Tuesday, August 21, 2007

Dialog Ringan Membedah Nasionalisme Kita

* ‘Lontong Merdeka dan Jagung Bakar’ di Borneo त्रिबुने

Safitri Rayuni
Borneo Tribune, Pontianak

Kenapa lontong? Tanya saya ketika menu ini dijadikan sebagai menu utama sekaligus judul acara diskusi 17-an di Borneo Tribune malam Jumat lalu. Mungkin selain praktis disajikan, lontong dengan santan yang berlemak, legit dan manis dianggap cukup mewakili keberagaman dus kekentalan rasa kebersamaan yang ingin diwujudkan di sini.
Begitupula wacana dan lontaran yang disampaikan sejumlah pembicara yang hadir di Borneo Tribune benar-benar mewujudkan kenyataan yang terbayang tersebut. Kaya warna dan rasa. Manis, berlemak dan legit seperti lontong sayur dan jagung bakar malam itu.

Beri Pencerahan dan Pencerdasan
Seorang Halim Ramli misalnya. Tokoh budayawan milik Kalbar yang terkenal dengan goresan emasnya membuat maskot Kalbar “enggang gading” mengatakan betapa media massa memiliki peran nasionalisme. Ia teramat penting mendidik generasi mendatang.
Jurnalisme penting. Teramat penting. Satu-satunya yang bisa diandalkan.
Tampilan wajah, gambar hingga pilihan kata-kata harus sangat diperhatikan dalam jurnalisme. “Jurnalisme melawan kebodohan, ketertindasan, keterpinggiran! Kita di Kalbar ini tergolong tidak mampu karena terpinggirkan oleh kehendak-kehendak Pusat. Ada istilah numpang ketawa pun jadilah,” katanya.
Halim yang rambutnya kini berwarna perak ini melihat kebebasan berekspresi sudah cukup bagus dan harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. “Bukan untuk menjadi vulgar dan bebas sebebas-bebasnya. Sekarang kita sendiri yang mengatur diri kita, agar menjadi sebuah media yang elegan,” katanya.
Dulu, katanya, kalau seperti dirinya menulis “Mat Belatong” pasti sudah ditangkap rezim Orde Lama. Sekarang sudah mewah dengan kebebasan. Tentu kebebasan yang dilatari tanggung jawab moral membangun masyarakat.
Di awal era reformasi, bermunculan banyak media dengan teramat mudah. “Kran kebebasan ini membuat banyak orang dengan mudah menerbitkan media yang tujuannya juga beragam, dengan motif yang tak jarang untuk menghantam sana-sini,” katanya. Tulisan-tulisan seperti ini menurutnya lebih pantas untuk masuk ke ‘keranjang sampah’.
Borneo Tribune menurutnya harus memegang teguh prinsip awal untuk memberikan pencerahan dan pencerdasan. “Perlu dipegang teguh prinsip awal. Mudah-mudahan dengan hadirnya Borneo Tribune ada perbandingan dan warna baru di Kalbar,” katanya seraya mengecam liputan klenik, mistik yang dibesar-besarkan hingga foto vulgar nan berdarah-darah yang membuat gerah dan tidak mendidik.

Masih Terjajah
Seorang Ketua RT yang mewakili tokoh masyarakat setempat, Suprianto mengatakan saat ini kita tidak hidup di alam kemerdekaan, namun masih berada di alam penjajahan. “Sebab kemerdekaan dalam arti luas adalah merdeka dalam kehidupan berpolitik, ekonomi, dan sebagainya,” ungkapnya
Kemerdekaan kata Suprianto belum menyentuh rakyat kecil. Ia menyinggung soal penertiban illegal logging yang di satu sisi membuat masyarakat kelaparan.
Mantan pegawai BUMN yang kini membuat usaha sendiri berupa kompor minyak tanah dua tungku yang irit bahan bakar menilai pemerintah tak memberikan solusi kepada masyarakat. “Selama ini pemberitaan media lebih banyak kepada akibat, bukan sebab. Padahal kalau ada pekerjaan lain masyarakat tak mau bekerja di hutan sebab salah sedikit taruhannya nyawa. Resiko jadi pelaku illegal logging itu berat sekali. Pemerintah harus mencarikan solusi lapangan kerja,” kata alumnus Pertanian Untan ini.


Anggota DPRD Provinsi DPRD Provinsi, Michael Yan Sriwidodo, SE, MM berbagi cerita masa kecil di mana kondisi kemerdekaan era tahun 70-an hingga 80-an, juga kondisi saat ini dan pers yang kebablasan. “Kalau dulu kita sangat takut dengan aparat baik polisi maupun ABRI (TNI). Kalau mereka ada di jalan dan kita di luar maka orang-orang tua akan bilang masuk! Masuk!,” ungkap pria yang juga salah satu tokoh masyarakat Tionghoa ini.
Advokat Dwi Syafriyanti, SH menyoroti soal hukum yang tumpang-tindih dan membuat kebingungan para praktisi hukum. Ia mengaku gelisah dengan beberapa perubahan dan amandemen UUD 1945, bahkan khawatir Pancasila pun akan hilang.
Pengamat media yang mantan Direktur LPS-AIR, Faisal Reza, ST banyak mengupas soal tampilan dan rubrikasi Borneo Tribune. “Saat membaca Tribune pertama kali yang saya cari adalah Skumba. Sebab ini menjadi semacam inspirasi dan mengundang tawa. Pikiran kita selama ini media membawa ketegangan, namun dengan membaca cerita-cerita lucu seperti itu jadi berpikir ada sisi lain kehidupan yang harus ditertawakan termasuk mentertawakan diri kita sendiri,” ujar mantan aktivis mahasiswa ini.
Dikatakan, selama ini kalau membaca koran yang ditemukan pasti 5W + 1H. Namun jika ingin mendapatkan Why-mengapa-maka ia membaca Borneo Tribune. Kehadirannya diharapkan bisa memberikan warna lain bagi jurnalistik.
Faisal mengkritisi tampilan Borneo Tribune yang berani memasang gambar besar dan tulisan sedikit namun panjang bahkan ada ruang kosong. ”Mungkin selama ini mindset kita koran dengan berita yang padat, jadi belum terbiasa. Padahal Harian Tempo atau Tempo juga enak dibaca dengan tata wajahseperti itu,” kata dia sambil tersenyum.
Kepala Humas Pemprov Kalbar Drs Hamdan Harun, M.Si yang malam sangat sibuk terkaitagenda acara Agustusan Pemprov namun berusaha hadir prima menyoroti persoalan nasionalisme di Borneo Tribune. Ia kecewa dengan demo di kantor gubernur yang sampai ingin membakar dan menurunkan bendera beberapa waktu silam menyoal nasionalisme ini. ”Padahal bendera itu bukan hanya sepotong kain, namun ada makna penting bahwa puluhan ribu jiwa melayang untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan.”
Pakar hukum tata negara, Turiman Faturrachman Nur, SH, M.Hum melihat persoalan bangsa saat ini bukan hanya capacity building namun juga national and character building yang harus terus dibangun. “Untuk membangun bangsa ini mulai dari sendiri,” saran dia.
Turiman berfilsafat dengan 4 alif. Alif ditunjukkannya dengan sejengkal jari. Ia sejengkal di muka artinya mengukur diri dengan orang lain. Sejengkal ke kuping kiri dan kanan, yang artinya mau mendengar. Lalu alif satu lagi dari mulut ke hati.
Institutional Development Specialist NMC-NUSSP Ripana Puntarasa turut hadir ke malam refleksi kemerdekaan di Borneo Tribune. Ia mengaitkan kemerdekaan dan gagalnya pameran photography yang akan digelar Lukas B Wijanarko di Ayani Mega Mall. “Sesungguhnyaa hari ini ada peristiwa jurnalistik untuk pameran foto yang gagal diselenggarakan. Entah karena miss management atau apa, namun saya melihat ada arogansi di balik semua ini,” papar Ripana.
Ia melihat ada wilayah yang belum merdeka di dunia jurnalistik kita. Padahal jurnalistik adalah salah satu kunci perubahan. Media pencerdasan adalah jurnalistik. Ripana banyak menyoroti persoalan sosial dan kemasyarakatan dengan sudut pandang jurnalistik.
Semakin malam diskusi semakin hangat. Bahkan diskusi informal dilanjutkan di beranda belakang Borneo Tribune. Bermacam topik mulai dari hal sederhana hingga njelimet kembali muncul hingga pukul 00.30 WIB malam. □

Read More..

Sunday, August 19, 2007

‘Lontong Merdeka dan Jagung Bakar’ di Borneo Tribune

Dialog Ringan Membedah Nasionalisme Kita
Safitri Rayuni
Kenapa lontong? Tanya saya ketika menu ini dijadikan sebagai menu utama sekaligus judul acara diskusi 17-an di Borneo Tribune malam Jumat lalu. Mungkin selain praktis disajikan, lontong dengan santan yang berlemak, legit dan manis dianggap cukup mewakili keberagaman dus kekentalan rasa kebersamaan yang ingin diwujudkan di sini.
Begitupula wacana dan lontaran yang disampaikan sejumlah pembicara yang hadir di Borneo Tribune benar-benar mewujudkan kenyataan yang terbayang tersebut. Kaya warna dan rasa. Manis, berlemak dan legit seperti lontong sayur dan jagung bakar malam itu.

Beri Pencerahan dan Pencerdasan
Seorang Halim Ramli misalnya. Tokoh budayawan milik Kalbar yang terkenal dengan goresan emasnya membuat maskot Kalbar “enggang gading” mengatakan betapa media massa memiliki peran nasionalisme. Ia teramat penting mendidik generasi mendatang.
Jurnalisme penting. Teramat penting. Satu-satunya yang bisa diandalkan.
Tampilan wajah, gambar hingga pilihan kata-kata harus sangat diperhatikan dalam jurnalisme. “Jurnalisme melawan kebodohan, ketertindasan, keterpinggiran! Kita di Kalbar ini tergolong tidak mampu karena terpinggirkan oleh kehendak-kehendak Pusat. Ada istilah numpang ketawa pun jadilah,” katanya.
Halim yang rambutnya kini berwarna perak ini melihat kebebasan berekspresi sudah cukup bagus dan harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. “Bukan untuk menjadi vulgar dan bebas sebebas-bebasnya. Sekarang kita sendiri yang mengatur diri kita, agar menjadi sebuah media yang elegan,” katanya.
Dulu, katanya, kalau seperti dirinya menulis “Mat Belatong” pasti sudah ditangkap rezim Orde Lama. Sekarang sudah mewah dengan kebebasan. Tentu kebebasan yang dilatari tanggung jawab moral membangun masyarakat.
Di awal era reformasi, bermunculan banyak media dengan teramat mudah. “Kran kebebasan ini membuat banyak orang dengan mudah menerbitkan media yang tujuannya juga beragam, dengan motif yang tak jarang untuk menghantam sana-sini,” katanya. Tulisan-tulisan seperti ini menurutnya lebih pantas untuk masuk ke ‘keranjang sampah’.
Borneo Tribune menurutnya harus memegang teguh prinsip awal untuk memberikan pencerahan dan pencerdasan. “Perlu dipegang teguh prinsip awal. Mudah-mudahan dengan hadirnya Borneo Tribune ada perbandingan dan warna baru di Kalbar,” katanya seraya mengecam liputan klenik, mistik yang dibesar-besarkan hingga foto vulgar nan berdarah-darah yang membuat gerah dan tidak mendidik.

Masih Terjajah
Seorang Ketua RT yang mewakili tokoh masyarakat setempat, Suprianto mengatakan saat ini kita tidak hidup di alam kemerdekaan, namun masih berada di alam penjajahan. “Sebab kemerdekaan dalam arti luas adalah merdeka dalam kehidupan berpolitik, ekonomi, dan sebagainya,” ungkapnya
Kemerdekaan kata Suprianto belum menyentuh rakyat kecil. Ia menyinggung soal penertiban illegal logging yang di satu sisi membuat masyarakat kelaparan.
Mantan pegawai BUMN yang kini membuat usaha sendiri berupa kompor minyak tanah dua tungku yang irit bahan bakar menilai pemerintah tak memberikan solusi kepada masyarakat. “Selama ini pemberitaan media lebih banyak kepada akibat, bukan sebab. Padahal kalau ada pekerjaan lain masyarakat tak mau bekerja di hutan sebab salah sedikit taruhannya nyawa. Resiko jadi pelaku illegal logging itu berat sekali. Pemerintah harus mencarikan solusi lapangan kerja,” kata alumnus Pertanian Untan ini.


Anggota DPRD Provinsi DPRD Provinsi, Michael Yan Sriwidodo, SE, MM berbagi cerita masa kecil di mana kondisi kemerdekaan era tahun 70-an hingga 80-an, juga kondisi saat ini dan pers yang kebablasan. “Kalau dulu kita sangat takut dengan aparat baik polisi maupun ABRI (TNI). Kalau mereka ada di jalan dan kita di luar maka orang-orang tua akan bilang masuk! Masuk!,” ungkap pria yang juga salah satu tokoh masyarakat Tionghoa ini.
Advokat Dwi Syafriyanti, SH menyoroti soal hukum yang tumpang-tindih dan membuat kebingungan para praktisi hukum. Ia mengaku gelisah dengan beberapa perubahan dan amandemen UUD 1945, bahkan khawatir Pancasila pun akan hilang.
Pengamat media yang mantan Direktur LPS-AIR, Faisal Reza, ST banyak mengupas soal tampilan dan rubrikasi Borneo Tribune. “Saat membaca Tribune pertama kali yang saya cari adalah Skumba. Sebab ini menjadi semacam inspirasi dan mengundang tawa. Pikiran kita selama ini media membawa ketegangan, namun dengan membaca cerita-cerita lucu seperti itu jadi berpikir ada sisi lain kehidupan yang harus ditertawakan termasuk mentertawakan diri kita sendiri,” ujar mantan aktivis mahasiswa ini.
Dikatakan, selama ini kalau membaca koran yang ditemukan pasti 5W + 1H. Namun jika ingin mendapatkan Why-mengapa-maka ia membaca Borneo Tribune. Kehadirannya diharapkan bisa memberikan warna lain bagi jurnalistik.
Faisal mengkritisi tampilan Borneo Tribune yang berani memasang gambar besar dan tulisan sedikit namun panjang bahkan ada ruang kosong. ”Mungkin selama ini mindset kita koran dengan berita yang padat, jadi belum terbiasa. Padahal Harian Tempo atau Tempo juga enak dibaca dengan tata wajahseperti itu,” kata dia sambil tersenyum.
Kepala Humas Pemprov Kalbar Drs Hamdan Harun, M.Si yang malam sangat sibuk terkaitagenda acara Agustusan Pemprov namun berusaha hadir prima menyoroti persoalan nasionalisme di Borneo Tribune. Ia kecewa dengan demo di kantor gubernur yang sampai ingin membakar dan menurunkan bendera beberapa waktu silam menyoal nasionalisme ini. ”Padahal bendera itu bukan hanya sepotong kain, namun ada makna penting bahwa puluhan ribu jiwa melayang untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan.”
Pakar hukum tata negara, Turiman Faturrachman Nur, SH, M.Hum melihat persoalan bangsa saat ini bukan hanya capacity building namun juga national and character building yang harus terus dibangun. “Untuk membangun bangsa ini mulai dari sendiri,” saran dia.
Turiman berfilsafat dengan 4 alif. Alif ditunjukkannya dengan sejengkal jari. Ia sejengkal di muka artinya mengukur diri dengan orang lain. Sejengkal ke kuping kiri dan kanan, yang artinya mau mendengar. Lalu alif satu lagi dari mulut ke hati.
Institutional Development Specialist NMC-NUSSP Ripana Puntarasa turut hadir ke malam refleksi kemerdekaan di Borneo Tribune. Ia mengaitkan kemerdekaan dan gagalnya pameran photography yang akan digelar Lukas B Wijanarko di Ayani Mega Mall. “Sesungguhnyaa hari ini ada peristiwa jurnalistik untuk pameran foto yang gagal diselenggarakan. Entah karena miss management atau apa, namun saya melihat ada arogansi di balik semua ini,” papar Ripana.
Ia melihat ada wilayah yang belum merdeka di dunia jurnalistik kita. Padahal jurnalistik adalah salah satu kunci perubahan. Media pencerdasan adalah jurnalistik. Ripana banyak menyoroti persoalan sosial dan kemasyarakatan dengan sudut pandang jurnalistik.
Semakin malam diskusi semakin hangat. Bahkan diskusi informal dilanjutkan di beranda belakang Borneo Tribune. Bermacam topik mulai dari hal sederhana hingga njelimet kembali muncul hingga pukul 00.30 WIB malam. □

Read More..

Friday, June 22, 2007

Banjir Akibat Ketidakpatuhan pada RTRWK

Safitri Rayuni dan Asriyadi A Mering
Borneo Tribune, Pontianak

Banjir dan air pasang yang melanda Kota Pontianak dan sekitarnya diakibatkan ketidakkonsistenan pemerintah terhadap Rencana Tata Ruang dan Wilayah Kota (RTRWK). Hal ini ditegaskan Nova Dorma Sirait, Kasubbid Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup, Bappeda Kalbar, Kamis (21/6) kemarin.

Pernyataan ini dilontarkan dalam forum Semiloka di Rektorat Untan, dengan tema Pembangunan Berkelanjutan dan Valuasi Lingkungan Provinsi Kalbar. Nova menjawab keluhan seorang dosen FKIP Untan, yang menyoal terjadinya banjir akibat rusaknya lingkungan.
Menurut Nova, alat yang digunakan dalam pengelolaan lingkungan hidup khususnya di perkotaan adalah penataan ruang yang diatur di dalam RTRWK. Dari RTRWK ini bisa diketahui mana lahan yang dilindungi dan yang bisa dimanfaatkan. “Ketidakpatuhan terhadap RTRWK inilah yang merusak lingkungan, termasuk kerusakan di udara, tanah, banjir, kekeringan dan intrusi air laut,” terangnya.
Dicontohkan Nova, kawasan Siantan dan seterusnya yang merupakan kawasan lindung atau konservasi, namun dimanfaatkan untuk pengembangan pemukiman dan pertokoan.
Konsisten tidaknya pemerintah, kata Novi, telah ditegaskan dalam Undang-undang nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang. “Bagi pejabat yang menyalahi RTRWK daerahnya dan memberi izin pemanfaatan kawasan lindung atau daerah resapan air dikenakan sanksi pidana. Tindakan tegas aparat menjadi pembahasan dalam satu bulan terakhir,” paparnya.
Di tempat yang sama, Ketua Pusat Penelitian Kehati dan Masyarakat Lahan Basah (PPKMLB) Untan, Dr Gusti Zakaria Anshari mengatakan banjir yang terjadi akibat perubahan cuaca atau iklim. Gusti mengaitkannya dengan gejala La Nina yang muncul di berbagai kawasan, termasuk Indonesia.
“Curah hujan di Kalbar bisa dibilang cukup tinggi, ditambah volume milimeternya yang juga besar menjadi salah satu penyebabnya,” kata Gusti.
Ditambah lagi dengan daya serap lahan yang berurang akibat habisnya hutan, kerusakan gambut dan pendangkalan sungai memperparah situasi tersebut.
Pemerintah menurutnya harus konsisten dengan kaidah tata ruang yang telah dibuat bersama. Pergantian kepemimpinan, kata Gusti, janganlah menjadi penghalang untuk meneruskan program konservasi lingkungan hidup. “Peta daerah resapan air juga belum sepenuhnya kita dapatkan sehingga diperlukan keterbukaan kepada publik. Penegakan hukum juga harus berjalan sebagaimana mestinya,” tandas Gusti.
Di tempat yang sama Kepala Bapedalda Provinsi Kalbar, Ir Tri Budiarto menambahkan, selain eksistensi tata ruang kota, tipologi Kota Pontianak yang merupakan kawasan delta dan terdiri dari endapan lumpur juga menjadi faktor potensi banjir. Letaknya yang sangat rendah menyebabkan beberapa kawasan mudah terendam bila karakteristik hujannya seperti sekarang ini.
Namun demikian dia mengingatkan bahwa apa yang terjadi saat ini jangan dianggap sebagai fenomena alam semata-mata. Karena walaupun kejadiannya sama, tetapi luasan dan dampak yang ditimbulkan lebih besar dari biasanya. Dia menegaskan kalau mindset masyarakat sudah harus diubah dengan tidak lagi menganggap banjir maupun bencana yang terjadi adalah takdir Tuhan. Tetapi sangat dipengaruhi oleh deforestasi yang kian parah, konversi lahan hutan menjadi non hutan, kebakaran hutan dan emisi.
Sementara itu Rektor Universitas Tanjungpura, Dr H Chairil Effendi saat pembukaan semiloka menegaskan bahwa pembangunan berwawasan lingkungan tidak lagi cukup hanya sekadar sebagai sebuah paradigma maupun ideologi, melainkan menjadi ‘agama baru’ demi keselamatan seluruh manusia dan planet bumi ini. □

Read More..

Thursday, May 17, 2007

Bayi Pertama Kami....

Selasa..15 Meiiii
Semua resah menanti. ketika proses editing selesai, bagian desain wajah selesai....malam sudah menjelang pagi.

Niat awal pulang diurungkan...terjegal rasa penasaran yang mendesak ingin melihat bayi pertama kami lahir...
pembukaan I, pembukaan II, III dan akhirnya...oeee..oeee..ooeee...satu demi satu edisi perdana promo sebanyak 1000 eksemplar nongol dari bibir mesin....

bak pasangan muda yang baru diberi anak, ekspresi gembira menatap wajah sang bayi pun terlihat jelas...tak sia-sia awak redaksi dan pra cetak nginap bareng di kantor tadi malam...........oeeee.......
Welcome to the world Borneo Tribune............
Sekilas tentang Borneo Tribune

Kalimantan sebagaimana terungkap dari literatur-literatur ilmiah dikenal penduduk dunia sebagai pulau terbesar ketiga setelah Green Land dan Papua. Pulau ini mengandung kekayaan yang luar biasa, baik dipandang dari aspek sumber daya alam, sumber daya manusia, maupun kekayaan kulturalnya.

Karena kekayaan Kalimantan yang begitu besar berbagai persoalan juga terdapat di sini. Mulai dari eksploitasi sumber daya alam yang terkait politik, ekonomi, pertahanan-keamanan hingga konflik antaretnis.

Media massa sesungguhnya mempunyai peranan besar menjembatani berbagai kepentingan di Kalimantan, sehingga yang mencuat adalah manfaat bersama dengan kesejahteraan bersama, bahkan untuk kemajuan bersama. Harian Borneo Tribune lahir sebagai watchdog atas kontrol sosial sehingga setiap individu di Bumi Kalimantan dapat berperan serta dalam pembangunan secara aktif.

Setiap warga juga karena pencerdasan yang dilakukan Harian Borneo Tribune dapat mengambil keputusan-keputusan yang cerdas atas masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupannya sehari-hari; arif, bijaksana serta demokratis.

Harian Borneo Tribune lahir sebagai jawaban atas kebutuhan masyarakat Kalimantan pada umumnya dan Kalimantan Barat pada khususnya atas suguhan informasi yang berkualitas. Tidak hanya berkualitas pada sajian isi, namun juga wajah maupun edisi website. Model pendekatan koran ini kepada pembacanya adalah menjunjung tinggi idealisme, keberagaman dan kebersamaan melalui jurnalisme struktural.

Asal Usul
Borneo diambil dari nama besar pulau ketiga terbesar di dunia setelah Green Land dan Papua yang berarti Brunai atau Antidesma Neurocarpum (satu tumbuhan perdu berbentuk lurus menunjuk ke langit dengan struktur kayu yang keras). Di sini terdapat makna simbolis dan filosofis bahwa kehidupan punya cita-cita yang tinggi, religi, dan tegas.
Borneo Tribune diharapkan menjadi satu media besar yang menjadi pentas kehidupan masyarakat untuk saling belajar satu sama lain sehingga tercapai misi media yakni informatif, edukatif, menghibur sekaligus menjadi alat kontrol sosial yang tegas dan lurus sebagaimana visinya: idealisme, keberagaman dan kebersamaan.

Logo
Harian Borneo Tribune menggunakan logo Enggang Gading (Rhinoplax vigil atau buceros) yang menjadi perlambang religi dan mitologi di tengah masyarakat asli Kalimantan. Enggang hidup di hutan belantara nan lebat dengan daya survival yang tinggi. Karakter Enggang setia, sabar dan menjunjung tinggi cinta-kasih. Oleh karena itu pula di dada Enggang sebagai logo Borneo Tribune melekat lambang love (cinta).

Read More..

Tuesday, May 8, 2007

Razia (tak) 'Simpatik'

Pontianak, Rabu 2 Mei 2007

Matahari pagi itu terik menyengat. Gerahnya membuat tubuh serasa belum mandi. Namun begitu, aku dan tunanganku, Ronny, tetap harus bergegas menuju bandara Supadio. Sebab, usai sarapan bubur di Paris I, ia ditelpon teman-temannya yang sudah tiba lebih dulu di bandara. Dengan sepeda motorku, kami berpacu dengan waktu. Jam 09.30 saat itu, pesawat yang ditumpanginya take off satu jam lagi.

Belum jauh memasuki Jalan A Yani II, jalan panjang menuju bandara, tampak sebuah keramaian. Barisan polisi lalu lintas melakukan razia simpatik (setidaknya judul itu yang aku baca dalam surat teguran yang kemudian aku terima). Sadar Ronny tak membawa SIM, kami lantas bertukar posisi memegang kemudi. Dalam sekejap aku pindah ke depan.

Namun razia yang dilakukan menurutku jauh dari sikap simpatik. Ketika mendekat, seorang polisi (kalau tak salah namanya Hengki) tiba-tiba membentak. "Masuk!!Masuk!!Cepat!Mana surat-suratnya?" tanyanya padaku. Belum juga selesai aku mengobok-obok isi dompet, ia bertanya pada Ronny. "Gak punya sim ya?" belum Ronny menjawab polisi itu kembali bertanya. "Apa hah? gak punya sim ya?"

Read More..

Thursday, April 19, 2007

Senja

Andai bisa kulukis senja di atas kanvas mungkin ku tak harus menghabiskan banyak kata tuk menggambarkan keindahanmu..tak kuhabiskan banyak waktu mencerna makna mu lewat novel-novel seno gumira...kau senjaku...jingga bahagia.......sebahagia sukap ketika mencurinya selebar kartu pos, untuk dikirimkan pada sang kekasih, Alina....meski Sukap pada akhirnya harus rela menelusuri terowongan bawah tanah lantaran diburon polisi...karena bagi ku tak cukup itu semua...setelah aku menyaksikan sendiri keindahan jinggamu.......diujung pantai itu, bersama seorang kekasih.
Senja..karena mu aku berani memutuskan untuk menikah...yang kata banyak orang entah kenapa aku berubah...
Seandainya saja kutemukan lagi senja itu, senja paling indah dalam hidupku, tentu bersama seseorang di sampingku, bersama-sama menikmati senja di masa senja............

dedicated to my dear...terima kasih telah menghadirkan senja terindah itu

Read More..

The First

Friday, 20/04/2007

Hidup yang tak direnungi,
tak layak dijalani (pepatah Yunani kuno)

Keterasingan mungkin melahirkan dunia baru bagi kita....dunia perenungan yang dalam, hingga melahirkan embrio kata-kata yang serba tak beraturan...berceceran tergesa gelisah ingin muntah...
oo-ee-ii --aa, semua vokal, menyesak teriak berontak ingin keluar menjadi kata-kata lalu kalimat...
Keterasingan melahirkan tulisan, menoreh sejarah dalam hitam putih tinta
tetap ada, saat kita tiada......


Read More..

Sunday, February 11, 2007

Fenomenal, Bayi Kambing Mirip Manusia


Safitri Rayuni
Borneo Tribune, Pontianak

Pagi yang hening di Jalan Sutoyo mendadak buyar dengan kerumunan warga RT 02 RW 17. PNS yang sedang bekerja di lingkungan perkantoran sekitarnya pun ikut dalam kerumunan itu.
Kilatan blitz dari kamera digital dan handphone terasa menyilaukan. Sesosok objek berbulu hitam menyerupai bayi manusia ada di tengahnya.
Bulat dan berbulu. Ada lingkaran putih di tengah seperti batas pinggang, dengan kepala menjulur lidah pendek, berkelamin laki-laki, dengan potongan tubuh menyerupai manusia.

“Hiiii! Amit-amit jabang bayi!” seru seorang ibu berpakaian seragam PNS tengah bergidik ngeri. Ia mengusap-usap perutnya. Di sekelilingnya, warga mengalami perasaan yang tak jauh beda. Mereka berdecak, menggeleng-gelengkan kepala. Ada yang bergidik ngeri, ada pula yang menatap tak berkedip karena heran. Warga yang sudah lama berada di TKP, sibuk mengabadikan objek langka itu dengan kameranya.
Lahir jam 07.00 WIB, Jumat (2/11) kemarin, kambing milik Abdullah (55) ini lantas jadi bahan pembicaraan. Kerumunan di bawah pohon, tepatnya di kanan pagar Kantor Diknas Kota Pontianak itu mengundang perhatian warga lain yang sedang melintas.
Abdullah juga ikut dalam kerumunan itu. Ia tak henti-hentinya menjawab pertanyaan warga. Pria yang tinggal di belakang SMU Immanuel, di Jalan Sutoyo ini juga mengaku kaget atas kejadian itu. “Kambing ini memang saya lepas dari kemarin sore, dan semalaman tidak dimasukkan ke kandang. Eh taunya pagi ini sudah melahirkan di sini,” katanya menunjuk tepi parit tempat induk kambing miliknya itu. Di sekitarnya, dua ekor anak kambing lahir normal dan hidup, sementara bayi kambing aneh ini mati tak lama setelah lahir.
Dikatakannya, Kamis (1/11) sore semula ia hendak mencari rumput bagi kambing yang sedang bunting besar ini. “Tetapi niat itu saya urungkan, karena cuaca mendung tebal, seperti akan hujan. Jadi kambing ini saya biarkan merumput di halaman ini,” terangnya.
Dibiarkan merumput semalaman, Abdullah merasa perlu menjemput pulang kambing yang ditambatkannya tak jauh dari rumah itu. Betapa terkejutnya ia melihat kejadian unik dan ajaib ini, dan berharap tidak ada sesuatu yang buruk akan terjadi. “Saya tidak pernah melihat kejadian aneh seperti ini, meskipun beberapa tahun lalu kambing saya pernah melahirkan anak kambing dengan kepala tiga dan juga mati,” jelasnya. □

Read More..

Sunday, December 17, 2006

Jepang dan Eropa Perketat Syarat Mutu Produk Perikanan Kalbar

Oleh : Safitri Rayuni
Bisnis Indonesia
PONTIANAK- Jepang dan sejumlah negara-negara di Eropa, sebagai negara tujuan ekspor terbesar hasil perikanan Kalbar, baru-baru ini memperketat persyaratan mutu produk perikanan Kalbar. Hal ini disampaikan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Barat, Budi Hariyanto dalam Pelatihan Program Management Mutu Terpadu (PMMT) Hasil Perikanan, selama lima hari di Hotel Merpati Pontianak, jumat (24/11).

“Mereka melakukan pengujian antibiotik di setiap border kontrol mereka, oleh karena itu kerjasama antara petugas pengendali, pembina mutu dan pelaku usaha dengan Lembaga Pengendali dan Pembina Mutu Hasil Perikanan (LPPMHP) harus dibangun secara efektif,” imbaunya.
Kerjasama ini menurutnya penting, agar produk perikanan Kalbar baik untuk pasar luar maupun dalam negeri benar-benar bebas dari zat antibiotik, cemaran bakteri pathogen dan residu bahan kimia lainnya yang berbahaya bagi kesehatan manusia.
Ia berharap petugas yang menangani pengendalian dan pembinaan mutu hasil perikanan bersama LPPMHP, benar-benar menjadi katup pengaman bagi produk perikanan, baik sebagai konsumsi dalam negeri maupun untuk ekspor. Komoditi perikanan Kalbar menurut Budi telah memberi kontribusi Pendapatan asli daerah (PAD) dan devisa yang signifikan pada pertumbuhan ekonomi negara melalui kegiatan pemasaran dalam dan luar negeri. “Pengolahan dan pemasaran, termasuk pembinaan dan pengendalian mutu hasil perikanan adalah mata rantai kegiatan yang urgen dalam membangun sektor perikanan,” lanjutnya.
Ketua Panitia pelatihan PPMT yang juga Kabid Pengembangan Kelembagaan dan Pemasaran Hasil Ikan, Bambang Sugito mengatakan tujuan pelatihan tersebut untuk meningkatkan pemahaman dan menyamakan persepsi para pengawas mutu pusat dan daerah, di bidang pengawasan mutu hasil perikanan.
“Disamping itu, kita bertugas menyampaikan informasi tentang isu-isu yang berkembang, terkait dengan bidang pengendalian dan pengawasan mutu hasil perikanan,” katanya. Kegiatan yang terselenggara selama 5 hari ini diikuti 40 peserta terdiri dari, Tenaga Teknis Perikanan, Pengawas Mutu dari Dinas Kelautan dan Perikanan provinsi, kabupaten dan kota, serta dari Quality Control (QC) perusahaan Cold Storage di Kalbar. (K6/bisnis)

Read More..

Sunday, December 3, 2006

JACA Hibahkan Dua Alat Pertanian

Oleh : Safitri Rayuni
Bisnis Indonesia
PONTIANAK-Melihat keseriusan dan komitmen Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat di bidang pertanian, Japan Agriculture Corporation Association (JACA) memberikan bantuan dua unit peralatan penanaman padi dan panen padi kepada Kalbar.
Gubernur Kalbar, Usman Ja’far mengatakan dua unit alat yang diberikan oleh JACA adalah upaya bantuan yang diusahakan para pelajar yang magang di Jepang atas komitmen Kalbar membangun pertanian.

“Tahun depan diharapkan sudah ada pelajar Kalbar yang sudah selesai magang. Setibanya di Kalbar mereka dapat membantu petani di lapangan dalam menggunkan peralatan yang diberikan JACA ini,” ungkapnya kepada ditemui usai menerima bantuan dari Jepang di Pondopo Gubernur, Kamis (22/11).
Usman menjelaskan bantuan yang diberikan oleh jepang ini dalam rangka memulai teknologi moderen di bidang pertanian, sekaligus sebagai proyek percontohan untuk Kabupaten Pontianak. “Dua alat ini nantinya akan diterapkan di Kabupaten Pontianak, tepatnya di Sungai Kunyit,” ujar Usman Ja'far.
Dua buah mesin ini dapat dipindah-pindahkan, sehingga nantinya bisa dipakai bergantian di daerah-daerah lain. “Untuk mendapatkan hasil pertanian yang baik, pemerintah berusaha akan melakukan perbaikan lahan, pengairan, pembibitan dan juga akan melakukan penyuluhan-penyuluhan tentang pertanian,” timpalnya.
Usman Ja'far berharap kerjasama Kalbar dengan Jepang tidak hanya sebatas dibidang pendidikan pertanian saja, melainkan dapat bekerjasama di bidang pengolahan hasil pertanian hingga pemasaran. “Pemasaran nantinya juga bisa diarahkan ke Jepang,” kata Usman.
Yang menjadi masalah selama ini tambah menurutnya adalah masalah angkutan. “Persoalan angkutan perlu dipikirkan dalam memasarkan hasil pertanian Kalbar ke luar negeri. Karena jika menggunakan kapal, jarak yang ditempuh cukup jauh sedangkan jika menggunakan pesawat, penerbangan di Kalbar tidak memiliki cargo,” tandasnya. (K6/bisnis)

Read More..