Showing posts with label diary. Show all posts
Showing posts with label diary. Show all posts

Thursday, May 14, 2009

iiih melahirkan itu seperti... (part3)


Wedew sorry everyone....its too long for me finishing my story...maklum meski rutinitas ngenet gak berhenti, ternyata inspirasi menulis gak semudah itu saja datang. Bayi yang sempat rewel mulai usia satu bulan sampai 2 bulan sempat menyita perhatian dan waktu. Beberapa kali kami membawa Nathan ke rumah sakit dan ke dokter anak khawatir kalau-kalau ada yang kurang nyaman di badannya.


Maklum, kalau dia mulai nangis dan berlanjut hingga lama sering tak tega rasanya. Kadang nangisnya dicampur jeritan seperti kesakitan. Nangisnya pada jam-jam tertentu, biasanya menjelang sore, pernah juga gak tidur semalaman dan rewel sampe pagi. Pas dibawa naik mobil baru berhenti nangis trus bobo.

Wajar kalau saya sedikit panik dan merasa khawatir kalau-kalau ada sakit yang ia derita. Belakangan, memasuki usia 2,5 bulan (jalan 3 bulan) kebiasaan nangisnya mulai berkurang. Paling merengek kecil dan tidak lama kalau pas datang kantuk.
Ajaibnya anak ku ini lebih mementingkan bobo daripada mimik susu. Prinsipnya dia ga tahan kalau mengantuk, tapi lebih tahan lapar. (Agaknya sama dengan perilaku ayah dan bundanya hahaaa....)

Nathan agaknya mengadopsi sikap saya. Biasanya saya tahan laper 10 jam, tapi gak tahan kalo jatah tidur berkurang. Nah, waktu malam mau melahirkan di klinik, meski menahan sakit dengan interval waktu yang makin padat, sempat-sempatnya saya bobo.

Malam itu, sakit mendera bertubi-tubi setiap setengah jam sekali. Semakin larut sakit semakin cepat pula datangnya. Hingga subuh menjelang, sakit datang setiap lima menit sekali. Duh tak tahan lagi rasanya. Melihat begitu, Ronny berinisiatif memanggil bidan. Tepat pada waktu yang sama, bidan Ike pun mengetuk pintu kamar kami.

Saya dipapah menuju ruang bersalin. Air mata yang ditahan sejak tadi pun luruh demi sakit yang sangat. Bidan Ike tak sendiri, ada dua asisten yang membantu. Tapi ke mana Bidan Ratna? Bukannya dia janji juga akan ikut menolong persalinan saya? Belakangan dia klarifikasi kalau dia tertidur sampai pukul 06.45. Tepat setelah bayi saya lahir.

Pukul 05.00 itu jam seakan berhenti berdetak. WAKTU terasa berjalan begitu lama. saya dirangsang untuk BAB selama 15 menit, disuntik, mengedan dan entah banyak lagi sampai kurang lebih 1 jam, air ketuban tak kunjung pecah. Saya sudah lemes. Untuk mengedan pun serasa tak kuat. Satu-persatu wajah tampak di depan saya. Kedua mertua saya juga ada, tapi, mana ibuku? siapa yang menjemputnya ke klinik? Oh aku semakin kacau bila tanpa ibuku. Bidan yang marah-marah karena saya tak bisa mengedan sesuai teknik yang ia sarankan tak saya dengarkan. Saya konsentrasi berdoa di dalam hati.

Kasihan suamiku, tampak sudah tak tahan melihat derita itu, bidan pun memintanya keluar ruangan. Tak lama infus pun dipasang untuk mensuplai cairan tubuh yang mulai habis karena banyaknya keringat yang keluar. Tapi agaknya jaringan pembuluh darahku menolak dijejali jarum dengan slang cairan itu. 8 tusukan sudah merusak kulit.

Read More..

Sunday, March 22, 2009

Iiihh melahirkan itu seperti...(part Two)


Ada beberapa alasan mengapa kami memutuskan untuk melahirkan di klinik bidan. Walaupun sejumlah keluarga dekat menyayangkan pilihan itu. Maklum, anak pertama (juga cucu pertama) bagi keluarga suami saya, semua pinginnya berjalan mulus dan sempurna.

Bagi kami, pilihan melahirkan di bidan tidaklah mengurangi keinginan melewati semua dengan sempurna. Justru kami sangat ingin persalinan ini bisa sempurna dengan cara normal (bukan operasi). Kami ingin proses yang dilalui bisa sealami mungkin, sehingga pemulihan pasca melahirkan bisa berjalan cepat.



Walaupun jujur saya takut juga. Berbagai macam rasa takut mendera saya. Takut menanggung sakit yang amat sangat. Takut jika saya harus pergi selamanya. Saya sungguh tak bisa membayangkan rasa duka yang melingkupi bila semua terjadi seperti ketakutan-ketakutan saya itu.

Rasa berani juga coba saya kumpulkan. Keyakinan bahwa pertolongan itu selalu ada. Manusia tak bisa mengandalkan kekuatannya sendiri. Melainkan kekuatan Tuhan dan tentu doa orang-orang yang mengasihinya. Bismillah.....

Tiba di bidan. Saya kaget. Bidan yang memeriksa malam itu bukan Bidan Ratna, seperti biasa, tapi bidan lain, yang belakangan saya tau namanya Bidan Marike (Ike). Wajahnya manurut saya jutek (sorry ya bu Bidan). Wajahnya sangat susah menyunggingkan senyum. Pembawaannya panikan alias gak tenang seperti bidan Ratna. Saya menilai begitu karena begitu tiba, berkenalan pun tidak (sebagai basa-basi orang timur yang baru pertama ketemu), ditensi pun tidak, saya diminta membuka pakaian bagian bawah. Its very tactically for me. Sangat tak nyaman.

Malam itu kami ditempatkan di kamar kelas I. Bidan Ike pesan, jangan panggil pertolongan kalau sakitnya belum sakit sekali. "Baru pembukaan dua, tahan saja sakitnya dan jangan panggil saya sebelum ibu benar-benar tidak tahan sakitnya ya. Kalau sakit sekali pegang saja lutut sambil bilang iihhhkkkkk (dengan wajah menggeram merapatkan gigi). Ibu tidak akan bisa tidur malam ini, karena akan sakit sekali. Perkiraan saya pagi baru melahirkan," pesannya.

Oooh sungguh pesan yang tidak menenangkan buat saya dan suami yang malam itu memang memutuskan menginap dan menanti di klinik. Ya, kami tak mau panik saat waktu semakin dekat. Jadi lebih baik menginap. Saya juga tak mau melihat suami panik menyetir mobil karena harus segera tiba di klinik.

Sepanjang malam itu, servis di bidan hanya dijenguk sekali oleh bidan Ratna dan perawat yang mengganti bola lampu WC yang putus. No snack, no food just drink water. Malam semakin larut. Sakit semakin menghujam.

t

Read More..

Wednesday, March 11, 2009

Tuhan rela memberi....




Nathan Ganesh Ilkiya. Nama ini kami pilih buat bayi kecil kami yang lahir Kamis (26/2) lalu. Nathan saya ambil dari Nahtan yang bahasa Spanyol berarti Tuhan rela memberi. Juga dari bahasa Ibrani...nama Nathan adalah nama dari saya, ibunya.

Sebelumnya kami (saya dan ayah Nathan) sudah menyadari, sebagai muslim nama ini pasti jadi kontroversi di kalangan keluarga besar kami yang umumnya lebih cenderung kepada nama-nama 'islami' yang identik dan notabene dengan kosakata bahasa Arab.


Abang kembar saya, orang pertama yang komplain kalau nama Nathan adalah nama tokoh Yahudi. Walau komplain ini ditujukan lewat ibu saya dan tidak langsung ke saya dan suami. Kami bisa memahaminya. Buat kami, nama 'islami' bukan jaminan perilaku hidup si empunya nama. Coba lihat orang-orang yang disidik dan ditangkap KPK, kebanyakan memiliki nama dengan kosakata arab berbau islam dengan arti yang sungguh indah. Betapa memalukannya.

Suami saya berpendapat bahwa nama tidak dengan serta merta mengkafirkan seseorang. Setiap nama menurut Ronny mengandung doa dan harapan buat si empunya nama. Tak ada yang salah dengan arti nama yang kami berikan, arti dan harapan yang terkandung dalam nama itu kami nilai sangat bagus. Pertanyaannya pakah salah dan tak boleh seorang dengan nama berbau Yahudi atau Nasrani memiliki keyakinan sebagai muslim atau sebaliknya, tak sedikit orang di Timur Tengah memiliki nama berbau muslim dan menganut agama non muslim. Apakah seorang Nathalie atau Kristin tak boleh beragama Islam, dan harus mengubah namanya dahulu sebelum atau sesudah masuk Islam. Betapa ironisnya.

Sebelumnya cukup lama bagi kami untuk merumuskan dan memilih nama. Waktu kehamilan sembilan bulan tidaklah cukup bagi kami untuk memutuskan nama yang tepat. Bisa dibilang, persiapan dan kelengkapan bagi kelahiran bayi kami sudah 90 persen tersedia, namun tidak dengan nama.

Sebelum kami memberi nama bagi Nathan, abang saya minta anak kami dikasi nama yang ada Muhammad nya. Ayah mertua saya malah sudah menyiapkan nama seperti Muhammad Rafiq, dan dua nama lain yang saya lupa. Tapi kami berpikiran, cukuplah nama kami selaku anak yang diintervensi ortu, sementara nama anak kami biar kami selaku ortu yang memberi. Adil bukan? hehe




Nama Nathan juga terinspirasi dari Nathan Sang Bijak (judul asli dalam bahasa Jerman Nathan der Weise) adalah sebuah sandiwara karya Gotthold Ephraim Lessing, yang diterbitkan pada 1779. Isinya mengandung imbauan yang mendesak untuk toleransi keagamaan.

Sandiwara ini dilarang dipertunjukkan oleh Gereja pada masa hidup Lessing.
Sandiwara yang mengambil tempat di Yerusalem pada masa Perang Salib Ketiga, melukiskan bagaimana Nathan, sang pedagang Yahudi yang bijaksana, Sultan Saladin yang berhikmat dan Templar (yang mulanya anonim) menjembatani perbedaan-perbedaan mereka antara agama Kristen, Yudaisme dan Islam.

Bagian inti dari karya ini adalah perumpamaan cincin, yang dikisahkan oleh Nathan ketika ditanya oleh Saladin, agama manakah yang benar: Sebuah cincin warisan yang mempunyai kemampuan ajaib untuk membuat si pemiliknya berkenan di mata Allah dan umat manusia telah diteruskan oleh seorang ayah kepada anak lelaki yang paling dikasihinya.

Ketika tiba pada seorang ayah yang mempunyai tiga orang anak lelaki yang sama-sama ia cintai, ia berjanji untuk memberikannya (dalam "kelemahan yang saleh") kepada masing-masing anaknya. Ia berusaha mencari jalan untuk memegang janjinya, karenanya ia membuat dua tiruan yang sempurna dari cincin aslinya. Begitu sempurnanya sehingga kedua cincin tiruan itu tidak dapat dibedakan dari aslinya. Di ranjang kematiannya ia memberikan masing-masing cincin itu kepada masing-masing anaknya. Ketiga bersaudara itu saling bertengkar tentang siapa yang mendapatkan cincin yang sejati. Seorang hakim yang bijaksana menasihati mereka bahwa semuanya tergantung kepada diri mereka sendiri untuk menunjukkan melalui hidup mereka bahwa kuasa cincin itu benar-benar terbukti. Nathan membandingkan hal ini dengan agama, sambil mengatakan bahwa masing-masing kita hidup menurut agama yang telah kita pelajari dari mereka yang kita hormati.

Tokoh Nathan ini pada umumnya mengikuti teladan sahabat lama Lessing, sang filsuf terkemuka Moses Mendelssohn. Serupa dengan Nathan Sang Bijak dan Saladin, yang dibuat Lessing bertemu di sekitar papan catur, mereka sama-sama mencintai permainan itu.



Nama Ganesh adalah nama sumbangan dari Oppie, adik ipar saya yang sedang menyelesaikan kuliah pertambangan di Yogya. Ganesh artinya berilmu dan cerdas. Mulanya Oppie menyumbang nama Ganesh Lenno (pria) Minerva (bijaksana) buat bayi cowok dan Almira (putri) Gian Istifari (selalu beristighfar) buat bayi perempuan.

Sedangkan nama Ilkiya adalah nama pemberian Ronny, suami saya. Nama ini diambil dari bahasa Persia yang berarti orang yang terpandang. Mudah-mudahan dengan nama ini kamu tumbuh dan besar sebagai manusia yang humanis dalam didikan orang tua mu ya Nak. Amiiin


Read More..

Tuesday, November 11, 2008

Swear, this isn't about pregnant

Duh, maaf ya blog ku tersayang, sudah lama kau tak kusentuh dengan karya-karya tulisku. Entah sekadar goresan ini itu atau news n poem.
Sorry my blog...kamu lama gak keurus
Sumpah!!!bukan karena aku hamil dan sibuk ikut antenatal yoga for pregnancy
lantas aku melupakanmu.
Juga bukan karena aku jarang bersentuhan dengan internet...tapi karena satu hal..

Sekarang ini aku suka main game. Mulai dari game supercepat n praktis Zuma, allien shooter, survival fighter sampai game sejenis rise of nation dengan versi bari The King of Seattler yang diinstal suami di laptopku.
Akibatnya, pagi, siang juga kadang-kadang malam (walau malam lebih sering buat nonton film), kesibukan baruku ya maen game itu.
Aku diam-diam khawatir juga, kalau-kalau anakku nanti bakal ketularan kebiasaan jelek ini. Ya, jeleknya jadi lupa waktu. Baca buku males, ingatnya game'''game...game dan game ....
Sampai hari ini, aku buka lagi blog ku dan....eng ing eng....gak terasa uda lebih dua bulan blog ini gak diisi.gak banget kan........bahkan, tulisan report buat APJC belum aku bikin..novelku yang sudah 200 halaman dan tinggal sedikit lagi itu juga belum kelar-kelar.

Read More..

Sunday, August 31, 2008

Our first ramadhan...

This is first ramadhan for me and Ronny. A moment that we can spend together after married. Its really so different for us. Coz, last ramadhan a year before, i had to go to Australia to follow an education programs for economic journalist.
This time so very meaningfull for us. Because we will gonna be a parent. I was pregnant now, after a long time i wait this moment. We had married for 1,3 years, and we past it so fast and so busy....

Now, we can spend lot of time together. We have to prepare evrythings we need to be a parent. But we dont have any name yet now, we are so busy to search it from internet and discussing it before go to bed. Ronny was so funny person, he always wondering how his baby looking next. Sometimes he was make some conversation to his baby with his joking....

Read More..

Thursday, July 24, 2008

Cerita yang menggugah

Kemarin, Kamis 24 Juli, saya mendapat email berjudul 'cerita yang menggugah' dari Euodia Suryani (atau Eoudia ya?saya sering bingung menulis dan mengeja namanya). Dia wartawan ekonomi di deskku saat bekerja di Harian Borneo Tribune.

Kebetulan satu hari sebelumnya,23 Juli diperingati sebagai Hari Anak Nasional. Keponakan saya, Riska Megarianti saat ini tengah berada di Bogor untuk ikut kongres anak nasional. Riska yang presiden anak se-Kalbar ini selalu antusias kalau bercerita kepadaku soal aktivitasnya. Maklum, di antara keluarga, aku lah yang paling mendukung kesibukan ekstra kurikulernya. Karena cocok dan klik, Riska pernah bilang juga mau jadi wartawan kelak.."Sepertinya asyik, punya banyak kawan, berpikir bersikap bebas dan bisa jalan-jalan ke luar negeri," kata bocah kelas 2 SMU ini polos.

Balik lagi ke email Euodia, saya seperti diingatkan. Sebab, sudah hampir satu bulan ini saya meninggalkan kehidupan saya yang tenang. Saya memutuskan berhenti bekerja sebagai editor di perusahaan media yang sudah dilakoni satu tahun dua bulan ini. Bukan karena apa-apa. Semua person yang saya tahu sangat baik dan 'wellcome'. So far, everythings are good selama dua bulan saya di desk ekonomi. Bekerja dikejar waktu, lebih dari itu sudah pernah saya lakoni, thats no problem et al.

Bahkan selama pelatihan (saking semangatnya) saya melalap 700 artikel Joseph E Stighlitz (peraih nobel ekonomi dunia) untuk memperdalam persoalan ekonomi global. Saya juga membeli empat buah buku ekonomi makro dan mikro yang menulis tentang market, finance beserta ulasan-ulasan para pakar. Meski sekarang sudah berhenti, saya merasa tidak rugi melakukannya. Ilmu tetaplah ilmu. Bahkan sekarang saya sudah dua kali menamatkan buku berjudul 'Dekade Keserakahan'-nya Stighlitz

Hanya saja...akhirnya saya berhenti dari sana karena suatu alasan yang sangat kuat. Walau saya sangat sedih kehilangan ritme kerja yg penuh dinamika dan ketegangan diuber waktu. Bahkan sampai sekarang saking biasanya, saya baru bisa tidur di atas jam 12 malam. Setiap malam. Saya harus capek-capek dulu di depan komputer baru bisa nyenyak tidur. Kadang bobo sambil meluk laptop, hehehhee...

Dalam kesedihan, saya membaca nasihat bijak. "Jangan menangis karena tak punya sepatu, sebelum kamu melihat orang yang tak punya kaki" saat itu saya tertegun. Tak lama, di TV muncul tayangan peringatan hari anak. Tampil anak-anak lumpuh layu berusia 19 tahun yang mendapat bantuan kursi roda, alat yang ia nanti-nantikan sejak berusia 12 tahun. Penantian yang panjang dan mengharukan.

Kesadaran saya lengkap, ketika email ini juga mampir di monitor saya. Email dari wartawati yang lemah lembut, yang juga guru les Bahasa Inggris yang selalu mau belajar ini. Ini dia emailnya:
Aku kirimkan email ini kepada teman-teman, dan kenalan-kenalanku karena kalian berharga thanks
Dua Pilihan

Pada sebuah jamuan makan malam pengadaan dana
untuk sekolah anak-anak cacat, ayah dari salah satu anak yang bersekolah disana menghantarkan satu pidato yang tidak mungkin dilupakan oleh mereka yang menghadiri acara itu.

Setelah mengucapkan salam pembukaan, ayah tersebut mengangkat satu topik:
'Ketika tidak mengalami gangguan dari sebab-sebab eksternal, segala proses yang terjadi dalam alam ini berjalan secara sempurna/alami. Namun tidak demikian halnya dengan anakku, Shay. Dia tidak dapat mempelajari hal-hal sebagaimana layaknya anak-anak yang lain.

Nah, bagaimanakah proses alami ini berlangsung dalam diri anakku? 'Para peserta terdiam menghadapi pertanyaan itu. Ayah tersebut melanjutkan: "Saya percaya bahwa,
untuk seorang anak seperti Shay, yang mana dia mengalami gangguan mental dan fisik sedari lahir, satu-satunya kesempatan untuk dia mengenali alam ini berasal dari bagaimana orang-orang sekitarnya memperlakukan dia"

Kemudian ayah tersebut menceritakan kisah berikut: Shay dan aku sedang berjalan-jalan di sebuah taman ketika beberapa orang anak sedang bermain baseball. Shay bertanya padaku,"Apakah kau pikir mereka akan membiarkanku ikut bermain?" Aku
tahu bahwa kebanyakan anak-anak itu tidak akan membiarkan orang-orang seperti
Shay ikut dalam tim mereka, namun aku juga tahu bahwa bila saja Shay mendapat kesempatan untuk bermain dalam tim itu, hal itu akan memberinya semacam perasaan dibutuhkan dan kepercayaan untuk diterima oleh orang-orang lain, diluar kondisi
fisiknya yang cacat..

Aku mendekati salah satu anak laki-laki itu dan bertanya apakah Shay dapat ikut dalam tim mereka, dengan tidak berharap banyak. Anak itu melihat sekelilingnya dan berkata, "kami telah kalah 6 putaran dan sekarang sudah babak kedelapan. Aku rasa dia dapat ikut dalam tim kami dan kami akan mencoba untuk memasukkan dia
bertanding pada babak kesembilan nanti'

Shay berjuang untuk mendekat ke dalam tim itu dan mengenakan seragam tim dengan senyum lebar, dan aku menahan air mata di mataku dan kehangatan dalam hatiku.. Anak-anak tim tersebut melihat kebahagiaan seorang ayah yang gembira karena anaknya diterima bermain dalam satu tim.


Pada akhir putaran kedelapan, tim Shay mencetak beberapa skor, namun masih ketinggalan angka. Pada putaran kesembilan, Shay mengenakan sarungnya dan bermain di sayap kanan. Walaupun tidak ada bola yang mengarah padanya, dia sangat antusias hanya karena turut serta dalam permainan tersebut dan berada dalam lapangan itu.
Seringai lebar terpampang di wajahnya ketika aku melambai padanya
dari kerumunan..
Pada akhir putaran kesembilan, tim Shay mencetak beberapa skor lagi.Dan dengan dua angka out, kemungkinan untuk mencetak kemenangan ada di depan mata dan Shay yang terjadwal untuk menjadi pemukul berikutnya.

Pada kondisi yg spt ini, apakah mungkin mereka akan mengabaikan kesempatan untuk menang dengan membiarkan Shay menjadi kunci kemenangan mereka? Yang mengejutkan adalah mereka memberikan kesempatan itu pada Shay.

Semua yang hadir tahu bahwa satu pukulan adalah mustahil karena Shay bahkan tidak tahu bagaimana caranya memegang pemukul dengan benar, apalagi berhubungan dengan bola itu.

Yang terjadi adalah, ketika Shay melangkah maju kedalam arena, sang pitcher, sadar bagaimana tim Shay telah mengesampingkan kemungkinan menang mereka untuk satu momen penting dalam hidup Shay, mengambil beberapa langkah maju ke depan dan melempar bola
itu perlahan sehingga Shay paling tidak bisa mengadakan kontak dengan bola itu.
Lemparan pertama meleset; Shay mengayun tongkatnya dengan ceroboh dan luput. Pitcher tsb kembali mengambil beberapa langkah kedepan, dan melempar bola itu perlahan kearah Shay. Ketika bola itu datang,Shay mengayun kearah bola itu dan mengenai bola
itu dengan satu Pukulan perlahan kembali kearah pitcher.

Permainan seharusnya berakhir saat itu juga, pitcher tsb bisa saja dengan mudah melempar bola ke baseman pertama, Shay akan keluar, dan permainan akan berakhir.


Sebaliknya, pitcher tsb melempar bola melewati baseman pertama, jauh dari jangkauan semua anggota tim. Penonton bersorak dan kedua tim mulai berteriak, "Shay, lari ke base satu! Lari ke base satu!".

Tidak pernah dalam hidup Shay sebelumnya ia berlari sejauh itu, tapi dia berhasil melaju ke base pertama. Shay tertegun dan membelalakkan
matanya.

Semua orang berteriak, "Lari ke base dua, lari ke base dua!" Sambil menahan napasnya, Shay berlari dengan canggung ke base dua. Ia terlihat bersinar-sinar dan bersemangat dalam perjuangannya menuju base dua. Pada saat Shay menuju base dua,
seorang pemain sayap kanan memegang bola itu di tangannya.

Pemain itu merupakan anak terkecil dalam timnya, dan dia saat itu mempunyai kesempatan menjadi pahlawan kemenangan tim untuk pertama kali dalam hidupnya.
Dia dapat dengan mudah melempar bola itu ke penjaga base dua. Namun pemain ini memahami maksud baik dari sang pitcher, Sehingga diapun dengan tujuan yang sama melempar bola itu tinggi ke atas jauh melewati jangkauan penjaga base ketiga.

Shay berlari menuju base ketiga. Semua yang hadir berteriak, "Shay, Shay, Shay,
teruskan perjuanganmu Shay" Shay mencapai base ketiga saat seorang pemain
lawan berlari ke arahnya dan memberitahu Shay arah selanjutnya yang mesti ditempuh.

Pada saat Shay menyelesaikan base ketiga, para pemain dari kedua tim dan para penonton yang berdiri mulai berteriak, "Shay, larilah ke home, lari ke home!". Shay berlari ke home, menginjak balok yg ada, dan dielu-elukan bak seorang hero yang memenangkan grand slam. Dia telah memenangkan game untuk timnya.

Hari itu, kenang ayah tersebut dengan air mata yang berlinangan di wajahnya, para pemain dari kedua tim telah menghadirkan sebuah cinta yang tulus dan nilai kemanusiaan ke dalam dunia.

Shay tidak dapat bertahan hingga musim panas berikut dan meninggal musim dingin itu. Sepanjang sisa hidupnya dia tidak pernah melupakan momen dimana dia telah menjadi seorang hero,bagaimana dia telah membuat ayahnya bahagia, dan bagaimana dia telah
membuat ibunya menitikkan air mata bahagia akan sang pahlawan kecilnya.

Seorang bijak pernah berkata, sebuah masyarakat akan dinilai dari cara mereka memperlakukan seorang yang paling tidak beruntung diantara mereka.

Catatan kaki:
Kita sering mengirim ribuan jokes lewat email tnp pikir panjang, namun bila kita harus mengirimkan mail tentang pilihan dalam hidup, kita seringkali ragu. Kejadian-kejadian vulgar,kasar dan mengerikan acap terjadi dalam hidup ini,namun pembicaraan
tentangnya seolah tertelan waktu, baik itu di lingkungan pendidikan atau kerja.

Jika Anda berpikir untuk forward email ini, kemungkinannya Anda akan memilih daftar orang-orang dari email address Anda yang Anda pikir layak untuk menerima email Anda. Ingatlah, bahwa orang yang mengirimi Anda email ini berpikir bahwa kita semua
dapat membuat perbedaan.

Kita semua mempunyai banyak pilihan dalam hidup setiap harinya untuk dapat memahami "kejadian alami dalam hidup". begitu banyak hubungan antar 2 manusia yang kelihatan remeh, sebenarnya telah meninggalkan 2 pilihan bagi kita:
Apakah kita telah meninggalkan cinta dan kemanusiaan atau, Apakah kita telah melewatkan kesempatan untuk berbagi kasih dengan mereka yang kurang beruntung, yang menyebabkan hidup ini menjadi dingin?

Read More..

Saturday, July 5, 2008

Suatu malam di tambak udang

Makan udang galah? Mauuuu!!...jawabku langsung saat ditanya suami suatu sore. Ia mengajakku hadir dalam jamuan makan malam di resto Tambak Udang yang terkenal di Ketapang. Udang sebesar kepalan tangan langsung terbayang-bayang di mata. "Nyam... its so nyummy, so delicious," kataku dengan mata berbinar.
Menu ala udang, seperti shabu-shabu memang favorite-ku. Agak mahal, makanya kalau ada kesempatan makan gratis, asal halal sumbernya, hayoh hajar ajah.... Kamis Pukul 19.30, setelah mandi aku dan suami bergegas menuju lokasi pesta.

Naik Ferozza, perjalanan ditempuh sekitar 20 menit. Dalam perjalanan kami tertawa-tawa membayangkan dan menghitung berapa udang galah yang mampu kami makan nanti. Maklum, demi udang galah ini, pernah aku dan Ronny harus menempuh perjalanan hingga kota pelabuhan yang jaraknya 92 kilometer dari Ketapang.
Waktu itu kami menginap di Sukadana, 80 km dari Ketapang. Usai berjalan-jalan ke Pantai Pulau Datok dan Pantai Pasir Putih, perut terasa sangat lapar. Kami sepakat menu makan siang yang cocok adalah udang galah.
Di Sukadana, tak satupun resto yang menyiapkan menu ini. Kami memutuskan ke Kecamatan Teluk Melano, 12 kilometer dari Sukadana, menuju sebuah restoran yang menyajikan menu udang galah segar. Perjalanan satu jam itu tak membuahkan hasil. Resto dekat pelabuhan dan pasar itu sudah kehabisan menu udang. Maklum hari sudah agak siang. Balik ke Sukadana, kami makan siang di tempat biasa, berkemas dan kembali ke Ketapang dengan sepeda motor. Lelah tapi mengasyikkan.
Asyik mengenang perjalanan berburu udang galah segar, kami tiba di lokasi. Resto Tambak Udang. Restoran yang hanya dikunjungi orang-orang berduit untuk sekadar memanjakan lidah dengan sajian fresh langsung dari tambak.
12 orang tampak sudah menyelesaikan hidangan di depannya. Mereka menyambut kami dengan celetukan, "Wah kalau pengantin baru selalu datangnya lama," kata Dicky.. Aku dan Ronny cuma tertawa.
Kami duduk di ujung meja panjang. Tak lama pelayan membawakan aneka menu udang galah segar. Ada yang dibakar dengan saos mentega, udang goreng tepung juga asam pedas ikan gabus dan kakap. Semua berukuran jumbo dengan porsi besar.
Beberapa kawan mendekat. Mereka sudah makan dan beristirahat sekitar setengah jam, tapi masih ingin mencoba me'ratah' menu gurih ini. Melihat makanan banyak begini aku jadi ingat dua kawanku, wartawanb baru biro daerah yang ngekos di Ketapang. Iin dan Rozi. Aku kontak, mereka ternyata pada sudah makan nasi goreng. Ya sudahlah, lain kali deh ya kawan, aku traktir....blom rezeki he he he

Read More..

Pembenaran sebuah kesalahan tidak membuat kesalahan tersebut menjadi benar

(dari blog ustadz saya) Seorang pria yang sedang bermasalah bersumpah kalau masalahnya terselesaikan. Dia akan menjual rumahnya dan menyumbangkan hasil penjualan itu kepada kamu duafa. Ketika masalahnya benar-benar selesai, dia sadar kalau dia harus menunaikan nazarnya itu.

Namun sekarang ia enggan untuk melepas begitu banyak uang, jadi dia mencari jalan keluar. Dia lantas menjual rumahnya hanya seharga 1 keping uang perak. Namun dia memasukkan seekor kucing dalam penjualan rumahnya itu.

Kucingnya dihargai 10.000 keping uang perak. Seseorang membayar harga yang diminta. Sang pria memberikan 1 keping uang perak kepada kaum duafa dan mengantongi 10.000 keping uang perak. (Idries Shah dalam The Tales of the Dervishes).

Dalam cerita sufi di atas, sang pria berusaha mencari pembenaran atas sebuah kesalahan, sementara kenyataannya, dia ingkar janji. Sebagai analisis akhir, ada integritas yang hilang, dan ketika dia berkaca, sang pria akan melihat gambaran dirinya yang tidak lagi sempurna.

Ketika hukum spiritual dilanggar, tindakan pelanggaran itu sendiri menjadi sebuah hukuman dan menggerakkan berbagai kekuatan tak terlihat yang tidak bisa kita hindari seperti halnya kita tidak bisa menghindari hukum gravitasi.

Dalam setting korporasi, ketika pelanggaran kreatif seperti itu terjadi, perusahaan kehilangan kredibilitasnya, dan ini akan memberikan dampak yang sangat buruk. Target sales yang meleset bisa ditangani, tetapi pelanggaran etika dan prinsip tidak.

Untuk alasan inilah, kita perlu mendepak Karyawan yang melanggar integritas korporasi. Tom Peters, konsultan manajemen yang terkenal, berkata: “Tidak ada sesuatu yang disebut sebagai kesalahan integritas yang kecil.” Ini hal yang tidak bisa dikompromikan oleh korporasi.

Pemimpin bisa mendorong dan mempromosikan pelatihan untuk menambah kepercayaan diri, komunikasi, dan hubungan baik, serta menekan pada pentingnya integritas.Seorang pemimpin perlu mengirimkan pesan yang jelas dan lantang bahwa korporasi tidak memberikan toleransi apa pun terhadap para Karyawan yang melanggar integritas korporasi..
Sebuah renungan untuk kasus kawannya kawan saya itu...

Read More..

Sunday, June 29, 2008

Berlindung di balik kepalsuan

Ini kisah kawannya seorang kawan. Saya sampai hari ini masih bertanya-tanya, apa kelanjutan kisah itu. Bisa tidur nyenyakkah dia setelah sibuk cerita sana-sini tentang keburukan orang yang ia ingin lawan dan singkirkan...seorang perempuan..(yang pernah ingin ia kalahkan) juga kisah 'romantika semu' yang ia dapat dari perempuan itu...hanya untuk menunjukkan bahwa ia tak bersalah.
Agar ia dipertahankan dan mendapat tempat di hati orang yang menghiba kepadanya.
Sayangnya ...si korban bukanlah robot yang bisa bersikap ‘like ussually’ tanpa perasaan. Bukan mesin yang bisa digenjot bekerja tanpa mengistirahatkan syaraf, setelah diterpa masalah demi masalah dan kekerasan psikis, fitnah juga pembunuhan karakter.


Btw, Saya masih ingin tahu apa yang kawannya kawan saya terima sebagai hasil ilmu 'menjulur lidah'nya itu. Saya masih ingin tau bagaimana para 'decisssion maker' menerima dan memperlakukan ia dengan baik.
Ia bahkan pernah mengadukan hal-hal yang sifatnya bisa mengadudomba si perempuan dengan atasan. Bahkan saat bertemu dengan jurnalis senior di Indonesia, dianggap sebuah makar yang membahayakan bagi perusahaan. Saya jadi kasihan sama jurnalis senior yang dianggap 'berbahaya' itu.

Begitu juga keluhan kawan-kawan soal waktu pelatihan yang padat yang diadukan kepada si perempuan, dianggap sebagai pengorganisasian massa untuk menentang sistem. Benar-benar lidah yang berbahaya.

Bahkan saat si perempuan sakit, ia berani mengatakan pada si atasan, bahwa si peremnpuan mau cabut dari perusahaan karena padatnya waktu pelatihan.

Ia juga sibuk meyakinkan orang-orang, perempuan itu tak pernah menolak cintanya mentah-mentah bahkan pernah mengusirnya dari rumah.

Yang ia inginkan adalah posisi terhormat di mata orang-orang dan pengakuan serta perasaan bangga sebagai seorang laki-laki. Tak pernah ia cerita ia ditampar bahkan didorong keras tubuhnya hingga nyaris terjerembab. Yang ia ceritakan adalah semua keindahan. Keindahan perlakuan dari si perempuan. Perlakuan yang dilatari ketakutan akan tindak jahat kawannya kawan saya itu.

Sebuah pemutarbalikan fakta yang sempurna. Hebatnya nyaris semua yang mendengar begitu percaya. Sebuah ‘caracter assasination’ yang sempurna. Walau ia secara ‘de facto’ tak pernah mendapatkan hati si perempuan.

Wajarlah untuk seorang calon diplomat yang alumni jurusan Hubungan Internasional. Berpolitik dan memolitisasi sebuah persoalan sudah menjadi biasa. Setidaknya membohongi diri sendiri dan orang lain akan tidak menenangkan perasaan. Makannya ke badan sendiri, makan ati dan bisa makin kurus.

Kabarnya sekarang, nun jauh di sana kawannya kawan saya itu bisa tertawa-tawa lepas. Menikmati buah kecurangan dan kepalsuannya. "Asyik saya bisa jalan-jalan," katanya polos dalam perjalanan menuju bandara meninggalkan Pontianak.

Padahal belum lama ia menangis dan insyaf atas apa yang ia perbuat. Maafnya hanya kamuflase, ya sebelum maaf itu ia ucapkan kawan saya sudah tahu itu.

Dalam maafnya itu, kawannya kawan saya bilang: “Aku telah melupakanNya untuk waktu relatif lama. Pembentukan sistematika berpikirku terlalu licik dan kejam! Politisasi telah merasuk logika berpikirku yang praktis.
Kelicikanku telah membawa banyak korban, bahkan rasa idealisme.
Sadar, bahwa ambisiku membawa beberapa tumbal. Aku tidak mengerti, sama sekali tidak mengerti dengan diriku”
Ya, kalimat yang mencerminkan ungkapan seorang yang sakit JIWA

Read More..

Mengapa Kisah Venus Saya Hapus?

Tulisan ini untuk menjawab pertanyaan beberapa kawan yang ingin tahu nasib Venus dalam fiksi 'Lelaki yang menyerah pada cinta'....

Satu hal, saya memandang tulisan ini sangat menarik untuk dilanjutkan dalam bentuk buku. Fiksi ini akan saya rampungkan dalam waktu 3 bulan.

Cerita Venus akan menjadi jawaban atas semua yang menimpa perempuan urban ini.
Gambaran keterjajahan seorang perempuan atas perilaku penuh nafsu dari seorang laki-laki yang tak jera mengejar-ngejarnya meski sudah diperingatkan.

Orang egois yang menuruti nafsu birahi dengan ancaman-ancamannya. Orang ini selalu merasa perempuan tersebut mencintainya. Bahkan si lelaki menganggap apa yang ia terima sebagai perlakuan baik karena takut ancamannya, adalah bentuk cinta murni di perempuan. Benar-benar psiko gila perempuan.

Kalaulah tak takut akan ancaman dan perilaku buruk si lelaki, sang perempuan tak akan tunduk. Bahkan ia telah menyiapkan pisau dapur di meja TV nya untuk merobek-robek usus si lelaki. Pisau ini adalah simbol perlawanan Venus yang tak terungkap dan tak pernah diakui si Lelaki yang merasa sangat dicintai itu. Sampai akhirnya Venus memberitahu semua yang menimpanya, kepada orang yang ia percaya.

Yang tidak bisa diterima oleh perempuan itu kini adalah, bagaimana perilaku ini bisa dilindungi dan dibela tanpa saknsi apapun? Padahal satu korban juga telah mengalami ini sebelumnya. Kisah korban lain bernama Jingga akan tertuang dalam suatu adegan flash back, bagaimana Jingga direngkuh lantas ditinggalkan.

Rekan-rekan yang baik, kisah Venus tidak akan saya hapus dari komputer saya, ia hanya saya hapus dari tampilan blog saya. Sebab selain ingin dibukukan, saya tidak mau blog saya jadi tontonan untuk dibanding-bandingkan dengan blog lain yang mutunya 'kacangan' karena isinya hanya soal cinta dan cinta.. he he hehe ...Saya berharap rekan-rekan yang menanti kelanjutannya bisa bersabar beberapa bulan lagi,

Pada yang tersindir dengan tulisan yang murni fiksi ini, maaf deeehh...lantas ada yang minta dibuat obyektif, agaknya si peminta ini merasa ia lah lelaki itu, ...agaknya ia juga harus sadar bahwa yang namanya fiksi tentu bebas sesuai dengan apa yang dirasakan pengarangnya. Kecuali diary, yang isinya harus obyektif sesuai kejadian sebenarnya, bukan menonjolkan satu fakta lantas menenggelamkan fakta lain.

Soal Venus, yang ia alami adalah apa yang menimpanya. Sikap pasrah dan menerima dari sisi perempuan sebenarnya adalah ketakutan yang sangat untuk menerima akibat dari penolakan dan kemarahan lelaki hidung belang itu..so, sabar aja membaca lanjutannya..

Setidaknya kisah Venus ini berguna bagi para perempuan lajang atau bukan, dengan gaya hidup urban yang menjadi incaran para 'penjahat kelamin' yang bergentayangan di kota-kota besar.....bukan bermaksud menakut2i, tapi lebih baik waspada, karena hidup amat keras, rite?

Read More..

Wednesday, June 18, 2008

Tentang Dekky,



Malam tadi aku bercinta dengan gelap dan sunyi. Kekosongan yang sejenak merambah jiwa. Meneteskan air mata luka. Haru tapi penuh makna. Jam menunjukkan pukul 01.30 WIB. Kokok ayam pertanda dini hari terdengar sayup-sayup ditingkahi gerimis. Aku baru saja pulang, masuk rumah dan menghempaskan pantat di empuknya pembaringan.

Aku melirik rokok di atas meja. Rokok LA putih milik Ronny, kekasih yang kini menjadi suamiku. Rokoknya tertinggal di meja dekat TV. Tergoda untuk mengisap walau hanya sebatang. Kuambil dan kutimang-timang dengan telunjuk dan jari tengah. Lalu kuletakkan lagi di meja. Tak ada korek api, pikirku. Aku membuka-buka laci, tak juga kutemukan. Lelah mencari membuatku malas dan tak jadi mencobanya.


Aku kembali memilih bercinta dengan gelap. Kupadamkan lampu kamar. Membakar lilin aroma terapi dan minyak esensial berbau lavender. Aku telungkup, terlentang, mendesah dan meregangkan kedua tangan di atas seprei motif abstrak ini. Seprei warna cream muda yang sering ketumpahan sperma usai bercinta. Aku mencoba menciptakan kantuk yang tak kunjung menyerang. Ah, jam tidurku sudah lewat tadi. Ke dapur lantas mengambil air hangat dan merendam kakiku di baskom. Masih di kamar yang gelap.

Pulang kerja tadi aku tak langsung pulang. Asyik melihat bagaimana rekan-rekan sesama wartawan yang memeragakan perangkat yang akan dibawa nanti ke daerah. Bagaimana mengirim berita, mengecilkan resolusi foto, menggunakan telkomsel flash, sampai bagaimana strategi kalau semua alat tak berfungsi.

Usai simulasi pun aku tak mau langsung pulang. Di luar hujan sedikit deras. Ngobrol sambil menunggu hujan reda membuat mata mengantuk. Aku juga batuk-batuk karena asap rokok memenuhi seluruh udara di ruangan. Lagi-lagi aku harus menjadi perokok pasif tanpa bisa menikmati bagaimana rasa nikmatnya orang merokok. Pikiran ini kadang menggodaku untuk mencoba mengisap rokok (ah jadi ingat becandanya kawan-kawan soal 'rokok')

Hujan reda, gerimis menjelma. Anak-anak mengajakku gabung nongkrong di warung kopi Gajah Mada. Ngopi bareng Deki, wartawan baru asal Yogya yang terpaksa tak lagi meneruskan karir di sini. Besok ia akan pulang. Tereksekusi hasil tes kesehatan yang membuatnya terpaksa memilih keluar setelah dua bulan mengikuti pendidikan. Tragis, nyeri dan memilukan. Menguras air mata semua yang mendengarnya.

Ayuklah, batinku. Sekali-kali ngopi di sana tak mengapa, walau aku sebenarnya kurang suka nongkrong di warung kopi karena penuh dengan asap rokok. Kami menembus gerimis. Ada enam motor meraung-raung malam itu. Aku, Agung, Hasyim, Daefvi, Danila, Bramasto, Dekky, dan Zamzami. Ririn, Galih dan Iin Sholihin yang rencananya menyusul terpaksa batal karena harus meliput razia Tipiring yang digelar Polda Kalbar. Ririn yang sedari tadi di kelas tak henti menangis hanya menelpon, bicara padaku dan dekky.

Di sana, ada Adi wartawan Trans TV, bersama wartawan TV lainnya, ada Sugeng Mulyono dan Hartono, wartawan kriminal Borneo Tribun, Heri Mustari, wartawan kriminal Equator, dan beberapa wajah yang tak aku kenal.

Kami makan apa saja. Bakwan, goreng pisang, tahu isi, kopi, teh, susu, mie rebus, sambil gojek-gojekan (meminjam istilah Agung). Suasana berbalut tawa itu masih tercekam keharuan di kelas, saat Mr Albert mengumumkan kepulangan Deki. Tapi kisah soal ekspresi idiot Dekky terus membuat kami senyum-senyum, sambil memintanya berpose dengan wajah idiot.

Aku tak bisa menghilangkan kesedihan. Aku menangis dalam hati dan dalam tawa. Hingga sampai di kamar ini, aku tak henti merenungi nasib Dekky. Apa yang terjadi pada kesehatannya. Begitu fatalkah hingga ia tak lagi bisa bergabung mengembangkan karir jurnalistiknya?

Rasa lelah dan jenuh memang sempat menghinggapinya. Juga kami dan lainnya. Tak heran satu dua orang sempat mau mundur karena ketatnya jadwal pelatihan. Begitu juga Dekky. Beberapa hari lalu, saat pengumuman tes kesehatan belum ia ketahui, ia sempat mau pulang kampung. "Tiket Lion Air bisa beli di mana sih Mbak?" tanyanya dengan maksud mencari tiket rute Pontianak-Yogya.

Waktu itu aku bertanya, "Kenapa, kamu sedang menimbang-nimbang untuk resign ya?" tanyaku. "Iya, aku masih menimbang-nimbang Mbak," jawabnya. Beberapa hari berselang setelah itu, aku tak lagi mendengarnya bertanya soal tiket. Sampai saat pengumuman eksekusinya.

Tragisnya, pagi hari sebelum pengumuman itu, Dekky mengubah niatnya. Ia ingin tetap stay dan berjuang bersama kawan-kawan untuk berkarir sebagai jurnalis. Tekadnya itu akan ia buktikan melalui tulisan-tulisannya. Namun tekad itu seketika kandas dalam hitungan jam. Tak ada yang membuat aku sedih sampai menitikkan air mata selain peristiwa itu. Wajahnya yang tabah dan pucat masih terbayang. Bahkan sampai saat aku meringkuk di kamar gelap ini juga hingga tulisan ini aku buat.

Jam 12.00 siang ini ia ke bandara Supadio Pontianak, diantar beberapa rekan, ada yang bermobil dan bermotor. Aku hanya melepas kepergiannya di kantor. Stick drum. Kado itu dipilih dan dibeli kawan Dekky sesama perantau dari Yogya, Agung, dengan uangnya sendiri sebagai kenang-kenangan untuk Dekky. Harganya sekitar Rp 80 ribu, stick drum merk Zildjian.

Drum kata Dekky sudah mendarahdaging dalam jiwanya. Dari menabuh drum ia bertahun-tahun menggantungkan hidup dan harapannya akan musik. Selamat jalan Dekky, semoga kita dipertemukan dalam kondisi yang berbeda, saat kesuksesan menyertaimu.

Read More..

Monday, June 16, 2008

trust is an expensive thing


There are many questions here
on my head
to all of you
Is it difficult to you to believe us
how it can be a great team
if there's no faithfull between us
you keep your distance from me
so do I
we all knew
trust is an expensive thing in a world
This is not about culture
Not about religion or colour of skin
its all about heart

By a naked girl


Read More..

How I love my self



How I love my self
Today at 1:02pm
This night, i was wake up and look at my face on a mirror
there are many confused things turn around on my head
its all about my self...
who am i? s there love here .. on my heart...
or is there a big idea on my head?
or i didnt have both of them...
i took my hand and put it on my chick
wondering how it can be..
i just a human who loves her self

by a naked girl

Read More..

Sunday, March 9, 2008

Tinggi, Semangat Gotong-royong Warga Desa Sibaju



Perjalanan ke Desa Sibaju, Kecamatan Monterado, Kabupaten Bengkayang bersama para donatur World Vision, membawa pada hikmah yang dalam akan potensi berkembang yang dimiliki masyarakat pedalaman. Sayangnya, mereka jarang tersentuh akan pembangunan mentalitas dan pendidikan. Sebab pemerintah lebih banyak terfokus pada pembangunan fisik semata.
Di desa yang yang berbatasan langsung dengan Kota Singkawang ini, masyarakatnya hidup begitu sederhana. Mereka hidup dari bertanam karet, sawah, dan pertambangan emas

Meski begitu, walaupun dengan kesederhanaan yang dimiliki, masyarakat di desa ini mempunyai sikap gotong royong dan jiwa persatuan yang tinggi. Terbukti dengan berdirinya bangunan sekolah yang dalam satu tahun tahun terakhir telah diambil pemerintah. Sekolah itu adalah SD Negeri 21 Sibaju.
Semangat warga desa dengan penduduk kurang lebih 200 KK ini juga ditopang pula para donatur World Vision. Saat berkunjung, mereka berkumpul bersama dan mendengarkan perjuangan yang dilakukan masyarakat.
Seperti upaya warga dalam membangun sekolah dan pengadaan air bersih. Diantara tokoh masyarakat itu, tampil Paulus, selaku Kepala Sekolah, Bapa Oktoviana, rohaniawan, Jasmin, panitia pembangunan, dan beberapa tokoh masyarakat lainnya.
”Pembangunan sekolah yang ada sekarang ini merupakan hasil perjuangan masyarakat didampingi WVI,” kata Ovi, guru di sekolah ini. Sekolah yang terdiri dari tiga ruang belajar, satu ruang kantor, dan satu saung tersebut dibangun dengan dana sebesar Rp133.263.250, dengan rincian Rp23.500.600 dari masyarakat dan Rp109.762. 650 dari World Vision Indonesia. Pembangunan sekolah itu dimulai pada tahun 2005 dengan cara bergotong-royong.
”Sebelum sekolah ini jadi, anak-anak harus bersekolah dengan memanfaatkan gereja. Ini karena jarak sekolah dari kampung sangat jauh, kurang lebih empat kilometer,” kata Ovi.
Menurut Ovi, pembangunan sekolah tersebut berawal saat dirinya bertemu dengan pengurus Wahana Visi Indonesia (ADP) Singkawang-Bengkayang pada pertengan tahun 2005 yang lalu. Dari pertemuan itu, akhir tahun 2005 pembangunan dimulai.
Walau pembangunan dilakukan, kerangkanya sempat roboh. Akan tetapi karena persatuan dan semangat fotong royong, dalam waktu satu hari, kerangka bangunan itu kembali berdiri. Setelah sekolah berfungsi, pengeololaannya diserahkan ke pemerintah daerah, Dinas Pendidikan Kabupaten Bengkayang.
Setahun berikutnya, pihak pemerintah menawarkan untuk menambah dua ruang belajar. ”Saat ini ruang belajar yang kita miliki ada lima dengan satu kantor dan ditambah satu saung,” jelas Ovi.
Untuk selanjutnya, masyarakat menginginakn World Vision dapat membantu kembali masyarakat untuk membangun gedung SMP. ”Dengan adanya SMP, pendidikan anak-anak kami disini akan terperhatikan,” ujar Ovi
Selain pembangunan sekolah, dengan sikap gotong royong yang besar, masyarakat Sibaju juga berhasil membangun sarana pengadaan air bersih. Pembangunan tersebut tentu juga didampngi oleh Wahana Visi Indonesia.
”Karena wahana visi inilah, kami merasakan pentingnya persatuan dan kesatuan,” kata Ovi.
Selain bertemu dengan tokoh masyarakat, di Sibaju, para donatur kembali bertemu dengan para pelajar SDN 21. Pertemuan itu kembali diselimuti keceriaan. Mereka rela menghabiskan waktu hingga siang hari untuk bermain bersama. Setelah semua lelah, para donatur mendapatkan jamuan makan siang.
Setelah usai menggelar pertemuan di Sibaju, sebelum kembali ke Kota Sigkawang, para donatur World Vision kembali berkesempatan untuk mengunjungi ibu-ibu yang ada di kampung Wahabang, Kelurahan Sagatani. Di kampung yang juga berbatasan langsung dengan Kabupaten Bengkayang ini, para donatur kembali mendengarkan semangat ibu-ibu yang bertekad untuk membangun air bersih.
Air itu direncanakan akan diambil dari salah satu bukit yang ada di dekat kampung. Menurut rencana, pendanaannya juga diperoleh dari Negara Belanda. Setelah bertemu dengan ibu-ibu di kampung Wahabang. Kunjungan para donatur World Vision pun usai. (naskah Mujidi, editor : Iphiet)


Read More..

Indahnya Berbagi Cerita dengan Anak dan Warga


*Dari Kunjungan Donatur World Vision ke Desa-desa
Tak hanya bertatap muka dengan siswa-siswi santunannya di Kota Singkawang, para donatur World Vision, Sabtu (8/3) lalu juga berkeliling ke sejumlah desa binaannya, mulai dari Kelurahan Sijangkung, Sagatani, juga Desa Sibaju di Kabupaten Bengkayang.
Para donatur ini didampingi anggota World Vosion International-Indonesia, Katarina Hardono selaku Communications Directur, John Nelman sebagai Marketing Public Relations Manager, Thomas A. Setyoso selaku manajer Wahana Visi Indonesia (ADP) Singkawang-Bengkayang, serta beberapa anggota World Vision lainnya.

Kunjungan diawali dengan menemui anak-anak TK Pelangi Kasih Kelurahan Sijangkung. Di sini, para donatur bercengkarama dengan para siswa, belajar mengajar hingga berfoto bersama. Keceriaan terlihat, murid-murid di TK ini juga mendapatkan hadiah.
Setelah kurang lebih setengah jam bersama murid TK Sijangkung, rombongan menuju Kelurahan Sagatani. Sampai di TK Kita Setia, sekitar 15 kilometer dari Kota Singkawang.
TK didirikan atas inisiatif masyarakat, melalui kelompok peduli anak. Dengan dampingan World Vision, kelompok yang terdiri dari 12 orang perempuan ini menggerakan masyarakat untuk bekerja dan berkontribusi bagi pembangunan TK.
Tanah berasal dari warga bernama Ishak Lampe. Ia menyumbangkan setengah hektar lahannya untuk pembangunan sekolah. Masyarakat menyumbang sebesar Rp350 ribu /orang untuk membeli perlengkapan sekolah.
Selain itu, disediakan pula peralatan sekolah bagi anak-anak. Setiap bulannya, warga juga mengumpulkan Rp20 ribu untuk mendukung gaji para guru dan menutupi biaya operasional sekolah. Pertama kali dibuka, 90 anak dapat menikmati kegiatan belajar dan bermain di sekolah ini. Ada tiga ruang kelas, satu lapangan dan dua kamar mandi. ”Sekarang siswanya sedikit berkurang, jumlahnya hanya 82 anak,” kata Siselia, salah seorang guru.
Bukan hanya pembangunan TK, Manajer Wahana Visi Indoneia (ADP) Singkawang-Bengkayang, Thomas Setyoso mengatakan, pihaknya juga memberangkatkan beberapa guru TK untuk mendapatkan pelatihan pendampingan anak TK di Jakarta. Dengan pelatihan tersebut, para guru TK diharapkan dapat memahami cara yang baik untuk mengajar. Salah satu contohnya, bagaimana berbahasa yang baik dalam menyuruh anak.
Setelah mengunjungi dua TK di dua Kelurahan di Kota Singkawang, rombongan kembali melanjutkan perjalan ke Desa Sibaju, di Kecamatan Monterado, Kabupaten Bengkayang.
Desa ini merupakan daerah yang berbatasan langsung dengan Kota Singkawang. Masyarakatnya begitu sederhana, dengan sebagain berpenghasilan dari tanaman karet, sawah, dan pertambangan emas.(naskah Mujidi, editor : Iphiet)

Read More..

Sunday, January 27, 2008

Wisata Sejarah di Soveregn Hill


*Menguak Perburuan Harta 200 Tahun Silam

Safitri Rayuni
Borneo Tribune, Ballarat, Australia

Sehari sebelum melanjutkan perjalanan wisata ke Ballarat, Australia, saya menyempatkan diri datang ke Museum China di China’s Town di pusat Kota Melbourne. Di sana diceritakan bagaimana penduduk China melakukan perjalanan selama lebih dari dua bulan menuju daratan Australia. Tujuannya satu. Emas

Pun begitu warga Eropa yang tertindas dan hidup miskin di negaranya. Menuju benua Australia, dengan satu tujuan. Emas. Perburuan ini ternyata akhirnya berujung pada pertumpahan darah. Perebutan, peperangan, dan akhirnya perbudakan.
Kini, Ballarat dijadikan sebagai salah satu pusat wisata sejarah dengan aksesn kota kuno. Penghuninya sebagian besar adalah sukarelawan dari pusat kota Ballarat dengan pakaian tradisional kuno Australia. Mereka menjadi guide dan penghibur di sana, secara khusus menampilkan aksi teatrikal kota kuno itu pada zamannya.
Berjalan ke Ballarat hanya memakan waktu sati jam dari Melbourne. Di sana sangat dingin, karena kontur alamnya pegunungan. Desain bangunan amat khas sesuai pada zamannya. Mesin penambang emas bekerja seolah-olah nyata, pun penambangan bawah tanah yang kami masuki, masih menyisakan sejuta kisah dan misteri yang terpendam. Di dalamnya ada layar besar menampilkan film sejarah, juga kereta yang melaju kencang membawa kami keluar dari gelapnya lorong tambang emas nan panjang.(bersambung)

Read More..

Monday, January 21, 2008

Ermy Muchtar, Ibu UKM Kalbar Itu Kini Terbaring Sakit


*Mahalnya Biaya Pengobatan, Terpaksa Menguras Tabungan Haji

Sebuah jeweran buat pemerintah yang sudah banyak dibantu mengharumkan nama daerah dalam berbagai ekspo nasional, namun susah untuk memberi kepedulian, meski secuil, mereka berjanji membantu namun tak kunjung datang, janji menjenguk hanya dibibir saja.

Safitri Rayuni
Borneo Tribune

Tak sedikit pelaku usaha kecil dan menengah di Kalbar yang berhasil ia dorong untuk maju. Mulai dari pengusaha catering kue hingga pengusaha kerajinan keladi air di Kalbar, telah banyak yang mampu menembus pasar internasional berkat jasa pemasaran beliau.
Ialah Ermy Muchtar, sosok aktif yang sehari-hari mengemban amanah berat di pundaknya. Jabatan sebagai Sekjen Forda UKM Kalbar agaknya dihayati Ermy sebagai amanat yang akan ia pertanggungjawabkan kepada Sang Khalik. Karenanya, tak heran dalam satu hari, Ermy yang biasa menjadi tutor bagi koperasi-koperasi ini berada di banyak tempat.

Kesibukan menuntutnya tetap giat di usia 57. Selain aktif sebagai Sekjen Forda UKM, Ermy juga berkiprah sebagai Sekretaris DPD Golkar Kalbar dan Ketua Unit Usaha Peningkatan Pendapatan Kesejahteraan Keluarga (UPPKS) Kalbar.
Ia yang juga membuka catering kue di rumahnya ini, hidup secara sederhana. Sedikit demi sedikit Ermy mengumpulkan uang untuk mewujudkan cita-cita yang lama ia pendam. Berangkat Haji. Panggilan itu terus terngiang di telinga Ibu kelahiran 22 Agustus 1950 ini.
Tapi kini, uang tabungan itu harus terpakai untuk biaya pengobatan yang tidak sedikit. Sekali tebus resep saja, keluarga harus menghabiskan tak kurang Rp800.000. Sementara bantuan yang mengalir tak seberapa. “Sampai hari ini kami hanya menerima bantuan sebesar Rp860 ribu mbak, terpaksa harus mengorbankan tabungan haji Ibu,” ungkap Aria Sari berlinang air mata.
Ia sangat sedih mengingat betapa uang itu dikumpulkan Sang Bunda dengan susah payah. “Dia selalu bermimpi suatu saat uang itu akan ia pakai untuk berhaji. Sebenarnya kami (keluarga-ed) sudah akan membawa Ibu pulang hari ini, tetapi dokter mengatakan Ibu masih harus dirawat selama dua minggu lagi, ditambah Ibu menolak, katanya tunggu sampai bisa berjalan,” cerita Aria lirih.
Upaya menggunakan Askeskin juga ditempuh pihak keluarga. Namun sayang, askeskin itu tidak berlaku di rumah sakit swasta. Padahal dalam kesehariannya, Ermy aktif membantu Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar untuk mendapatkan anggota izin kesehatan gratis dari berbagai UKM. Program Dinkes yang rutin diberlakukan setiap tahun bagi pelaku usaha-usaha kecil dan menengah.
Meski demikian, Ermy selalu takjub ketika anak-anaknya mengatakan biaya pengobatannya sudah teratasi. Meski dengan suara tak jelas, ia juga mengingatkan anak-anaknya untuk membayar telepon dan urusan rumah lainnya. “Kata dokter, ibu terlalu banyak urusan dan berpikir keras setiap hari,” ujarnya. Keempat anak Ermy dengan setia menemani Sang Bunda. Meski kadang Ermy memanggil nama mereka dengan suara yang tidak jelas, mereka selalu mencoba berkomunikasi dengan ibunya.
sosok Ermy terbaring tak berdaya di RSS Antonius. Ketika saya menjenguknya, Sabtu (19/1) siang lalu, Ermy yang dirawat di Matheus kamar 210 terlihat sangat lemah. Kata Aria Sari, putri ke-2 nya, Ermy tak mampu berjalan. Kalau bicara terbata-bata. Ini akibat serangan stroke yang menderanya, Sabtu (12/1) lalu.
Pagi itu, pukul 05.00 WIB Ermy yang sehari sebelumnya masih tampak sehat dan sibuk dengan aktivitas, terbaring tak berdaya di kamarnya, usai salat subuh. “Dari mulutnya keluar busa, kami panik dan segera melarikannya ke RSSA, dan harus dirawat di ICU selama empat hari,” kisah Aria. □

Read More..

Saturday, December 29, 2007

Uang Terbukti Tak Mampu Membayar Semua

*sebuah renungan akhir tahun

Mungkin perut kita sudah terlalu kenyang untuk sebuah sendawa, atau jari-jari kita sudah terlalu sibuk menghitung uang untuk sebuah uluran maaf, lidah kita sudah terlalu kelu untuk sebuah senyum, karena terlalu banyak mengumpat. Hati kita tertutup untuk sebuah rasa bersalah. Kita benar. Benar. Dan selalu benar.

Sampai kita pada sebuah kekakuan, kejenuhan dalam tumpukan uang dan dosa-dosa kita. Minumlah reguk sampai puas, sampai kita merasa semua bisa membayar semua. Mengganti semua canda dan gelak tawa teman-teman buat kita. 
Membunuh rasa. Mematikan cita. 
Membakar rasa bersama jadi gelegak amarah tiada tara. 
Hingga kita terjaga, betapa mahal harga yang harus kita bayar untuk 
itu semua.

Read More..

Monday, September 24, 2007

Semalam Bersama Muslim Indonesia di Melbourne


Syahdunya Buka Puasa dan Tarawih di Negeri Orang

Safitri Rayuni
Borneo Tribune, Melbourne


Suasana haru dan bahagia terpancar jelas pada hari itu. Bagaimana tidak, jauh dari sanak family di tanah air, menjadikan suasana berkumpul dengan saudara se-tanah air di bulan ramadhan menjadi lebih bermakna. Setidaknya juga bagi muslim Indonesia di Melbourne.

Ditambah menu-menu berbuka yang sangat Indonesia, membawa kenangan tersendiri akan kampung halaman. Setelah lebih satu minggu berpuasa, Sabtu (22/9) itu komunitas muslim Indonesia di Melbourne, khususnya di Monash University menggelar buka puasa perdana. Buka puasa ini juga dihadiri sejumlah pejabat dari Konjen RI di Melbourne.

Biasanya masjid Westall (masjid yang dibangun sendiri oleh orang-orang Indonesia-ed), ini menyediakan menu berbuka puasa setiap hari. “Tetapi karena kesibukan masing-masing, buka puasa tidak seramai hari Sabtu ini, sehingga harus dibagi menjadi dua tempat,” kata Dosen Interbiology di Monash, Dr Mulyoto Pangestu, peraih Gold Award Biology (Young Invent Awards) di Australia. Pak Mul (panggilan akrabnya) inilah yang membawa saya ke dua tempat sekaligus pada hari itu.
Di mana salah satu rumah di komplek Monash University, dijadikan tempat berbuka puasa bagi para dosen dan mahasiswa. Sedangkan tak jauh dari sana, Masjid Westall, dijadikan tempat berbuka bagi para ibu-ibu dan remaja dilanjutkan dengan tarawih bersama.

Pukul 18.15, setelah mengantar Ibu Lis dan Galih, istri dan anak Pak Mul ke Masjid Westall, kami tiba di tempat kedua. Puluhan mahasiswa dan dosen tumpah ruah di sana, hingga ke teras depan dan teras belakang rumah. Usai menyantap hidangan ringan, ada sirop lemon, es kopyor, dan kue-kue kering di teras depan, satu-persatu mengantre wudhu dan shalat magrib berjamaah.

Karena sangat padat, shalat dilakukan berjamaah dan dibagi dalam empat putaran, di ruang tamu dan ruang tengah. Usai shalat, masing-masing menyerbu teras belakang untuk menikmati hidangan nasi dengan menu khas Indonesia. Lengkap dengan canda tawa khas anak muda. Semua bergembira. Terlebih menu yang disajikan seperti menu rumahan, ada tempe, tahu, sambal udang, rendang, bakso, juga ada mie ayam, yang jadi menu favorite sore itu.

Saat makan, berbagai kisah terlontar. Kebetulan saya bertemu dengan Daru Sanjaya, mantan wartawan senior di Bisnis Indonesia. Daru saat ini sedang mengambil program doktoral untuk media dan komunikasi di Monash University. Kami ngobrol banyak, terutama soal media dan berita. Ia menyarankan saya bersekolah di sini. “Tidak banyak jurnalis yang sekolah lagi dik, bisa dihitung dengan jari, pensiun cari berita sebentar nggak apa-apa to, kayak saya,” selorohnya sambil tertawa.

Saya juga bertemu dengan Zakiyah Hasan dari Pontianak. Saat ini ia sedang mengambil program doktoral di bidang Human Society. Zakiyah sangat senang ketika mendengar saya berasal dari Pontianak. Ia juga menawarkan untuk ikut ke Festival Tulip bersama-sama rombongan mahasiswa keesokan harinya.

Orang Pontianak lain yang saya temui adalah dosen FKIP yang sedang mengambil Phd di Monash, yakni Pak Uray Salam dan Ibu Nurul, istrinya, beserta tiga anak mereka. Kami bertemu di Masjid Westall usai shalat tarawih. Cerita pun mengalir lancar, apalagi kalau bukan soal situasi Pontianak saat ini.

Kebanyakan yang saya temui adalah student alias mahasiswa, baik S2 maupun S3. Ada yang baru masuk semester pertama, seperti Ningrum dari UPN, bahkan ada yang tinggal menunggu wisuda pada Desember nanti, dan sudah bisa kembali ke Indonesia pada Oktober mendatang.

Bagi mahasiswa perempuan yang sudah menikah, dan kebetulan mendapat beasiswa doctoral ataupun pasca sarjana, kebanyakan membawa serta suami mereka ke Melbourne. Ada pula yang suaminya bekerja di Jawa Pos dan ikut serta, sehingga menjadi koresponden JP di Melbourne. Ada juga yang pengusaha batik di Jogja dan mencari pekerjaan di Melbourne, seperti menjadi labor (buruh) atau pekerjaan part time sejenis.

“Gaji mereka sebagai buruh di sini cukup besar, tiga minggu bekerja bisa mendapat puluhan ribu dollar (bisa buat beli rumah tipe 45 di Indonesia-ed). Walau sayangnya mentalitas orang Indonesia tidak begitu kuat dengan model pekerjaan seperti ini, biasanya karena gengsi,” kata Pak Mul menerangkan.

Pak Mul yang sudah sepuluh tahun tinggal di Melbourne mengaku ia belajar banyak dari sikap mental egaliter orang Australia. “Di sini anak-anak yang bapaknya sopir truk tidak malu menjawab apa pekerjaan bapak mereka dengan suara lantang di kelas. Ini karena apapun pekerjaan seseorang, respek dan hormat terhadap orang tersebut sama, ini yang dinamakan egaliter yang bukan hanya sebatas wacana,” katanya.

Pak Mul sudah seperti bapak kandung bagi siswa-siswa di sini. Banyak persoalan luar dalam mahasiswa yang ia tahu. Karena kepada dosen yang mengajar para trainer untuk klinik bayi tabung ini lah kebanyakan mereka mengadu. Tak saja menampung dan mendengarkan keluhan, Pak Mul juga memberi solusi, seperti menawarkan pekerjaan part time bagi siswa-siswanya, atau bagi suami-suami mereka.

Di rumah ayah satu putera ini lah malam itu saya menginap dan sahur bersama. Keluarga Pak Mul sangat baik dan ramah. Kepada saya mereka bercerita bahwa dulu pernah satu rumah dengan dosen saya di Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian, Dr Gusti Zakaria MEs, yang saat ini tengah menjalankan riset di Taiwan. Informasi tentang Masjid Westall juga saya dapat dari Pak Gusti melalui emailnya lima hari lalu. Kontak dengan Pak Mul saya dapatkan dari Sri Dean, penyiar radio SBS untuk program Bahasa Indonesia di Australia. (habis)





Read More..

Thursday, September 20, 2007

Professional Visits para ALA Fellow di Australia-4

Bagaimana ANZ Bank Memprediksi Situasi Ekonomi Australia?

Safitri Rayuni
Borneo Tribune, Melbourne

Setelah melakukan workshop Personal Development selama satu minggu di Kota Sunburry, para Australian Leaderships Awards (ALA) Fellow untuk Economic Reporting Affairs kembali ke apartemen Quest di Lygon Street, Carlton, Melbourne. Selama dua minggu di Carlton, Asia Pasific Journalism Centre (APJC) menyediakan satu minggu (17-22 September) untuk program professional visits ke berbagai lembaga.

Jika sebelumnya kami diperbolehkan ikut duduk mendengarkan rapat perencanaan Harian The Age, kali ini kami boleh ikut duduk dalam rapat pimpinan divisi di Bank Internasional, Australia and New Zealand (ANZ) Banking.



Di dalam rapat itu, ada sejumlah ahli di sana, mereka duduk menghadap satu meja besar yang tersambung dengan line telepon ke AS. Tidak boleh ada kamera dan recorder di ruangan ini, namun berbagai hasil prediksi boleh kami akses dan tulis di media, sesuai dengan hasil prediksi para ahli di dalam rapat ini.
Rapat ini penting, karena hasil prediksi mengenai investasi, pengangguran dan lainnya akan mempengaruhi kepercayaan nasabah ANZ untuk menyimpan atau menarik kembali uangnya. Apabila prediksi para ahli ini terbukti salah, maka orang akan beramai-ramai menarik investasinya. ANZ tak hanya mengelola investasi dalam skala besar, namun juga investasi bagi pelaku usaha kecil. Bank ini mempunyai motto ‘Anda mengelola bisnis, kami mengelola risiko’.
Kami dibawa masuk oleh Senior Economist ANZ, Cherelle Murphy, yang wajahnya tak asing lagi, karena sering tampil di Stasiun TV SBS maupun ABC Australia. Setiap jam 11 siang setiap harinya, Cherelle tampil secara langsung dari ANZ untuk melaporkan kondisi keuangan makro terkini di Australia.
Para ahli ini juga dari berbagai negara, namun telah memiliki kewarganegaraan Australia. Diantaranya Ricky Jackson, ekonom perempuan dari Prancis, ada Jannet, periset dari Inggris, ada Nicolle dari Jerman yang pernah bertugas untuk ANZ di Jakarta dan Mark, senior economist di ANZ. Meja kerja Mark tak jauh dari meja Cherelle, berhadapan dengan studio mini atau tepatnya kamera siaran langsung Cherelle setiap harinya.
Dalam catatan saya, ada empat persoalan yang menjadi bahasan utama mereka selain kurs dolar Australia dalam posisi dunia. Yakni emas, besi, krisis air dan pertanian, serta harga minyak dunia, yang mempengaruhi stabilitas ekonomi di Australia.
Tidak semua peserta rapat kami tahu namanya. Namun pendapat mereka banyak menjadi catatan khusus kami tentang situasi ekonomi di Australia. Ada yang mengatakan, dari grafik kurs dollar Australia hari itu, dollar Australia tidak memberikan pengaruh banyak terhadap dunia. Sebaliknya, dunia memberikan pengaruh besar terhadap mata uang ini.
“Bisa dilihat dari grafik yang naik dan turun secara tajam dari AUD (Australia Dollar-ed), dibanding negara-negara eropa dan amerika. Ini menandakan ketidakstabilan,” katanya. Ia juga memprediksi bahwa dollar Amerika akan turun pada penghujung tahun ini.
Ada pula yang berpendapat bahwa naiknya harga emas tidak mempengaruhi situasi ekonomi di Australia, juga krisis perumahan di AS. “Dollar Australia tidak terpengaruh akan naiknya harga emas, juga krisis perumahan di AS. Krisis perumahan hanya akan berpengaruh bagi para developer baru yang akan berinvestasi,” katanya.
Sedangkan Mark berpendapat, apabila para pelaku bisnis mau berinvestasi saat ini, sebaiknya jangan berinvestasi di sektor emas. “Besi mungkin lebih baik, sebab harga besi akan terus merangkak naik sepanjang tahun ini,” katanya.
Sedangkan Nicolle berpendapat bahwa pemerintah Australia telah melakukan kesalahan besar dengan menandatangani kontrak di bidang pemasaran hasil pertanian terhadap negara-negara luar selama lima tahun. “Lima tahun terlalu lama, terlebih saat ini pertanian kita mengalami krisis air karena sudah dua bulan terakhir Australia tidak diguyur hujan,” katanya. Pendapat lain mengatakan, harga minyak dunia yang tinggi lebih disebabkan karena krisis perumahan yang terjadi di AS. Selebihnya tidak terlalu dipengaruhi oleh sistem perdagangan yang diterapkan negara-negara berkembang. Sepanjang rapat, sesekali terjadi pembicaraan via telepon dengan orang-orang Australia di AS.
Dari ruang rapat, kami melanjutkan perjalanan menuju ruang kerja para karyawan ANZ. Kebanyakan mereka berpakaian casual alias santai. Meski demikian, suasana amat serius dan tegang. “Kalian lihat, suasana mencekam di sini. Ini pertanda sesuatu yang sulit sedang terjadi, saya tidak tahu mengapa, tetapi pasti ada kaitannya dengan posisi dollar Australia,” terang Cherelle.
“Dulu, jika sepulang kantor ada sesuatu ketegangan terjadi, para karyawan memotong dasi mereka, dan menggantungkannya di sini,tapi sekarang tidak lagi,” kata Cherelle menunjuk kotak kaca berisi banyak dasi dan scraf wanita. “Hal yang sama juga terjadi apabila prediksi keuangan yang mereka berikan kepada nasabah salah besar,” pungkasnya sambil berlalu permisi, kemudian menyalakan kamera yang menghadap dirinya. Tak lama, wajah Cherelle muncul di layer TV SBS melaporkan situasi keuangan saat ini, dengan latar belakang ANZ Bank. □

Read More..