Wednesday, March 11, 2009

Tuhan rela memberi....




Nathan Ganesh Ilkiya. Nama ini kami pilih buat bayi kecil kami yang lahir Kamis (26/2) lalu. Nathan saya ambil dari Nahtan yang bahasa Spanyol berarti Tuhan rela memberi. Juga dari bahasa Ibrani...nama Nathan adalah nama dari saya, ibunya.

Sebelumnya kami (saya dan ayah Nathan) sudah menyadari, sebagai muslim nama ini pasti jadi kontroversi di kalangan keluarga besar kami yang umumnya lebih cenderung kepada nama-nama 'islami' yang identik dan notabene dengan kosakata bahasa Arab.


Abang kembar saya, orang pertama yang komplain kalau nama Nathan adalah nama tokoh Yahudi. Walau komplain ini ditujukan lewat ibu saya dan tidak langsung ke saya dan suami. Kami bisa memahaminya. Buat kami, nama 'islami' bukan jaminan perilaku hidup si empunya nama. Coba lihat orang-orang yang disidik dan ditangkap KPK, kebanyakan memiliki nama dengan kosakata arab berbau islam dengan arti yang sungguh indah. Betapa memalukannya.

Suami saya berpendapat bahwa nama tidak dengan serta merta mengkafirkan seseorang. Setiap nama menurut Ronny mengandung doa dan harapan buat si empunya nama. Tak ada yang salah dengan arti nama yang kami berikan, arti dan harapan yang terkandung dalam nama itu kami nilai sangat bagus. Pertanyaannya pakah salah dan tak boleh seorang dengan nama berbau Yahudi atau Nasrani memiliki keyakinan sebagai muslim atau sebaliknya, tak sedikit orang di Timur Tengah memiliki nama berbau muslim dan menganut agama non muslim. Apakah seorang Nathalie atau Kristin tak boleh beragama Islam, dan harus mengubah namanya dahulu sebelum atau sesudah masuk Islam. Betapa ironisnya.

Sebelumnya cukup lama bagi kami untuk merumuskan dan memilih nama. Waktu kehamilan sembilan bulan tidaklah cukup bagi kami untuk memutuskan nama yang tepat. Bisa dibilang, persiapan dan kelengkapan bagi kelahiran bayi kami sudah 90 persen tersedia, namun tidak dengan nama.

Sebelum kami memberi nama bagi Nathan, abang saya minta anak kami dikasi nama yang ada Muhammad nya. Ayah mertua saya malah sudah menyiapkan nama seperti Muhammad Rafiq, dan dua nama lain yang saya lupa. Tapi kami berpikiran, cukuplah nama kami selaku anak yang diintervensi ortu, sementara nama anak kami biar kami selaku ortu yang memberi. Adil bukan? hehe




Nama Nathan juga terinspirasi dari Nathan Sang Bijak (judul asli dalam bahasa Jerman Nathan der Weise) adalah sebuah sandiwara karya Gotthold Ephraim Lessing, yang diterbitkan pada 1779. Isinya mengandung imbauan yang mendesak untuk toleransi keagamaan.

Sandiwara ini dilarang dipertunjukkan oleh Gereja pada masa hidup Lessing.
Sandiwara yang mengambil tempat di Yerusalem pada masa Perang Salib Ketiga, melukiskan bagaimana Nathan, sang pedagang Yahudi yang bijaksana, Sultan Saladin yang berhikmat dan Templar (yang mulanya anonim) menjembatani perbedaan-perbedaan mereka antara agama Kristen, Yudaisme dan Islam.

Bagian inti dari karya ini adalah perumpamaan cincin, yang dikisahkan oleh Nathan ketika ditanya oleh Saladin, agama manakah yang benar: Sebuah cincin warisan yang mempunyai kemampuan ajaib untuk membuat si pemiliknya berkenan di mata Allah dan umat manusia telah diteruskan oleh seorang ayah kepada anak lelaki yang paling dikasihinya.

Ketika tiba pada seorang ayah yang mempunyai tiga orang anak lelaki yang sama-sama ia cintai, ia berjanji untuk memberikannya (dalam "kelemahan yang saleh") kepada masing-masing anaknya. Ia berusaha mencari jalan untuk memegang janjinya, karenanya ia membuat dua tiruan yang sempurna dari cincin aslinya. Begitu sempurnanya sehingga kedua cincin tiruan itu tidak dapat dibedakan dari aslinya. Di ranjang kematiannya ia memberikan masing-masing cincin itu kepada masing-masing anaknya. Ketiga bersaudara itu saling bertengkar tentang siapa yang mendapatkan cincin yang sejati. Seorang hakim yang bijaksana menasihati mereka bahwa semuanya tergantung kepada diri mereka sendiri untuk menunjukkan melalui hidup mereka bahwa kuasa cincin itu benar-benar terbukti. Nathan membandingkan hal ini dengan agama, sambil mengatakan bahwa masing-masing kita hidup menurut agama yang telah kita pelajari dari mereka yang kita hormati.

Tokoh Nathan ini pada umumnya mengikuti teladan sahabat lama Lessing, sang filsuf terkemuka Moses Mendelssohn. Serupa dengan Nathan Sang Bijak dan Saladin, yang dibuat Lessing bertemu di sekitar papan catur, mereka sama-sama mencintai permainan itu.



Nama Ganesh adalah nama sumbangan dari Oppie, adik ipar saya yang sedang menyelesaikan kuliah pertambangan di Yogya. Ganesh artinya berilmu dan cerdas. Mulanya Oppie menyumbang nama Ganesh Lenno (pria) Minerva (bijaksana) buat bayi cowok dan Almira (putri) Gian Istifari (selalu beristighfar) buat bayi perempuan.

Sedangkan nama Ilkiya adalah nama pemberian Ronny, suami saya. Nama ini diambil dari bahasa Persia yang berarti orang yang terpandang. Mudah-mudahan dengan nama ini kamu tumbuh dan besar sebagai manusia yang humanis dalam didikan orang tua mu ya Nak. Amiiin


3 comments:

Eka said...

kiyuuuuuut.... wellcome to the real world little nathan... diliat2 emang ada sedikit kemiripan dengan Ethan'tom cruise' Hunt_MI, sama2 putih...hehehhe
barokallah ya bu...
nama = doa, dalam bahasa apapun Allah pasti memahaminya...its ok lah mom...

haryo98 said...

he.. he.. nathan, juga nama anak dari sepupu ku.. memang kontroversial:)

imel mamahnya zillo said...

Setujuu.. setiap nama adalah doa dr org tua ny...