifikan pada pertumbuhan ekonomi negara melalui kegiatan pemasaran dalam dan luar negeri. “Pengolahan dan pemasaran, termasuk pembinaan dan pengendalian mutu hasil perikanan adalah mata rantai kegiatan yang urgen dalam membangun sektor perikanan,” lanjutnya.
Ketua Panitia pelatihan PPMT yang juga Kabid Pengembangan Kelembagaan dan Pemasaran Hasil Ikan, Bambang Sugito mengatakan tujuan pelatihan tersebut untuk meningkatkan pemahaman dan menyamakan persepsi para pengawas mutu pusat dan daerah, di bidang pengawasan mutu hasil perikanan.
“Disamping itu, kita bertugas menyampaikan informasi tentang isu-isu yang berkembang, terkait dengan bidang pengendalian dan pengawasan mutu hasil perikanan,” katanya. Kegiatan yang terselenggara selama 5 hari ini diikuti 40 peserta terdiri dari, Tenaga Teknis Perikanan, Pengawas Mutu dari Dinas Kelautan dan Perikanan provinsi, kabupaten dan kota, serta dari Quality Control (QC) perusahaan Cold Storage di Kalbar. (K6/bisnis)
Diposting oleh
Safitri Rayuni
di
4:29 AM
0
komentar
Label: ekonomi
Sunday, December 3, 2006
JACA Hibahkan Dua Alat Pertanian
Oleh : Safitri Rayuni
Bisnis Indonesia
PONTIANAK-Melihat keseriusan dan komitmen Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat di bidang pertanian, Japan Agriculture Corporation Association (JACA) memberikan bantuan dua unit peralatan penanaman padi dan panen padi kepada Kalbar.
Gubernur Kalbar, Usman Ja’far mengatakan dua unit alat yang diberikan oleh JACA adalah upaya bantuan yang diusahakan para pelajar yang magang di Jepang atas komitmen Kalbar membangun pertanian.
“Tahun depan diharapkan sudah ada pelajar Kalbar yang sudah selesai magang. Setibanya di Kalbar mereka dapat membantu petani di lapangan dalam menggunkan peralatan yang diberikan JACA ini,” ungkapnya kepada ditemui usai menerima bantuan dari Jepang di Pondopo Gubernur, Kamis (22/11).
Usman menjelaskan bantuan yang diberikan oleh jepang ini dalam rangka memulai teknologi moderen di bidang pertanian, sekaligus sebagai proyek percontohan untuk Kabupaten Pontianak. “Dua alat ini nantinya akan diterapkan di Kabupaten Pontianak, tepatnya di Sungai Kunyit,” ujar Usman Ja'far.
Dua buah mesin ini dapat dipindah-pindahkan, sehingga nantinya bisa dipakai bergantian di daerah-daerah lain. “Untuk mendapatkan hasil pertanian yang baik, pemerintah berusaha akan melakukan perbaikan lahan, pengairan, pembibitan dan juga akan melakukan penyuluhan-penyuluhan tentang pertanian,” timpalnya.
Usman Ja'far berharap kerjasama Kalbar dengan Jepang tidak hanya sebatas dibidang pendidikan pertanian saja, melainkan dapat bekerjasama di bidang pengolahan hasil pertanian hingga pemasaran. “Pemasaran nantinya juga bisa diarahkan ke Jepang,” kata Usman.
Yang menjadi masalah selama ini tambah menurutnya adalah masalah angkutan. “Persoalan angkutan perlu dipikirkan dalam memasarkan hasil pertanian Kalbar ke luar negeri. Karena jika menggunakan kapal, jarak yang ditempuh cukup jauh sedangkan jika menggunakan pesawat, penerbangan di Kalbar tidak memiliki cargo,” tandasnya. (K6/bisnis)
Diposting oleh
Safitri Rayuni
di
4:19 AM
0
komentar
Label: ekonomi
Tuesday, November 21, 2006
Pengembangan Pengelolaan Hasil PertanianPusat Siapkan Rp 1 Triliun Bagi Gapoktan
Oleh : Safitri RayuniBisnis Indonesia
PONTIANAK-Dirjen Pengelolan dan Pemasaran Hasil Pertanian (P2HP) Departemen Pertanian RI, Djoko Said Damardjati dalam pertemuan evaluasi kinerja pembangunan pemasaran hasil pertanian di Pontianak, Sabtu (18/11) mengatakan pemerintah pusat menyiapkan bantuan Rp 1 Triliun bagi gabungan kelompok tani (gapoktan) di daerah-daerah.Bantuan yang digulirkan di tahun 2007 ini akan dilengkapi dengan bantuan kemudahan kredit tanpa agunan, penekanan bunga hingga lima persen, hingga bantuan uang muka sebesar 20 persen dari total pinjaman kelompok tani.
“Pemerintah telah merubah pola bantuan yang diberikan dengan tidak lagi memberikan bantuan berupa alat pertanian tapi bantuan jaminan dan kemudahan pinjaman,” ungkapnya di depan 12 kepala dinas pertanian dan kehewanan kabupaten dan kota se-Kalbar, yang hadir di Function Hall Kapuas Palace Hotel.“Jika tahun sebelumnya dana pinjaman yang disediakan hanya Rp 245 miliar saja, maka di tahun 2007 telah disiapkan Rp 1 Triliun sebagai jaminan usaha, yang distribusi nya untuk masing-masing daerah masih akan dibahas lagi,” lanjutnya. Dengan jaminan ini, petani dan kelompok tani yang mau meminjam tidak perlu memiliki agunan, karena sudah dijamin oleh pemerintah. Karena jaminan dimaksud untuk usaha pengolahan dan pemasaran pertanian, setiap gapoktan harus menjelaskan bentuk dan jenis usahanya dalam sebuah proposal usulan.Dimisalkan kredit yang diajukan sebesar 200 juta, untuk membeli alat pengolahan dan pemasaran pertanian sudah disetujui dan ditandatangani, maka akan diberikan 40 juta gratis sebagai uang muka. Gapoktan hanya diwajibkan mengembalikan Rp 160 juta, dengan bantuan bunga lima persen dan peminjaman dilakukan tanpa agunan ke sejumlah bank yang ditunjuk pemerintah, yakni BNI, Bank Mandiri, BRI, dan Bank Kalbar.“Pinjaman yang diajukan bukan oleh individu petani tetapi kelompok tani, kita akan berikan pendampingan kepada gapoktan selaku mitra bank yang harus kita latih untuk mendapat kredit tersebut,” ungkap Djoko. Jaminan Rp 1 triliun ini menurutnya akan menarik kemungkinan investasi mencapai sepuluh kali lipat. “Kalau dihitung dari 1 triliun ini kemungkinan akan menarik investasi hingga sepuluh kali lipat bahkan 20 kali lipat,” ujarnya. Apabila bank hanya mampu menekan bunga sebesar dua hingga lima persen, dan pemerintah mensubsidi penekanan bunga lima persen maka di tahun 2007 bunga pinjaman bisa ditekan hingga sepuluh persen.“Selama ini petani Indonesia baru menjadi produsen, yang ingin kita canangkan bagaimana petani Indonesia menjadi pemasok produk pertanian, sekarang pemasoknya orang lain, pengusaha lain yang datang yang membeli kepada petani , dia yang menjadi pemasok. Karenanya petani harus bergabung dalam poktan, tidak mungkin pribadi masing-masing petani,” tandasnya.Kepala Dinas Pertanian Kalbar, Hazairin menambahkan kelemahan petani Kalbar ada pada permasalahan kemasan produksi. “Kelemahan kita di packing dan banyak home industri kita lemah dalam kemampuan desainnya. Selain itu packaging yang bagus itu harus dipesan dalam jumlah yang banyak, baru harganya bisa murah,” timpalnya.Karenanya, ia menambahkan gabungan kelompok amat penting sehingga bantuan yang disiapkan pemerintah baik subsidi bunga dan uang muka maka bisa dilakukan. “Penting ada pendampingan yang membantu desain ini,” ujarnya. Mulai dari produksi lidah buaya, pemerintah provinsi Kalbar sudah membantu desain dan permodalan hingga mesinnya, baru produk lidah buaya di Kalbar bisa menjadi hasil home industri yang standar. “Kita juga akan terapkan pada produk jeruk. Packaging harus bagus dengan kuantitas pesanan yang juga banyak. Sehingga produknya juga bersaing,” tandasnya.(K6)
November 21, 2006 Permalink Comments (0)
Diposting oleh
Safitri Rayuni
di
4:30 AM
0
komentar
Label: ekonomi
Friday, November 3, 2006
Target 1,2 juta Hektar Pohon Karet Belum Tercapai
Kalbar Minta 100 Hektar Bibit ke Deptan
Oleh : Safitri Rayuni
Bisnis Indonesia
PONTIANAK-Target Pemerintah Provinsi Kalbar bisa menanam 1,2 juta hektar pohon karet tahun ini belum tercapai. Saat ini baru tertanam sekitar 408 ribu hektar yang tersebar di 12 kabupaten dan kota se-Kalbar. Sebagian besar didominasi oleh petani karet rakyat di pelosok-pelosok desa.
“Perkebunan ini pun telah menjadi tulang punggung aktivitas kehidupan sosial ekonomi masyarakat pedesaan. Karenanya, pemerintah berupaya mengembangkan sektor ini menjadi sektor unggulan khususnya di Kabupaten Sintang,” ungkap Kepala Dinas Perkebunan Kalbar, Idwar Hanis, diwawancara Jumat (24/11).
Menurut catatan Dinas Perkebunan, dari 408 ribu hektar tanaman karet yang tersebar ini, 88 ribu hektarnya adalah tanaman yang usianya sudah 20 tahun ke atas dan tergolong tanaman karet tua. Sementara tanaman yang masih muda belum berproduksi.
“Jumlah tanaman yang belum berproduksi sekitar 120 hektar lebih, sedangkan karet yang ditoreh oleh masyarakat sekitar 260 hektar,” ujarnya. Kebun karet yang ditoreh oleh masyarakat ini lah yang menjadi bisnis perdagangan karet di Kalbar.
Sabtu (18/11) lalu, Gubernur Kalbar H Usman Ja’far sempat berdialog dengan masyarakat Desa Paoh Benua Kecamatan Sepauk Kabupaten Sintang (sekitar 315 kilometer dari Kota Pontianak), yang sebagian besar adalah petani karet.
Usman Ja’far mengatakan untuk memenuhi target penanaman 1,2 juta hektar tanaman karet, maka setiap tahunnya akan dilakukan peremajaan kebun karet. Penggantian 88 ribu hektar tanaman karet tua ini diperkirakan Usman memakan waktu sekitar 12 tahun lamanya.
“Pemerintah Provinsi Kalbar telah berusaha minta bantuan kepada Menteri Pertanian pusat untuk memberi bibit karet sebanyak 100 ha dalam tahun 2007 dan 2008, apabila hal ini terealisasi maka Kalbar kedepan dapat mengembangkan tanaman karet ini menjadi tanaman unggulan,” ungkapnya.
Bupati Sintang Milton Crosby dalam keterangannya mengatakan perkebunan karet rakyat sampai tahun 2006 mencapai luas 59.896 ha dengan melibatkan 28.902 kepala keluarga. “Namun tingkat kesejahteraan petani karet rakyat masih belum optimal, hal ini disebabkan tingkat faktor produktivitas karet rakyat masih rendah, hanya mencapai 0,93 kilogram kg/ha/areal, serta sistem tata niaga yang belum berpihak kepada petani,” tandasnya.(K6/bisnis)
Diposting oleh
Safitri Rayuni
di
4:28 AM
0
komentar
Label: ekonomi
