Monday, March 3, 2008

Kondisi Jalan Desa Kalimantan Rusak Parah


*Riskan Lakalantas di Musim Penghujan

Warga Desa Kalimantan, Kecamatan Manis Mata, Kabupaten Ketapang mengeluhkan kondisi jalan yang rusak parah di desanya. Sebab ruas jalan sepanjang puluhan kilometer ini merupakan jalan umum yang menghubungkan antar desa.
Jalan ini juga digunakan perusahaan sawit PT Harapan Sawit Lestari (HSL) untuk jalur operasional perusahaan. Terlepas status kepemilikan assetnya, apakah jalan tersebut milik provinsi atau kabupaten, warga memandang perusahaan pengguna jalan dengan tonase besar juga berkewajiban memperbaiki jalan tersebut.

“Musim hujan jalan licin dan penuh kubangan lumpur, sedangkan musim panas jalan penuh debu, sangat rawan kecelakaan lalu lintas,” kata Kepala Desa Kalimantan, Awas Alibaba, ditemui di Pontianak, Senin (3/3).
Awas menjelaskan, sejak tahun 2000, kondisi jalan tersebut sudah sangat memprihatinkan. Sejak rusak, akses transportasi antar desa di Manis Mata praktis terputus. Terlebih di musim hujan, kebanyakan warga kesulitan mensuplai kebutuhan pokok sehari-hari hingga ke pedalaman.
Awas Alibaba sendiri baru enam bulan ini terpilih sebagai kepala desa. Sebagai penyampai aspirasi warganya, ia berharap Pemerintah Kabupaten Ketapang memberikan perhatian terhadap kondisi yang berlangsung bertahun-tahun ini. Apabila status jalan tersebut masih milik provinsi, namun tidak dikelola dengan baik, ia berharap Pemkab cepat mengambil alih, demi kesejahteraan warganya.
Ia mengaku prihatin dengan nasib warga desa-desa di sekitarnya. Menurutnya, ketika hujan, untuk sampai ke ibu kota kecamatan saja memerlukan waktu beberapa jam.
Awas juga pernah mengadukan permasalahan ini kepada anggota DPRD Kabupaten Ketapang untuk menindaklanjuti persoalan tersebut. Namun menurutnya anggota Dewan hanya menampung permasalahan tersebut dan dalam waktu dekat akan memproses permasalahan ini. “Namun dua tahun berlalu, ternyata kondisi jalan masih tetap seperti ini, membuat kami mempertanyakan kinerja dewan,” katanya.
Warga Desa Kalimantan lainnya, juga mengeluhkan dengan kondisi jalan tersebut. Ayub (56) misalnya. Ia tak habis pikir dengan pola pemerintah yang katanya mau melakukan pemerataan pembangunan jalan di kota sampai ke pelosok.
Ayub juga meminta kepada pihak PT HSL yang selalu menggunakan jalan tersebut untuk rutinitas perusahaan, agar membantu perbaikan jalan. Ayub semakin kesal ketika ia berkunjung ke perusahaan untuk mempertanyakan masalah jalan tersebut, namun hingga sekarang pihak perusahaan tak memberikan kepastian.
Dia juga mengharapkan pemerintah dapat memberikan perhatian.Karena menurutnya tidak mungkin tidak, lama kelamaan jalan tersebut akhirnya tidak dapat difungsikan sama sekali, bila terus mengalami kerusakan. Sementara itu, salah seorang mahasiswa asal Desa Kalimantan, Yadi (21), mengungkapkan, keprihatinannya terhadap kondisi jalan di desa kelahirannya. Kondisi tersebut membuat Yadi malas untuk pulang kampung, karena kondisi jalan yang tak mendukung.
Mahasiswa yang aktif di salah satu unit kegiatan mahasiswa (UKM) ini mengharapkan kerja nyata dari pemerintah terutama Pemda Kabupaten Ketapang.
Yadi menceritakan, sangat jeleknya kondisi jalan tersebut membuatnya harus bermalam di perjalanan, hingga akhirnya ketinggalan angkutan untuk sampai ke ibu kota kabupaten.
Yadi bersama teman-temannya satu daerah pernah mengajukan permohonan perbaikan jalan ke pemerintah kecamatan, namun hingga tiga tahun berlalu, belum juga ada realisasinya, dan hal tersebut membuat mereka bertanya-tanya mengenai hal tersebut.
Sebagai putera daerah ia berjanji akan memperjuangkan pembangunan desanya, tidak saja mengenai jalan, namun masalah pertanahan yang sampai sekarang masih bermasalah dengan pihak perusahaan sawit yang ada di Desa Kalimantan. (naskah Sugeng Mulyono, editor : Iphiet)

No comments: