Monday, September 10, 2007

Personal Energy, Kekuatan Seorang Reporter

Safitri Rayuni
Borneo Tribune, Melbourne

We have stated that this ‘War against Corruption’ has no end to it…ours will be the longest war ever fought in any small democrazy.

Ungkapan ini milik Oseah Philemon, editor Post Courier, Port Moresby, Papua New Ginea. Ia menambahkan, “My view is that the ‘war’ on corruption and all the good (journalism) courses we run..will achieve very little unless we focus on these personal skills,” katanya.

Agaknya Oseah tidak berlebihan untuk itu. Sebab hal terpenting dari kemampuan personal seorang reporter tentu sangat menentukan keseriusan pemberitaan yang ia buat. Contoh kecil yang saya buat dalam notes saya, bagaimana seorang reporter peduli akan persoalan korupsi (yang menjadi momok di setiap negara), dan menuliskannya dengan baik, menyajikan data dan fakta yang lengkap, serius, akurat, dengan semangat dan vitalitas tinggi, apabila ia tidak memiliki personal interest terhadap persoalan itu. Sebab ketertarikan akan menimbulkan energi yang luar biasa kuatnya bagi seseorang.

Melihat betapa pentingnya energi personal ini, saya jadi merenung. Mengapa saya dan enam orang peserta dari negara yang berbeda, berada di sini pagi ini? Tepatnya Senin (10/9) pagi, di lantai II Carlton Library, perpustakaan terlengkap di 667 Rathdowne Street, North Carlton.

Ada Frans, saya dan Herman dari Indonesia, Mouzinho, dari Timor Leste, Sandra, Bibian, dan Eric dari PNG, dan Cherele dari Samoa Selandia Baru.
Kami datang tidak untuk membuka literatur dan mencari data tentang apa saja di perpustakaan ini. Kami datang untuk meng-explore personality kami. Agaknya program yang dibuat Asia Pasific Journalism Centre (APJC) ini bagi saya sebagai salah satu aktualisasi dari ungkapan Oseah untuk fokus pada skills personal, dimulai dari energi personal.

Ya. Selama enam minggu di Australia, kami akan mendapat dua workshop serius terkait personality. Leadership dan Economic Reporting. “Kalian tidak selamanya menginap di Quest on Lygon, Street Carlton (meski ini adalah tempat pulang resmi selama enam minggu-ed), namun kalian juga akan menjelajah di empat tempat, di Melbourne, Sunbury, Canberra, dan Sydney,” terang Direktur Program APJC, John Wallace. “Kita akan berada di Sunbury selama empat hari, mulai pukul 4 sore ini. Saya harap perjalanan nanti menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi kalian semua,” timpal Alexandra Kenedy, projecy officer APJC. Mereka menamai minggu pertama sebagai Personal Development Program. Di luar jendela perpustakaan, tampak kesibukan Melbourne mulai terlihat. Kami pun tak kalah sibuknya menatap potret personal masing-masing melalui The Johari Window (Luft 1984).

Suzi Woodhouse, instruktur pelatihan pagi ini memberikan banyak gambaran baru bagi saya. Dengan The Johari Window, ia mengajak kami melihat empat kuadran personal pribadi. Seperti ‘what others know about me, dan what others don’t know about me’. Ada area blind spot juga orang tidak tahu bahkan kita pribadi juga tidak mengetahuinya. Kuadran ini banyak saya temui di berbagai pelatihan. Mulanya agak terkesan biasa.

Tetapi ternyata begitu beda. Tidak seperti pelatihan motivasi dan kepemimpinan yang pernah saya ikuti, ini sangat berbeda. Beda, karena setiap peserta memiliki sikap terbuka dan lugas mengutarakan ide dan sikapnya. Tak ada yang pasif dan malu-malu. Kritik terlontar dengan penuh etika dan kesadaran bagi yang menerimanya. Budaya keterbukaan mengutarakan pendapat, perasaan dan menghargai perbedaan, terasa damai dan menyejukkan. Iklim seperti ini amat saya rindukan. Agaknya suasana seperti ini sehat bagi iklim emosional sebuah komunitas.

Tidak sedikit jurnalis senior yang ikut di sini. Saya mungkin tergolong paling muda. Sebab umumnya mereka memiliki pengalaman jurnalistik di atas lima tahun lamanya. Walau begitu, setiap individu memberikan respek yang sama terhadap berbagai usia. Saya jadi ingat iklan sebuah rokok (Sampoerna A Mild) di TV: “Belum Tua Belum Boleh Bicara”, dan saya tertawa sendiri.

Bibian, teman sekamar saya bertanya, “What its that funny girl?” , “Oh its okay..so many things pass away in my head, I wondering you wear something like me,” jawabku menggodanya. “What is it,” ia penasaran. “Adaaa deeehh,” ia makin penasaran. Kami tertawa.

Serius tapi santai. Kami juga diajak memikirkan dunia. Kami diminta membuat daftar nilai yang patut dianut seseorang terhadap berbagai persoalan yang ada di dunia ini. Untuk menjunjung tinggi equalitas, persamaan dalam memperoleh kesempatan bagi semua kalangan, keindahan dan kelestarian lingkungan di bumi, dan kebebasan dari perang dan konflik. (www.safitrirayuni.blogspot.com)

1 comment:

Put said...

is it me or lo lupa ada teman dari Vanuatu yang bernama Ricky? Huaiehaihaha..